These are some media coverages throughout my career journey. Just to keep something small to cherish later on.


2021


Untuk arsip. Tulisan ini diambil dari Official Web Universitas Pakuan: https://fkip.unpak.ac.id/news/103-a-one-day-tefl-national-webinar-emergency-remote-teaching-challenges-creating-activities-and-facilitating-learning-english-language-education-study-program-fkip-universitas-pakuan

On January 15, 2021 (Wed.), a TEFL National Webinarwith Dr. Gumawang Jati, .M.A. (President ofiTELL) and Made Hery Santosa, Ph.D (Director of Program Development of iTELL) held at English Language Education Study Program, FKIP, Universitas Pakuan. Dr. Entis Sutisna, M.Pd, the Dean of Faculty of Teacher Training and Educational Sciences of Pakuan university opened the webinar. Dra. Atti Herawati, M.Pd. served as both the coordinator of the event during preparations and the moderator on the day. A total of 194 participants all over Indonesia that consist of teachers, lecturers, and university students, attended the webinar. The workshops with TEFL course programme have been held annually, but this year workshop is different in that it took place online via a Zoom meeting in response to the spread of COVID-19.

The webinar proceeded first with Dr.Gumawang Jati noting how he reacted and felt about theteaching and learning processduring the pandemic. He responded to questions about what possible activities to facilitate students learning at home-based learning mode and how teachers facilitate their students learning throughout the mode. Dr. Gumawang Jati narrated today’s world beset by educational technology applications, and in particular, the various home-based activities that have facilitated students learning in the context of schools more broadly, and particularly higher education, based on his own teaching experiences and from a TELL standpoint. However, he also noted the emergency inherent in discussing all of today’s problems by connecting them to remote learning and argued for the importance of looking at the various evidences that have been developing in globalacademic society recently (particularly since the turn of the millennium) in accordance with instructional technology in education.

The webinar talks also turned to the four pillars for considering remote teaching in pandemic time. It refers to Mr. Made Hery Santosa’s talk as the second speaker of the webinar. He pointed out the pillars as follows: 1) new paradigm of being able to witness and come to understand remote teaching, 2) learning environment and learning dimensions, 3) strategies employed during teaching in pandemic time, and 4) assessment distributed in response to home-based learning activities. He further noted that coming into contact with various educational technology should also be done through the exploration of history and frequently mentioned the importance of looking back at the preposition of “technology is only a tool to help teachers and/or course facilitators in the teaching and learning process, thus structured instructions play a must in it”. This preposition touched upon Mr. Hery’s career as a researcher, which he has developed by gazing broadly at remote teaching models now and deeply at learning activities and skilfully weaving both into his works.

The planned three-and-a-half hours for the event seemed to pass in a blink of an eye before the webinarwas concluded.

Webinar Overview

Date and time: January 15, 2021 (Wed.), 08:00 am to 11:30 am

This year’s webinar was held online, connecting any regions in Indonesia, because of COVID-19.

■See the FKIP YouTube Channel for clips of Mr. Gumawang Jati and Mr. Made Hery Santosa speaking on the day of the event at https://m.youtube.com/watch?v=SCewFV0hfI8


2020


Untuk arsip. Tulisan ini diambil dari Official Web UNIMED tentang International Web Seminar Forum Ilmiah FBS: https://www.unimed.ac.id/2020/06/19/ribuan-peserta-ikuti-international-web-seminar-forum-ilmiah-fbs-unimed/

Ribuan Peserta Ikuti International Web Seminar Forum Ilmiah FBS UNIMED

rektor-dan-peserta

Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan mengadakan International Web Seminar of Forum Ilmiah FBS dengan tema “Coping With Systemic Changes of Education in New Normal Era in South-East Asian Countries Challenges, Obstacles, and Solutions” diadakan melalui online dengan aplikasi Webinar Zoom dan Live Youtube, Jum’at (19/06).

Webinar ini mengundang narasumber dari luar negeri dan dalam negeri, yakni Thatsanaphan Phaisannan, Ph.D (Director of Language Centre Phetchaburi Rajabhat University Thailand), Hafizan Mat Som, Ph.D. (Deputy Vice Chancellor of Academic and International (University College of Yayasan Pahang Malaysia), Made Hery Santosa, M.Pd., Ph.D (Universitas Pendidikan Ganesha, Undiksha Bali), Dr. Abdurrahman Adisaputra, M.Hum, (Dean of Faculty of Language and arts Unimed) dan Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D. (President of Association of Language Teachers in South-East Asia – Universitas Negeri Medan). Prof. Dr. I Wayan Dirgeyasa, M.Hum, (Ketua Forum Ilmiah FBS).

Rektor Unimed Dr. Syamsul Gultom, SKM, M.Kes., langsung membuka seminar ini, bersama Dekan FBS Dr. Abdurrahman Adisaputra, M.Hum., Wakil Dekan, ratusan dosen di lingkungan FBS Unimed dan ribuan peserta dari berbagai daerah dalam negeri maupun luar negeri yang berlatarbelakang dosen, peneliti, praktisi dan mahasiswa.

Rektor Unimed Dr. Syamsul Gultom, SKM, M.Kes. menyampaikan pada webinar, “new normal adalah suatu pola hidup dimasa pendemic covid 19 yang kita jalani dengan menerapkan standar protocol kesehatan khususnya dalam bidang pendidikan. Untuk itu sangat penting bagi negara serumpun untuk berbagi informasi, bagaimana mengadapi perubahan sistem pendidikan dan tantangan, hambatan yang dihadapi serta solusinya sehingga pendidikan tetap berjalan dengan efektif. Negara-negara asia tenggara secara umum sama, namun setiap negara tetap memiliki ciri dan karakteristik yang berbeda seperti jumlah penduduk, luas wilayah, sistem pendidikan, dan nilai budaya. Untuk itu sangat penting bagi negara serumpun untuk berbagi informasi, bagaimana mengadapi perubahan sistem pendidikan dan tantangan, hambatan yang dihadapi serta solusinya sehingga pendidikan tetap berjalan dengan efektif. Semoga kegiatan ini bermanfaaat untuk kita semua, dan menambah wawasan dan pengalaman bagi kita bersama”.

Dr. Abdurahman Adisaputera, M.Hum, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada pak Rektor yang telah membuka kegiatan kami ini dan memberikan sambutan yang sangat bagus. Semoga dukungan pak Rektor akan terus memacu kami untuk aktif melakukan kegiatan kajian akademik yang lebih baik lagi. Saya juga berharap agar Forum Ilmiah FBS yang baru terbentuk ini bisa terus kompak dan aktif melakukan kegiatan yang berdampak baik bagi peningkatan kinerja dan prestasi dosen, sehingga mendukung kinerja akademik di Prodi dan perkuliahan di kelas. Terima kasih saya sampaikan kepada Bapak/Ibu narasumber atas kesediaannya berbagi kepada kami, semoga hubungan baik ini akan terus kita tingkatkan.

Hafizan Mat Som, Ph.D. pada paparannya menyampaikan tentang proses pembelajaran New Normal di Malaysia, ” Kami mengembangankan materi yang persuasif, interaktif dan menarik dengan menerapkan mode pembelajaran online penuh, platform gratis digunakan video dibuat, materi online dikembangkan pelatihan online dihadiri Dosen sebagai pendidik.”

Thatsanaphan Phaisannan, Ph.D juga menjelaskan tentang prespektif belajar mengajar pada new normal, “Menurut saya, itu adalah cara yang lebih baik bagi guru untuk memberikan siswa pelajaran dengan menggunakan teknologi tidak hanya e-learning tetapi juga semua jenis perangkat elektronik untuk mendukung dalam belajar mengajar.”

Prof. Amrin Saragih dan Made Hery Santosa, Ph.D, dalam paparannya menyampaikan beberapa gagasan yang bisa dilakukan dalam pendidikan di masa new normal ini. Paparan pakar bahasa dari Unimed dan Undhiksa ini menyoroti kesiapan proses pendidikan dalam mengoptimalkan berbagai aplikasi dalam jaringan, seperti e-learning, zoom, google classroom, media sosial dan lainnya. Karena pemerintah sudah memutuskan proses perkuliahan di perguruan tinggi harus kita lakukan dalam jaringan hingga akhir tahun, maka kita berharap agar pemerintah, pimpinan perguruan tinggi dan semua pihak dapat mempersiapkan sarpras pendukung. Sehingga dalam proses perkuliahan nantinya akan lebih maksimal dan mencapai tujuan yang diharapkan. (Humas Unimed/bg).


