Lawung dan Padi

Di beberapa kegiatan yang mengundang saya, biasanya ada penanda budaya. Sama seperti di Bali, ada tari Penyambutan ‘Payembrama’ yang dipersembahkan kepada undangan, sebagai bagian mengenalkan dan menghormati tamu. Bisa dirangkaikan dengan pengalungan bunga dan sejenisnya.
.
Di beberapa tempat yang mengundang saya, hal yang sama dilakukan juga. Di Vietnam, Kamboja, atau Thailand, tarian adalah cara yang digunakan untuk menghormati tamu-tamunya. Di U.S., saya diajak makan snack bites sambil ngobrol berdiri. Di Belanda, saya diajak jalan kaki beberapa blok menuju restoran sederhana tapi lux, sambil melihat para pengendara sepeda dan perahu yang parkir di sudut dan pinggir kanal. Di Australia, BBQ di salah satu sudut park dekat rumah sambil ngobrol adalah cara sahabat-sahabat saya menyambut dan menghargai.
.
Di Jambi, selain tarian, ada prosesi dimana saya harus menggigit pinang. Ini mirip dengan kotak ‘nginang’ (aktivitas mengunyah buah pinang dan sirih) Mbah saya dulu. Di Jawa Timur, seperti Banyuwangi, batik Osing menurut saya memberi kesan tersendiri, selain makan nasi pecel Ayu di Rejosari Glagah hehe… Ada banyak lagi pengalaman yang bisa saya ceritakan lain kali.
.
Ini tentu bukan tentang buta akan penghormatan atau sejenisnya. Tapi ini sungguh tentang membukakan wawasan sebagai warga dunia yang beragam. Hal ini penting saya pikir agar kita bisa berkiprah unggul positif dan berkontribusi konkrit dalam kehidupan kita di level apapun yang kita mampu. Tentunya, sambil tetap menunduk padi.
.
Foto: Pemakaian Lawung di IAIN Palangkaraya
.
#novaera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s