Dari Wawancara dengan TVRI Nasional tentang Membangun Generasi yang tidak hanya unggul namun juga berkarakter sejak dini. Ada kegiatan-kegiatan pendidikan yang saya lakukan, keterampilan abad 21, kearifan lokal, inovasi, merdeka belajar, literasi, dan karakter. Untuk arsip.

Semoga bermanfaat ya 🙂


Penguatan Kompetensi Guru Jelang Normal Baru lewat Seri Webinar, Ini Linknya

KOMPAS.com – Memasuki tahun ajaran baru di era normal baru pendidikan, tantangan guru tidak menjadi lebih ringan. Sebaliknya, pascabelajar dari rumah (BDR) selama pandemi, guru kian dituntut memiliki kompetensi lebih dari masa “normal”. Mendukung penguatan kompetensi guru, Eduversal Indonesia, di bawah divisi pendidikannya Educamp, mengadakan program pelatihan online untuk para guru bertajuk “Development of Teaching Proficiency (DTP)”. DTP merupakan program rutin Eduversal untuk para guru yang diadakan secara rutin setiap 6 bulan sekali. Khusus pada masa pandemi ini DTP dilaksanakan secara daring dengan nama “Development of Teaching Proficiency 2020 – Webinar Series”. Program diadakan selama 6 hari mulai 29 Juni – 4 Juli 2020. Di akhir setiap sesi, akan ada sertifikat untuk setiap pesertanya. Program ini terbuka untuk semua guru baik dari Indonesia maupun dari luar Negeri.

“Tantangan utama pada era new normal ini adalah tentunya pemaksimalan fungsi teknologi. Pembelajaran daring tidak semudah yang dibayangkan. Konsistensi guru untuk terus menggali pengetahuan adalah kuncinya,” tegas Ade Kiki Ruswadi, Pelaksana Komite DTP. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak pernah terlepas dari kualitas tenaga pendidiknya. “Untuk membentuk pola pikir siswa yang baik, seorang pendidik selayaknya tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran di kelas, melainkan harus bisa menjelaskan tujuan dari pembelajaran dalam proses mengajarnya,” jelasnya. Ia menyampaikan seorang guru hendaknya terus meningkatkan kemampuan dan metode mengajar secara berkala sehingga sesuai dengan kondisi lingkungan siswa. “Banyak dari kita masih menganggap online learning itu hanya ‘memindahkan’ kelas dari tatap muka ke zoom dan aplikasi lain. Jadi guru hanya memaparkan materi secara langsung aja. Ini bisa membuat siswa cepat bosan,” ujarnya. Salah satu keluhan dari pembelajaran daring semester lalu adalah terlalu banyaknya tugas yang diberikan kepada siswa. Guru perlu betul-betul memperhatikan volume penugasan terhadap anak-anak sesuai dengan tujuan pembelajaran dan tepat sasaran. “Di sisi lain, pembelajaran seperti ini belum memberikan siswa untuk berinteraksi dengan materinya, dan berinteraksi dengan materi, guru, dan temannya,” papar Kiki.

Memanfaatkan teknologi

Lebih jauh dijelaskan, online learning bukan diukur dari seberapa banyak teknologi digunakan, tapi efektifitas penggunaannya. “Ada banyak aspek online learning yang harus diperhatikan seperti: perencanaan pembelajaran, skill presentasi verbal maupun nonverbal, metode ketika memberikan pertanyaan,” jelas Kiki. Setelah guru bisa beradaptasi dengan teknologi, selanjutnya guru pun harus menyiapkan siswa agar terbiasa dengan kondisi pembelajaran secara virtual sehingga proses belajar mengajar bisa lebih efektif dan efisien walaupun dilakukan secara daring.

Menjawab hal itu, peserta DTP 2020 Webinar Series akan mendapatkan beberapa topik program:

Classroom Assessment oleh Yuli Rahmawati, Ph.D,

Ways to Increase Critical Thinking oleh Dr. Muhammad Suryanegara, S.T,. M.Sc,

Retaining Online Learners oleh Made Hery Santosa, Ph.D,

Sparking Student’s Creativity oleh Ganjar Widhiyoga, Ph.D,

Differentiated Instructions oleh Munasprianto Ramli Ph.D,

Online Learning Time Management oleh Prof. Dr. Wisnu Jatmiko.

Semua topik-topik di atas akan disampaikan dalam bahasa Inggris oleh narasumber yang berpengalaman. Untuk mendaftar dan mempelajari lebih lanjut tentang program DTP dapat mengunjungi laman web https://educamp.co.id.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Penguatan Kompetensi Guru Jelang Normal Baru lewat Seri Webinar, Ini Linknya”, Klik untuk baca: https://www.kompas.com/edu/read/2020/06/24/195533771/penguatan-kompetensi-guru-jelang-normal-baru-lewat-seri-webinar-ini-linknya?page=all.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo


2019


Dari Indonesia Technology Enhanced Language Learning (iTELL). Untuk Arsip. Tulisan asli ada di: https://itell.or.id/yuk-nge-mall-belajar-bahasa-inggris-bali-dan-jepang-dengan-teknologi-di-era-digital/

Screen Shot 2019-09-05 at 18.58.53

Yuk Nge-MALL: Belajar Bahasa Inggris, Bali, dan Jepang dengan Teknologi di Era Digital

Jurusan Bahasa Asing, Universitas Pendidikan Ganesha mengundang saya untuk belajar dan berbagi bersama rekan-rekan guru bahasa Inggris, Bali, dan Jepang dalam kegiatan Pengabdian pada Masyarakat. Jurusan ini baru terbentuk dan rasanya tepat sekali melakukan kegiatan ini dengan mengajak semua bahasa terkait di dalamnya. Kegiatan ini mengambil topik “Melek Digital dengan Pemanfaatan Screencasting dalam Pembelajaran Bahasa.” Frasa melek digital ini penting karena ia menekankan hal yang berbeda dan lebih dalam lagi dari salah satu keterampilan inti di era disruptif dan 4.0 ini.

Saat kegiatan, saya bersama rombongan, yaitu Dr. Dewa Putu Ramendra, M.Pd. (Ketua Jurusan), Dr. Luh Putu Sri Adnyani, M.Pd. (Sekretaris Jurusan), dan Santi (Tenaga Kependidikan) menuju SMK N 1 Sawan, sebuah sekolah kejuruan yang terletak sekitar 30 menit dari kampus kami. Sampai disana, tak disangka saya bertemu banyak rekan dan mahasiswa PPL juga. Sekolah ini terbilang baru jadi senang mengetahui banyak teman-teman dan kolega ada disini. Ketika para peserta datang, kami juga senang karena banyak kenalan, mulai dari mahasiswa dulu atau kolega. Secara pribadi, saya melihat dari perjalanan saya berkegiatan seperti ini, sudah mulai banyak kolega-kolega milenial berpartisipasi. Ini maksudnya bukan hanya tentang umur, namun juga keinginan belajar hehe…

Seperti biasa, saya lebih banyak menekankan aspek melek digital ini dengan mengajak semua terlibat bermain, beraktivitas maksimal, dan merefleksi mendalam di setiap kegiatan di pelatihan ini. Mereka berperan banyak dan dinamis. Ada saatnya sebagai siswa namun cepat saya tarik terkadang untuk berperan sebagai guru. Sehingga kami semua tidak merasa saling menggurui, namun lebih pada bersama-sama meningkatkan kapasitas diri dengan santai, menyenangkan, dan sekaligus belajar mendalam.

Teknologi saya selalu tempatkan paling akhir dengan menekankan bahwa ia berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran. Screencasting, yaitu aktivitas merekam layar, baik laptop atau HP, menjadi hal dominan di kegiatan ini. Namun, tentu saja integrasi berbagai aktivitas dan teknologi selalu dilakukan. Penggunaan freeware seperti Screencast-o-matic saya berikan namun tetap membuka ruang alternatif lain, misalnya Screencatify, Jing, Camtasia, Quick Movie Maker, Movavi (untuk laptop) atau AZ Screen Recorder atau DU Screen Recorder (untuk smartphone) bisa digunakan. Saya juga menekankan pemanfaatan program atau aplikasi gratisan, bukan apa-apa, saya tahu dari wajah-wajah dan ciri kita hehe… Bukaan, maksudnya, kita selalu bisa memanfaatkan sesuatu secara maksimal dan lebih menekankan pada aspek melek digital yang sudah disampaikan sebelumnya tadi.

Jika kita paham bagaimana memanfaatkannya, teknologi apapun – baik yang level rendah sampai canggih – akan maksimal dan pembelajaran bisa lebih efektif. Peran guru selalu paling penting sebagai pihak yang memahami isi materi dan paham bagaimana menjalankan pembelajaran untuk materi tersebut. Sisi teknologi adalah bonus dan jika semuanya diintegrasikan dengan tepat, harapannya pembelajaran bisa baik pada konteks tertentu. Belajar dengan mobile technologies bisa jadi menyenangkan deh. Coba saja kalau tidak percaya hehe…

Semoga bermanfaat ya ^^

@mhsantosa 23082019


Dari Indonesia Technology Enhanced Language Learning (iTELL). Untuk Arsip. Tulisan asli ada di: https://itell.or.id/belajar-bahasa-bali-dengan-teknologi-bisa-keren-lho/

Screen Shot 2019-09-05 at 18.56.24

Belajar Bahasa Bali dengan Teknologi Bisa Keren Lho!

Saya sedang cek in di bandara di Bandung, ketika satu telepon masuk. Saat itu, saya sedang in the middle of check in process, jadi belum bisa menerima panggilan. Biasanya juga, saya jarang menerima telepon terutama dari Whatsapp, apalagi dari nomor yang baru. Tapi, feeling saya bilang ini telpon penting. Saya kemudian menelpon balik dan ternyata ada Ibu Mas di ujung telpon sana, memperkenalkan diri sebagai pengelola di Jurusan Bahasa Bali, Insitut Hindu Dharma Negeri (IHDN), Bali. Beliau ingin mengundang saya belajar bersama disana. Saya cek agenda dengan cepat dan sampaikan bahwa jadwal yang ditawarkan masih tersedia.

Kegiatan ini adalah dalam bentuk workshop, dengan penekanan pada pemanfaatan teknologi pada bidang pembelajaran bahasa Bali. Ini menjadi menarik, karena 4 tahun terakhir ini, setelah sekian lama belajar di area pembelajaran berbasis teknologi, banyak bidang-bidang ingin belajar juga dan untungnya karena teknologi bersifat terapan, ia bisa masuk kemana saja. Dengan pemahaman lebih pada literasi digital, tentunya. Saya banyak bertanya tentang situasi di lapangan agar bisa menyesuaikan dengan mereka.

Pada saat kegiatan, saya berbincang banyak mengenai konsep belajar menggunakan teknologi, dengan menekankan pada pemanfaatan efektif teknologi sebagai alat belajar, bukan sumber utama pembelajaran. Saya memberi contoh mengajar dengan teknologi dan semua peserta mengikuti proses pelatihan dengan antusias. O ya, kegiatan ini diikuti tidak saja oleh para dosen dari bidang bahasa Bali saja, namun juga oleh prodi lain terkait, seperti Agama Hindu dan PAUD, dan juga tidak di lingkup IHDN saja, namun juga oleh Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAHN) Mpu Kuturan, dari Singaraja.

Di kegiatan ini, saya berbagi tentang bagaimana menggunakan teknologi – mulai dari yang sifatnya low tech (seperti Cartoon MakerVideo Maker, atau Aplikasi sederhana) sampai high tech (seperti Virtual Reality atau Artificial Intelligence). Khusus untuk VR, kebetulan saya bersama tim Susila Lan Darma (SLD) baru selesai mengembangkan satu aplikasi berbasis VR untuk pembelajaran Bahasa Bali. Namanya Kiwa Tengen, artinya ‘Kiri Kanan’. Aplikasi ini berbasis labirin dimana siswa bermain berpasangan dan belajar praktek bahasa Bali saat membacakan petunjuk dan bermain aplikasinya. Produk ini juga saya ikutkan lomba di Diskomfis Pemprov Bali dan syukurlah bisa menjadi salah yang menerima penghargaan.

Kembali ke pelatihan, terkait penerapan dalam kegiatan ini, para peserta belajar diajak mengembangkan media dan materi pembelajaran menggunakan komik dengan mengedepankan terbukanya kelas yang membuat siswa berpikir dan belajar, sekaligus kelas yang menyenangkan. Dengan belajar dan diskusi bersama tentang bagaimana pemanfaatannya dalam pembelajaran bahasa Bali, diharapkan para peserta bisa paham dan tentu menyesuaikan dengan kondisi masing-masing. Penekanannya adalah lebih pada literasi akan teknologi bukan hanya terampil menggunakan teknologi.

Ini menjadi penting, sekaligus unik. Pemprov Bali saat ini sedang giatnya menekankan pentingnya aspek kearifan lokal – seperti budaya, agama, bahasa, adat, dan lain-lain – dari Bali untuk dilestarikan. Setiap Kamis dan hari raya Purnama, Tilem dan hari raya besar, semua pihak pegawai negeri, siswa, guru dihimbau menggunakan pakaian adat Bali. Sebagai bagian dari toleransi, yang lain diharapkan menyesuaikan. Bahasa Bali khususnya, sangat juga diminta pelestariannya. Oleh karenanya, sebagai bagian dari pelestarian dan pemertahanan bahasa daerah, kegiatan ini penting. Semoga bermanfaat ya ^^

@mhsantosa 30072019


Dari Indonesia Technology Enhanced Language Learning (iTELL). Untuk Arsip. Tulisan asli ada di: http://itell.or.id/menjadi-guru-tangguh-di-era-pendidikan-4-0/

Screen Shot 2019-07-31 at 08.09.51

Menjadi Guru Tangguh di Era Pendidikan 4.0

SMP Satu Atap Negeri 1 Sukasada, Buleleng, Bali mengundang Made Hery Santosa untuk berbagi mengenai isu-isu dan perkembangan terkini dalam pembelajaran dan bagaimana membumikan konsep-konsep terbaru global ke dalam ruang-ruang kelas yang situasi dan kondisinya sangat beragam. Kegiatan ini dilakukan bersama rekan-rekan guru dari SMP Satu Atap Negeri 1 Sukasada dan beberapa rekan lainnya, seperti dari SMK Taruna Mandara di Lovina dan Pegayaman. Semuanya belajar bersama dalam kerangka peningkatan profesionalisme diri sebagai guru di era disrupsi dan revolusi industri 4.0 ini.

Ketua Panitia, Siti Lailatul Firdaus, menyampaikan bahwa pentingnya rekan-rekan guru, khususnya yang mengajar di lokasi seperti sekolah mereka mendapat informasi terkini dan penyegaran utamanya tentang perkembangan global dan strategi pembelajaran untuk dibumikan di konteks kelas masing-masing. Perlu diketahui, lokasi sekolah ini tidak berada di jalur utama jalan raya. Untuk mencapai sekolah, perlu menembus jalur setapak naik turun di kebun cengkeh warga sekitar sekolah. Seru sekali! Bapak Kepala Sekolah, Nyoman Darmada menekankan, dengan penduduknya yang 100% muslim di mayoritas kultur Hindu Bali, menjadikan tempat ini menarik. Jumlah siswanya tidak sangat banyak dan bergantung dengan penghasilan kebun cengkeh. Dengan kondisi seperti ini, tentu akan banyak sekali hal menarik yang bisa dilakukan.

Sesuai dengan topik yang diajukan, ada kata-kata kunci yang menjadi penekanan dalam sesi pelatihan ini, yaitu Guru, Tangguh, dan Era Pendidikan 4.0. Semua guru diajak berdiskusi, bermain peran, berkreasi dengan benda-benda sederhana di sekeliling mereka, belajar berpikir kritis, berkomunikasi yang efektif, dan berkolaborasi antar sesama guru dengan kerangka praktik langsung. Dalam kreativitas, guru diajarkan berkreasi dengan koran, gunting, dan lem. Kolaborasi dan kerjasama menjadi keterampilan lain yang diikutkan dalam aktivitas ini. Berpikir kritis diberikan dengan cari melatihkan kebiasaan memberi data atau bukti setiap pernyataan dan kemauan untuk membuka mindset dengan keberagaman sudut pandang. Literasi digital juga disisipkan sebagai bagian dari perkembangan terkini. Pembuatan hasil belajar siswa-siswi dalam bentuk poster atau buku cerita digital bisa menjadi alternatif menyisipkan keterampilan teknologi dalam pembelajaran di abad 21.

Pelatihan ini menekankan pada bagaimana guru memilih konten materi (konten) yang sesuai, bagaimana guru mengemas dan menyampaikan materi dengan baik (pedagogi), dan bagaimana guru menyisipkan aspek teknologi dan literasi digital relevan dalam pembelajaran di kelas mereka masing-masing. Semuanya menjadi kesatuan langkah-langkah pembelajaran yang asyik, menyenangkan, meningkatkan pemahaman dan kemampuan, baik guru dan siswa, karena semuanya terus belajar. Pembelajaran selalu terpusat pada siswa dan guru menjadi fasilitatornya. Semua ini dilakukan dengan santai, penuh keriangan, bermain, namun tanpa sadar konsep-konsep dasar pendidik dan pembelajaran tertanam dan mengikuti perkembangan terkini. Peserta memiliki prinsip tentang bagaimana menjadi pendidik yang siap dengan keberagaman dan perubahan, serta memiliki kemampuan membumikan konsep-konsep besar dalam konteks kelas masing-masing. Diharapkan, hal-hal tersebut nantinya bisa ditularkan ke siswa-siswi di sekolah tersebut dan meluas ke rekan-rekan lain.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para peserta dengan harapan mereka bisa belajar kembali sambil menerapkan hasil pelatihan yang diperoleh sebelumnya. Semoga perspektif tentang bagaimana menjadi guru yang tangguh di tengah cepatnya perubahan dan beragamnya informasi sudut pandang seperti saat sekarang mampu membuat para peserta pelatihan menjadi guru yang tangguh di era revolusi industri 4.0, khususnya di bidang Pendidikan.

Terima kasih, semoga bisa bertemu kembali ^^

@mhsantosa 12072019


Dari Indonesia Technology Enhanced Language Learning (iTELL). Untuk Arsip. Tulisan asli ada di https://itell.or.id/tren-dan-isu-dalam-pembelajaran-berbasis-teknologi-mau-meneliti-apa/

Tren dan Isu dalam Pembelajaran Berbasis Teknologi: Mau Meneliti Apa?

Screen Shot 2019-07-02 at 19.27.04

Pesatnya perkembangan teknologi mendisrupsi berbagai bidang, termasuk Pendidikan. Oleh karena itu, teknologi hendaknya bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk hal-hal positif dan peningkatan kapasitas diri. Politeknik Negeri Bali, melalui Pusat Bahasa, mengundang Made Hery Santosa untuk berbagi dan belajar bersama mengenai Blended Learning, khususnya pada tren terbaru dan isu-isu yang bisa muncul dan diteliti dalam konteks pembelajaran di Pendidikan Kejuruan seperti Poltek. Ini kedua kalinya Poltek mengundang beliau. Sebelumnya, beliau berbagi mengenai pembuatan media pembelajaran berbasis Kartun dengan Cartoon Story Maker. Penekanannya tetap aspek pedagoginya, yaitu bagaimana proses pembelajaran terjadi, bukan pada teknologinya semata.

Pada kesempatan kedua ini, sebanyak 50 dosen dari berbagai Jurusan di Poltek dengan komposisi dosen yang beragam juga berbagi dan belajar mengenai tren dan isu terbaru mengenai pembelajaran berbasis ‘Blended’ dengan penekanan pada potensi penelitiannya. Beliau berbagi mengenai munculnya tren terbau pembelajaran berbasis teknologi, seperti Artificial Intelligence (AI), Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), Mixed Reality (MR), Gamification, Flipped Learing, dan Mobile Assisted Language Learning (MALL). Hal-hal lain berkaitan teknologi, seperti E-Learning, Blogs, masih tetap disinggung.

Berkembangnya robot-robot berbasis AI, seperti EssayBot, QuillBot, Orai, atau 360 VR media, Android Package Kit (APK) Apps, Duolingo, dan lainnya memberi ruang belajar seluas-luasnya bagi siapa saja, termasu dosen dan mahasiswa. Jika dosen tidak memanfaatkannya dan menekankan pada pentingnya proses berpikir dan memahami, pembelajaran akan masih berada pada keterampilan berpikir level rendah, seperti proses menghafal saja. Semua perkembangan, aplikasi, dan media berbasis teknologi hendaknya dihubungkan pada kerangka-kerangka pembelajaran, khususnya yang berbasis teknologi, seperti Konstruktivisme, Konektivisme, atau Technology Pedagogical and Content Knowledge (TPACK), dan lainnya yang relevan.

Dengan memahami konsep dan prinsip pedagogis pembelajaran berbasis teknologi, pembelajaran di kelas akan bisa lebih memberi ruang-ruang berpikir bagi mahasiswa dan pembelajaran bisa bermakna. Perlu waktu memang, namun dengan contoh dan langkah-langkah pembelajaran jelas, semoga bisa dipahami. Satu hal yang penting dilanjutkan adalah praktek konkrit dan kalau bisa dirangkaikan dalam bentuk penelitian sehingga bukti-bukti empiris mengenai konteks Blended Learning ini bisa mendapat basis data dan hasil yang kuat dan menambah khazanah keilmuan bidang ini

Terima kasih dan semoga bisa bertemu kembali ^^

@mhsantosa
17052019


Untuk arsip. Tulisan asli bisa dibaca di: http://unpar.ac.id/pip-unpar-gelar-workshop-flipped-classroom/

PIP Unpar Gelar Workshop Flipped Classroom

Made Hery - 12

Salah satu ciri khas metode pembelajaran adalah adanya interaksi antara ‘guru’ dengan ‘murid’, dimana guru sebagai pusat memberikan ilmu secara terarah kepada para murid. Mayoritas waktu dalam kelas akan diisi oleh guru dengan memberikan materi pengajaran, yang akan diresapi serta ditanggapi lewat pertanyaan maupun diskusi.

Tetapi, dengan adanya perubahan dalam masyarakat, termasuk kemajuan teknologi pembelajaran, maka pola pembelajaran dalam kelas pun mulai berubah. Salah satu inovasi pembelajaran yang kini tengah dikembangkan adalah ‘flipped classroom’, secara harfiah berarti kelas terbalik.

Menggunakan model ini, guru sebagai fasilitator dan mentor mengajak peserta didik untuk ‘terlibat’ lebih jauh dalam penggalian ilmu. Hal ini dilakukan dengan mengubah metode pembelajaran dengan memindahkan materi pembelajaran, yang sebelumnya disampaikan di dalam kelas, keluar lewat berbagai platform seperti video dan kelas daring. Selanjutnya, kegiatan dalam kelas diisi dengan pendalaman konsep dan kegiatan lain, sehingga menciptakan makna lebih dalam proses pembelajarannya.

Untuk memahami konsep dan cara kerja flipped classroom, Pusat Inovasi Pembelajaran Universitas Katolik Parahyangan (PIP Unpar) menyelenggarakan Workshop Flipped Classroom pada Senin (24/6). Kegiatan ini dipandu oleh Made Hery Santosa, Ph.D dari Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali.

Selama sehari penuh, para dosen yang menjadi peserta workshop diajak untuk merancang implementasi flipped classroom dalam kegiatan perkuliahan yang mereka ampu. Mulai dari pengenalan konsep hingga pembuatan konten dan aktivitas pembelajaran serta pemilihan platform pendukung juga penyusunan rencana pekuliahan, seluruh materi disampaikan secara ringan namun berbobot, diselingi diskusi dan dinamika kelompok.

Mendukung tindak lanjut pelaksanaan flipped classroom di Unpar, para peserta workshop diajak untuk merancang flipped classroom untuk diimplementasikan secara nyata. Rancangan-rancangan terbaik yang telah diseleksi akan mendapatkan hibah inovasi pembelajaran yang dikelola oleh PIP Unpar.


Dari Indonesia Technology Enhanced Language Learning (iTELL). Untuk Arsip. Tulisan asli ada di https://itell.or.id/flipped-learning-atau-flipped-classroom-pembelajaran-berbasis-teknologi-dengan-generasi-post-millenial/

Flipped Learning atau Flipped Classroom? Pembelajaran Berbasis Teknologi dengan Generasi Post Millenial

Screen Shot 2019-07-02 at 19.29.16

Pusat Inovasi dan Pembelajaran (PIP) Universitas Katolik Parahyangan, Bandung baru-baru ini mengundang Made Hery Santosa untuk berbagi mengenai Flipped Learning. Bersama 40 dosen dari berbagai Jurusan, beliau berbagi dalam kegiatan workshop satu hari tentang konsep Flipped Learning dan Pembelajaran berbasis Flipped Learning di konteks pembelajaran masing-masing.

Agus Sukmana, selaku Kepala PIP menekankan bahwa tren seperti Flipped Learning sangat diperlukan di konteks Unpar mengingat kondisi kelas-kelas di Unpar. Pada beberapa mata kuliah, kelas bisa menjadi sangat besar, bisa berisikan sampai 70 mahasiswa, yang mengambil suatu mata kuliah tertentu. Tentu ini adalah tantangan bagi semua pihak. Dosen pasti tidak mudah mengelola kelas seperti ini. Jika tujuannya adalah agar mahasiswa memahami materi, jelas pembelajaran model konvensional seperti metode ceramah, buku, dan menjawab pilihan ganda tidak memberi ruang berpikir cukup bagi pembelajar.

Ketika menyampaikan materinya, Made Hery Santosa memulai dengan modelling, yaitu mengajak semua peserta berpura-pura menjadi mahasiswa dan beliau menjadi dosennya. Peserta diajak belajar dengan model Flipped Learning dari awal sampai selesai suatu proses pembelajaran dan tujuan belajar. Konsep mendasar perlu diberikan dalam bentuk praktek langsung sehingga bermakna. Tentu penyesuaian tetap dilakukan menurut situasi masing-masing. Beliau menekankan juga beda Flipped Classroom dan Flipped Learning.

Jika Flipped Classroom adalah ‘membalik’ cara belajar dimana mahasiswa belajar konsep dan materi di rumah melalui media seperti video yang disiapkan sebelumnya, kemudian berdiskusi di kelas dan dosen menjadi fasilitator. Flipped Classroom bisa menuju Flipped Learning, namun tidak selalu harus dilakukan. Flipped Learning sendiri pasti melalui proses pembelajaran Flipped Classroom dan penenkanannya adalah pada pedagogi dan langkah-langkah pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Selain meminta mahasiswa belajar di rumah dengan instruksi dan pertanyaan-pertanyaan, di kelas, mahasiswa berdiskusi, kemudian berbagi, saling berkontribusi, bermain peran, melakukan curah ide, mendiskusikan di kelompok kecil sampai besar, sampai menunjukkan pemahamannya terhadap suatu konsep yang diajarkan dengan proses kreasi suatu proyek.

Misalnya, jika belajar tentang Sampah, medianya bisa video tentang Penanganan Sampah yang disampaikan dengan EdPuzzle, kemudian ada Formative Quiz, seperti Kahoot atau Quiziz, membuat Peta Pikir dengan Mind Node, kemudian berdiskusi dengan peran berbeda dalam berpasangan, bergrup kecil, dan bergrup besar, sampai presentasi hasil diskusi. Selanjutnya, untuk mengecek pemahaman, mahasiswa bisa diberi project berbeda, seperti membuat Meme, Poster, Infografis, Storybook, atau Video. Apapun project-nya, aspek pedagogis yang tertuang dalam langkah-langkah pembelajaran Flipped Learning jelas dan memberi pembelajaran bermakna bagi mahasiswa.

Workshop kemudian melatihkan dosen-dosen membuat media video menggunakan EdPuzzle dan Screencasting (misal menggunakan Jing, Camtasia, atau Screencast-o-matic). Terakhir, dosen membuat langkah-langkah pembelajaran berbasis Flipped Learning dalam mata kuliah masing-masing. Beliau berharap pelatihan ini bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi proses pembelajaran di Unpar dan untuk peningkatan kapasitas dosen-dosen di Unpar, Bandung.

Terima kasih, semoga bisa bertemu kembali ^^

@mhsantosa
24062019


FLIPPED CLASSROOM IN UNIVERSITAS PARAHYANGAN, BANDUNG

Web-Banner-Flipped-Classroom

Perkembangan dunia digital di era Revolusi Industri saat ini menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan. Selain itu, peserta didik saat ini dan mendatang adalah generasi milenial yang sudah dekat dengan teknologi digital. Lembaga pendidikan harus senantiasa melakukan inovasi dan kreativitas dalam merancang proses pembelajaran. Mengingat pentingnya inovasi dan kreativitas dalam merancang proses pembelajaran, Pusat Inovasi Pembelajaran Unpar mengajak Bapak/Ibu/romo untuk megikuti Workshop Flipped Classroom. Melalui workshop ini peserta diajak memahami dan mengaplikasikan metode pembelajaran Flipped Classroom untuk mendukung inovasi dan kreativitas dalam proses pembelajaran.  Kegiatan ini akan dilakasanakan pada:

Hari / TanggalSenin, 24 Juni 2019
WaktuPukul 08.00 – 16.00 WIB
TempatOperation Room, Lt.4, Gedung Rektorat, UNPAR
NarasumberMade Hery SantosaPh.D (Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali)

Read more about Flipped Classroom event here.


COMPUTER ASSISTED LANGUAGE LEARNING (CALL) 

Research Trends and Issues in AI, MALL, VR AR, Learning Technologies. Politeknik Negeri Bali.

PNB Poster

Read more here.
#ai #mall #mlearning #elearning#blended #mixedreality#DigitalLiteracy #edtech


Produk Aplikasi Virtual Reality “Animals of Nusantara.” Untuk arsip. Tulisan asli bisa dibaca disini. Versi lain ada di http://afifirawan.student.umm.ac.id/simaklah-sld-ciptakan-media-pembelajaran-bahasa-inggris-berbasis-virtual-reality/ dan https://blogs.uajy.ac.id/ejournal/2019/02/20/ini-dia-media-pembelajaran-bahasa-inggris-berbasis-virtual-reality-sld/.

SLD Ciptakan Media Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Virtual Reality

www.nusabali.com-sld-ciptakan-media-pembelajaran-bahasa-inggris-berbasis-virtual-reality
 

Sekelompok mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha yang menamai grupnya SLD (Susila Lan Dharma) menciptakan terobosan baru dalam dunia pendidikan melalui sebuah aplikasi mobile berbasis Virtual Reality (VR).

MANGUPURA, NusaBali
Tema Animals of Nusantara dipilih untuk mengajarkan Bahasa Inggris secara menyenangkan pada anak-anak usia sekolah dasar (SD) dan menengah pertama (SMP).Ditemui saat acara soft opening sebuah coworking space di bilangan Jimbaran, Badung, Sabtu (9/2) lalu, grup yang terdiri dari Made Agus Mandala Putra, 21, I Dewa Ayu Ogik Vira Juspita Banjar, 21, dan I Komang Agus Putra Adi Permana, 20, mengaku bahwa timnya terbentuk atas dasar sebuah perlombaan tingkat internasional yang pernah diikuti.“Tim ini terbentuk dari sebuah kompetisi yang informasinya disampaikan oleh Pak Hery (dosen), yaitu ajang SEAMEO Creative Camp 2018 yang diselenggarakan di online oleh Sekretariat SEAMEO yang berbasis di Bangkok, Thailand. Nah, salah satu sub lomba tersebut ada tentang pengembangan game dan pembelajaran menggunakan Virtual Reality (VR),” ungkap Mandala.Sementara, dikonfirmasi via WhatsApp, Made Hery Santosa, 39, selaku salah satu dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan sekaligus pembimbing tim SLD, mengungkapkan kontribusinya dalam perkembangan tim SLD. “Saya hanya membantu memberi informasi dan mewadahi ide dan proses berkreasi adik-adik dan astungkara, setelah melalui berbagai pengalaman baru, produk VR ini terwujud dan sudah tersedia di Google Play Store. Perlu disampaikan bahwa kami semua bukan ahli dengan latar belakang IT, namun dengan tekad kuat dan bantuan banyak pihak dan sumber belajar, kami bisa menghasilkan suatu produk pembelajaran berbasis VR ini,” papar Hery.Ide mengangkat tema Animals of Nusantara pun berangkat dari rasa prihatin terhadap binatang-binatang yang ada di Indonesia khususnya binatang yang dilindungi dan terancam punah, sehingga semakin jarang dilihat oleh anak-anak. Maka, SLD membawa kembali endemik tersebut ke dalam sebuah aplikasi mobile berbasis VR. Meski belum bisa meraih juara, namun perjalanan yang lebih panjang ternyata menanti ditapaki 3 sekawan ini.Mandala yang juga dipercaya untuk mengoordinir grup SLD mengungkapkan bahwa media pembelajaran dengan sarana VR ini memiliki peluang yang cukup besar di Bali, terutama Singaraja yang menjadi titik awal perjalanan mereka. Sejauh ini, mereka pun mengklaim bahwa grupnya yang pertama mengenalkan VR di Bali Utara.“Di Bali masih jarang yang menggunakan teknologi dalam media pembelajaran, dalam artian masih sebatas menggunakan CALL (Computer Asisted Language Learning), sedangkan sekarang sudah menggunakan MALL (Mobile Asisted Language Learning), yang mana siswa memanfaatkan ponsel pintar untuk belajar, dalam hal ini Bahasa Inggris,” sambung mahasiswa yang kini duduk di semester 8 itu.Pengerjaan media pembelajaran VR dituturkan menghabiskan waktu selama 4 bulan, sejak September hingga Desember 2018, di samping mereka juga harus berkutat dengan tugas-tugas kuliah. Agus yang jago dalam bidang komputer mengerjakan coding dengan memadukan berbagai asset (keseluruhan komponen yang digunakan di dalam aplikasi). Sementara, Mandala dan Ogik konsen di bidang pengembangan desain materi (konten-konten yang ada dalam aplikasi).

 

“Cara menggunakan aplikasi ini yang pasti download dulu, sudah dapat dicari di Google Playstore. Lalu, kita menerbitkan buku juga yang berisi aktivitas yang bisa dilakukan dalam aplikasi, misalkan reasoning atau stick it. Selain ada strateginya, tutorialnya, dan lesson plannya juga ada. Jadi, orang-orang yang download aplikasi ini dan masih bingung cara memakainya, bisa dilihat di bukunya,” jelas Ogik yang juga mengurus bagian lesson plan.

Meski terbilang baru, produk VR ini cukup digandrungi di kalangan pendidik dan mahasiswa di Buleleng. Hal ini membuktikan bahwa produk ini tepat sasaran, bahkan VR juga telah dipesan oleh kalangan dosen, guru-guru sekolah swasta dan negeri, dan beberapa mahasiswa yang digunakan untuk praktek mengajar dan bimbingan belajar pribadi. Namun meski demikian, ada pula tantangan yang dihadapi oleh grup SLD ini.

“Mungkin tantangan yang paling utama dalam pembuatan aplikasi ini terletak di pemerogramannya dan coding-codingnya. Kita masih belajar, memang saya ada basic di komputer, tapi untuk coding-coding seperti ini yang menggunakan Unity, C Sharp, dan Microsoft.NET untuk frameworknya, jadi ya masih belajar karena itu lumayan susah,” timpal Agus, salah satu tim SLD.

Selebihnya, kehadiran investor dan orang-orang yang mahir dalam bidang desain 3D sangat diharapkan oleh tiga mahasiswa sevisi ini. Mereka juga berencana akan membuat aplikasi-aplikasi lainnya yang dapat menunjang perkembangan pendidikan yang tentunya memanfaat teknologi sebagai nyawa. *cr41

 

Tulisan di Nusa Bali. Untuk arsip. Tulisan asli bisa dibaca disini.

Aplikasi Ini Bisa Bikin Kamu Lancar Berbahasa Inggris di Depan Umum

www.nusabali.com-aplikasi-ini-bisa-bikin-kamu-lancar-berbahasa-inggris-di-depan-umum
 
DENPASAR, NusaBali.com
Revolusi Industri 4.0 mensyaratkan kita semua agar bisa mengikuti perubahan dan memanfaatkan perubahan dengan efektif. Agar menjadi driver bukan sekedar passenger, seperti Prof. Renald Khasali sampaikan. Agar juga mengisi diri dengan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dunia global, seperti berpikir kritis dan inovatif, berjejaring, memecahkan masalah, berkreasi, berkomunikasi, dan berkolaborasi dengan baik. Tidak hanya tentang nilai tinggi saja. Seiring perkembangan teknologi yang pesat, banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan diri akan literasi dalam dunia digital. Salah satunya adalah aplikasi Orai.
 
Apa itu Orai?
 
Logo Orai – NET
 
Orai adalah sebuah aplikasi untuk membantu semua orang mengembangkan keterampilan berbicara, khususnya berbicara dalam bahasa Inggris. Dalam konteks siswa milenial yang jarang lepas dari telepon pintarnya, aplikasi ini bisa membantu mereka berlatih berbicara dan/ atau menjadi pembicara publik dalam bahasa Inggris yang lebih baik. Aplikasi Orai memberi kesempatan mereka berlatih berbicara berulang-ulang dengan umpan balik instan. Mereka akan diberitahu apakah mereka berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat. Apakah terlalu banyak jeda atau kata-kata ‘err’, ‘emm’, ‘what is it’, dan seterusnya. Selain itu, semua kekurangan ditampilkan dalam transkrip yang kita sampaikan secara lisan sebelumnya. Orai juga memberi informasi tambahan pada siswa, seperti semangat – apakah terlalu bersemangat atau terlalu monoton. Hal lain yang diberikan juga adalah kejelasan ucapan dan pelafalan serta ringkasan hasil bicara mereka.
 
Orai memberi beberapa fitur yang didesain mengasah keterampilan berbicara siswa, yaitu Lessons, Practice, Progress, dan Recordings. Masing-masing fitur utama memiliki konten yang menarik dan bisa dipelajari berulang-ulang untuk mengasah kemampuan berbicara ini. Di fitur ‘Lessons’, mereka yang ingin berlatih berbicara bisa belajar dan melatihkan kemampuan berbicaranya pada konten-konten yang diberikan. Masing-masing konten terdiri dari tiga tahapan konten yang harus diselesaikan sebelum bisa mempelajari konten pelajaran selanjutnya.
 
Konten pertama dalam fitur Lessons adalah Control Your Pace yaitu melatih murid-murid mengontrol kecepatan berbicara mereka. Konten selanjutnya adalah Fight Your Fillers untuk melatih mereka mengurangi kata-kata yang tak perlu, seperti ‘err’, ‘emm’ dan lainnya. Speak with Clarity adalah konten lanjutan yang menekankan pada latihan untuk menyampaikan ide bicara secara jelas, to the point. Konten berikutnya adalah Vary Your Energy yang melatih mereka untuk tahu kapan berbicara dengan energik dan kapan tidak. Konten selanjutnya fokus pada situasi Interview dimana murid-murid dilatih merespon sebaik-baiknya pada situasi wawancara. Terakhir, konten Power of the Pause memberi penekanan pada pentingnya melakukan jeda, namun pada saat yang tepat. Seluruh konten ini bisa dicek kemajuannya di aplikasi Orai tersebut.
 
Bagaimana Integrasi Aplikasi Orai pada Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris?
 
Seperti telah disampaikan sebelumnya, Orai bisa digunakan untuk membantu kemampuan berbicara. Siswa di semua tingkatan membutuhkan pelatih untuk belajar berbicara di depan umum. Masalahnya adalah, dapatkah guru melatih siswa mereka satu per satu hingga mereka menjadi lebih baik? Itu akan tidak mudah. Karena fungsinya, Orai potensial diintegrasikan ke pembelajaran bahasa Inggris. Orai dapat membantu guru dalam melatih, menilai, memantau siswa dalam mengembangkan keterampilan berbicara mereka. Selain itu, Orai dapat digunakan untuk berlatih berbicara dalam berbagai materi. Siswa bisa berlatih mandiri atau berkolaborasi dengan teman-temannya dan belajar dari masukan yang diberikan.
 
Guru bisa memberi topik-topik di awal pembelajaran untuk siswa latihkan presentasi. Selama persiapan, siswa diminta berlatih dengan menggunakan Orai dan mencatat semua masukan dari Orai. Diskusi bersama bisa dilakukan untuk memberi ruang siswa merefleksi dan berpikir kritis sambil mengatasi masalah yang ia hadapi. Di akhir persiapan, siswa diminta pendapatnya tentang Orai dan bagaimana peran Orai dalam keterampilan berbicara mereka. Alternatif lain pemanfaatan Orai bisa lintas sekolah bahkan lintas negara. Sehingga masukan bisa semakin kaya dan membantu siswa berjejaring meluaskan lingkup diskusinya.
 
Yang penting dari aplikasi Orai adalah fitur Practice dimana yang ingin berlatih bisa secara berulang merekam dirinya ketika berbicara dan kemudian mendapatkan masukan langsung dari Orai. Ketika berlatih, murid-murid bisa memilih mode Give Me a Topic atau Free. Orai akan bisa memberi masukan jika rekaman latihan dilakukan selama minimal 15 detik.
 
Apa Keuntungan dan Kerugian Menggunakan Aplikasi Orai pada Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris?
 
Kekuatan Orai adalah (1) Orai dapat diakses dimana saja dan kapan saja dengan koneksi Internet, (2) Orai sangat mudah digunakan, dan (3) Transkripnya sangat jelas dan sangat membantu. Adapun kelemahan Orai adalah (1) aplikasi ini memiliki kemampuan yang sangat terbatas, hanya dapat mengembangkan keterampilan berbicara dan (2) Orai adalah aplikasi berbayar. Jadi, jika dalam konteks pendidikan, dan siswa atau guru tidak memiliki anggaran, hanya bisa menggunakan uji coba gratis.
 
Untuk murid-murid Indonesia yang jarang lepas dari telepon pintarnya namun juga masih sangat perlu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, khususnya berbicara, aplikasi Orai tentunya menarik untuk dicoba. Aplikasi ini bisa diunduh di iOS dan Play Store dan dijalankan melalui telepon pintar masing-masing. Meski demikian, kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi saja. Kita harus mampu memanfaatkan teknologi seefektif mungkin. Jangan abaikan latihan bersama teman-teman karena interaksi dan masukan langsung dari manusia – bukan mesin – bisa sangat membantu. Untuk belajar Orai, bisa menontonnya di https://youtu.be/v2zRcV2kt2g. Selamat mencoba!
 
 
 
Penulis:
Made Hery Santosa, Ph.D.
adalah Staf Pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Ganesha. Profil singkat beliau bisa dibaca di about.me/mhsantosa.

INTEGRATING DIGITAL TOOLS AS MEDIA FOR TEACHING ENGLISH TO MILLENIAL STUDENTS

An invitation to share in Universitas Pakuan, Bogor.

Pakuan

2018


Pendasbudi Bali Edukasi: Membangun Insan Cerdas Berkarakter Sejak Dini

pendasbudi-bali-edukasi-membangun-insan-cerdas-be-800-2018-12-15-074435_0

Menariknya, terdapat dua mahasiswa relawan pertukaran pelajar dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan satu tenaga relawan dari universitas swasta di Jakarta yang penuh semangat berbagi dan membantu.

 
BULELENG, NusaBali.com
Berangkat dari tujuan memberikan pendidikan kepada anak-anak dan menyelipkan pendidikan karakter, Bali Edukasi – sebuah komunitas edukasi – secara konsisten berbagi dan membantu adik-adik dan guru-guru di pelosok Bali. Karakter merupakan hal terpenting dari diri seseorang dalam berilmu. Kalimat seperti, “Menjadi pintar bisa jadi mudah, tapi menjadi pintar yang berkarakter perlu waktu,” menunjukkan betapa pentingnya karakter dalam diri seseorang, yang mana pintar saja belum cukup untuk bisa menjadi pribadi-pribadi yang madani (berbudi luhur), yang bisa berperan di lingkup global dan lokal, yang memiliki perspektif global tanpa melupakan kearifan lokal.
 
Program Pendidikan untuk Generasi Cerdas Berbudi (Pendasbudi) merupakan salah satu kegiatan dari Bali Edukasi di tahun 2018. Fokus dari kegiatan Pendasbudi adalah membangun karakter siswa sejak dini karena pintar saja tidak cukup dan harus diimbangi dengan karakter yang berbudi luhur. Menanamkan pendidikan karakter bukanlah sesuatu hal yang mudah dan bisa instan. Hal ini perlu konsistensi, dedikasi, serta waktu yang cukup agar kelak program Pendasbudi dapat tertanam dan terlaksana dengan baik. Untuk itu, sekolah pertama yang menjadi sasaran kegiatan Pendasbudi 2018 adalah SDN 2 Bengkala yang terletak di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Sekolah ini terletak di sebuah komunitas tulibisu (kolok) terbesar di dunia. Sekolah ini unik karena merupakan sekolah inklusi (gabungan dengan anak berkebutuhan khusus, yaitu tulibisu).
 
Kegiatan ini dilaksanakan selama enam bulan (satu semester) dengan satu kali pertemuan setiap bulannya, dengan tujuan adanya penerapan pengembangan generasi yang cerdas dan berbudi secara bertahap dan berproses. Konsep yang mendasari Pendasbudi 1 – 6 ini berakar dari 5 karakter pada Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Penanaman karakter disampaikan melalui aktivitas-aktivitas belajar pada Pendasbudi dengan konsep bermain dan belajar. Sehingga, tanpa sadar anak-anak dibuat terbiasa untuk bekerja dalam tim, menumbuhkan sikap nasionalisme, gotong-royong, integritas, religius, dan mandiri sejak dini.
 
Foto: Salah Satu Kegiatan Pendasbudi di SDN 2 Bengkala – Dok. Bali Edukasi
 
Adapun aktivitas-aktivitas yang telah diberikan oleh tim Bali Edukasi merupakan kombinasi kegiatan dalam ruangan dan luar ruangan. Di kegiatan dalam ruangan, tim Bali Edukasi mengkhususkan pada aktivitas-aktivitas belajar untuk membangun perilaku mandiri, suka bergotong-royong, dan kreatif. Siswa-siswi SDN 2 Bengkala diajak untuk mendongeng, yang mana isi cerita bervariasi mulai dari cerita lokal, seperti Bawang lan Kesuna, Indonesia, seperti Malin Kundang, sampai cerita dengan konteks global, seperti Cinderella. Mereka bersama kakak-kakak Bali Edukasi juga beraktivitas menciptakan benda-benda bernilai seni dengan barang bekas, seperti tempat pensil dan pohon literasi. Kegiatan ini diajarkan dengan tujuan, siswa-siswi dapat berpikir secara mandiri, bekerja bersama, berkreasi, dan mampu memecahkan masalah melalui pesan dalam cerita dongeng anak maupun dalam kegiatan kreatif membuat kerajinan.
 
Untuk kegiatan luar ruangan, siswa-siswi diajak untuk terlibat aktif dalam permainan tradisional Bali seperti, Megoak-Goakan dan Meng Ngejuk Bikul. Permainan ini melatih kesigapan, kesetiakawanan, dan integritas untuk sikap sportif untuk para siswa dan tentunya diharapkan dapat menumbuhkan rasa kerja sama dan etos kerja keras dalam diri siswa-siswi. Di samping itu, para guru SDN 2 Bengkala diupayakan terlibat dalam aktivitas Pendasbudi, sehingga akan lebih mengenal siswa-siswinya lebih dekat. Diharapkan, agar para guru dapat mengajak siswa-siswinya belajar dengan aktivitas-aktivitas yang lebih berfokus pada siswa, dengan cara-cara menyenangkan dan dilakukan secara berkesinambungan. Sehingga, tujuan menumbuhkan sumber daya manusia yang unggul bisa tercapai.
 
Kegiatan ini dirancang oleh tim Bali Edukasi secara bersama-sama agar selain membantu adik-adik di pelosok, kakak-kakak mentornya juga menumbuhkan dirinya menjadi pribadi-pribadi yang cerdas dan berkarakter. Jadi, sebagai wadah, Bali Edukasi bisa membantu banyak pihak terkait mencapai tujuannya tersebut. Pendasbudi ini dilaksanakan oleh 10 tim Bali Edukasi dan 10 tenaga sukarelawan. Menariknya, terdapat dua mahasiswa relawan pertukaran pelajar dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan satu tenaga relawan dari universitas swasta di Jakarta yang penuh semangat berbagi dan membantu. Dengan kolaborasi nyata ini, seluruh tim Pendasbudi Bali Edukasi mencoba berbagi pada siswa-siswi dan guru-guru di SDN 2 Bengkala perihal pembelajaran karakter yang penuh dengan keceriaan.
 
Dalam jangka panjang Pendasbudi diharapkan dapat berkelanjutan di sekolah-sekolah lainnya di banyak tempat di lingkup yang lebih luas. Bali Edukasi berupaya untuk selalu berinovasi untuk kegiatan berkarakter seperti Pendasbudi ini agar selalu bermanfaat bagi lebih banyak pihak. Untuk lebih meningkatkan dan mendorong kegiatan-kegiatan serupa lebih baik lagi, Bali Edukasi tidak saja akan terjun kembali membantu adik-adik pelajar namun juga tim Bali Edukasi akan merancang dan mengembangkan beragam media ajar seperti, buku bacaan anak, Virtual Reality (VR) berbasis media pelajaran untuk anak-anak, animasi, dan bacaan anak berbasis elektronik. Hal nyata dan komitmen tim Bali Edukasi inilah yang senantiasa siap membantu menyalakan peradaban negeri.
 
Bali Edukasi selalu terbuka menerima siapapun yang ingin belajar dan berbagi. Informasi mengenai Bali Edukasi bisa diperoleh dari lamannya di http://www.baliedukasi.org dan media sosial, yaitu Facebook (Bali Edukasi), Facebook Page (Bali Edukasi), Twitter (@BaliEdukasi), YouTube (BaliEdukasi), dan Instagram (@baliedukasi). Semoga semakin banyak tumbuh perpanjangan tangan-tangan kebaikan negeri yang mampu berkiprah di level global dan lokal, yang tidak hanya pintar namun juga selalu memegang teguh integritas, arif, dan menunduk ke bumi. *
 
Bali Edukasi, Bersama Menyalakan Peradaban.
 
Penulis: 
Made Agus Mandala Putra
Ni Made Wahyu Suganti Cahyani
Made Hery Santosa
 

Bali Edukasi Tumbuhkan Tunas-Tunas Cerdas Berbudi
Thank you from the deepest of our heart _/|\_
https://www.nusabali.com/berita/37218/bali-edukasi-tumbuhkan-tunas-tunas-cerdas-dan-berbudi

*Untuk arsip:

BULELENG, NusaBali

Sadar akan era yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia, terutama Bali, Made Hery Santosa, seorang tenaga pengajar bidang Bahasa Inggris di salah satu universitas di Bali Utara ini,  terpantik untuk mendirikan sebuah wadah dalam menumbuhkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang unggul dan berkarakter, yang nantinya mampu bersaing di tingkat global. Organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan telah berdiri sejak 2 Mei 2015 di Buleleng itu bernama, Bali Edukasi. Ada pun 3 aspek yang menjadi sasaran utama Bali Edukasi, yaitu, pendidikan dan pengajaran, kesehatan, dan lingkungan.

Bersama Bali Edukasi, pria yang telah menyelesaikan program doktoralnya di La Trobe University, Australia, dalam bidang pendidikan dan pengajaran ini, ingin membuka peluang bagi siapa saja yang ingin belajar tumbuh dan menumbuhkan dirinya khususnya dalam bidang pendidikan. Lama belajar di negeri orang, Hery ingin menumbuhkan kesadarannya dan teman-teman yang lain untuk berguna di rumah sendiri.

“Bali Edukasi adalah sebuah wadah bagi siapa saja yang mau belajar tumbuh dan menumbuhkan dirinya. Jadi, orang perlu terus belajar. Itu juga ketika dia memiliki sesuatu, dalam hal ini, ilmu pengetahuan, dia bisa bagikan. Sehingga, dia juga bisa menumbuhkan orang lain. Kita boleh menjangkau langit, tapi harus tetap berpijak pada bumi,” papar Hery ketika ditemui NusaBali usai menjadi pembicara dalam sebuah acara di salah satu mall di Denpasar (02/09).

Untuk targetnya sendiri, Bali Edukasi bersifat umum. Dalam artian, siapa pun berhak bergabung dan belajar bersama, baik itu dalam hal ingin mengasah diri untuk mendaftar beasiswa di luar negeri, penulisan artikel, penerbitan karya, serta menjadi pengajar yang baik. Namun, setahun terakhir Bali Edukasi lebih banyak menyasar anak-anak di level usia dini karena dipercaya sebagai tunas-tunas bangsa yang nantinya mampu membawa Indonesia khususnya Bali ke arah yang lebih maju.

“Awal-awal masih memahami Bali dengan berkeliling, menyasar tempat-tempat mana yang memerlukan. Setelah menemukan target yang tepat, barulah selama 6 bulan kita datang ke lokasi secara periodik untuk melihat dampaknya,” lanjut pria yang juga merupakan pendiri Pejuang Beasiswa Bali dan beberpa organisasi yang bertujuan menginspirasi anak muda itu.

Anak-anak di sekolah dasar di tempat-tempat terpencil dan jarang terjamah bantuan, sering kali mendapat perhatian dari Bali Edukasi. Ada 10 tim inti – dibantu beberapa relawan – yang siap mengajar anak-anak untuk rajin membaca, belajar Bahasa Inggris, serta belajar memanfaatkan softskill-nya (red: kemampuan lunaknya) untuk dapat berpikir kritis dan berani menyampaikan pendapatnya di depan umum.

 
Foto: Tim Bali Edukasi – Dok. Bali Edukasi
 
PENDASBUDI (Pendirikan ke Generasi Cerdas dan Berbudi) merupakan nama program unggulan yang sedang digeluti Bali Edukasi setelah GEMASENI (Gemar Membaca Sejak Dini). PENDASBUDI sendiri adalah dukungan bagi program pemerintah tentang Penguatan Pembentukan Karakter (PPK) yang besumber pada Kurikulum 2013. Ada 18 karakter yang kini diciutkan menjadi 5 karakter bangsa. Bali Edukasi sendiri menyisipkan karakter Nasionalisme dan Cinta Tanah Air, yang mana, anak-anak belajar Bahasa Inggris dengan menggunakan tema karakter tersebut. Contohnya, baru-baru ini Bali Edukasi menyasar SDN 2 Bengkala di Buleleng untuk diajarkan Bahasa Inggris dengan tema ‘Cinta Tahan Air’.
 
 Foto: Kegiatan PENDASBUDI (Pendidikan untuk Generasi Cerdas Berbudi) di SDN 2 Bengkala – Dok. Bali Edukasi
 

Aktivitas Bali Edukasi tidak hanya berhenti pada program pengajaran pada anak-anak di usia dini. Melainkan, para anak muda yang menjadi relawan juga belajar akan pentingnya menjalin komunikasi yang baik antar tim, serta belajar bagaimana membuat media pembelajaran yang menyenangkan untuk nantinya dipraktekkan pada anak-anak.

“Edukasi adalah investasi penting untuk 20 tahun ke depan. Maka, harus menyasar manusia dan sejak dini, juga menyasar anak muda, yang dalam hal ini, kakak-kakak yang mengajar,” ungkap Hery.

 
Foto: Kegiatan literasi di SDN 2 Bengkala tahun 2016-2017 – Dok. Bali Edukasi 
 

Dari capaian-capaian tersebut, Bali Edukasi bahkan pernah dua kali mempresentasikan programnya dalam beberapa konferensi, diantaranya, CamTESOL, di Phnom Penh, Kamboja, dan dalam Konferensi Teknologi, di Solo, Jawa Tengah. Inti dari presentasi tersebut ialah, melalui pemanfaatan konten yang multi modal (audio, video, dan teks), mampu meningkatkan minat, waktu, serta kebiasaan membaca pada anak usia dini.

Di balik aktivitas-aktivitas mulia yang dilakukan Bali Edukasi yang notabene berlandaskan kesukarelaan, tentu hal tersebut tidak lepas dari berbagai kendala yang dihadapi. Beberapa di antaranya adalah, kendala waktu, yang mesti dikorbankan di tengah kesibukan masing-masing relawan, yang kedua adalah jarak, mengingat para relawan berasal dari berbagai daerah di Bali dan harus berjibaku dengan jarak untuk bertemu, yang terakhir yaitu komunikasi karena banyak juga tim yang akhirnya mundur dengan berbagai faktor tanpa adanya komunikasi yang jelas.

Sadar akan hal tersebut, Hery pun paham dan selalu menghimbau agar selalu membiasakan diri berkomunikasi yang baik karena jalan yang paling baik untuk meluruskan kendala adalah berkomunikasi yang akan menghasilkan solusi yang tepat.

Bali Edukasi sedang giat-giatnya membentangkan sayap melalui akun instagramnya (@baliedukasi). Berangkat dari hal tersebut, Hery pun berharap agar Bali Edukasi tetap menjadi wadah untuk menumbuhkan tunas-tunas SDM yang baik, sampai nantinya dirinya digantikan oleh tangan-tangan kebaikan lainnya.

“Saya tahu saya tidak bisa merubah dunia, tapi saya cukup merubah dunia satu orang saja dan saya sudah bahagia,” tutup Hery diselingi senyum simpul. *ph


News coverage: Menunduk dan belajar lagi tentang content creator, digital economy, dan gerakan inspiratif negeri. Bersama Mas Enda Nasution, Bapak Blogger Indonesia, Pelaku Industri Digital dan Bli Adi Wisesa, Content Creator
https://www.nusabali.com/berita/37070/home-credit-indonesia-gelar-talkshow-tips-membuat-konten-media-sosial-berfaedah

*Untuk arsip:

DENPASAR, NusaBali

Home Credit Indonesia, sebuah perusahaan pembiayaan multiguna, Minggu (02/09/2018) mengadakan sebuah acara yang bertajuk ‘Festival Indonesia Bi5a,’ yang mana acara ini diselenggarakan pada pukul 12.45 WITA hingga selesai di Level 21 Mall, Jalan Teuku Umar, Denpasar.

Acara tersebut pun terbagi atas beberapa segmen, salah satunya yaitu segmen yang dikemas dengan talkshow yang mengambil topik ‘Tips Membuat Konten Media Sosial Berfaedah’. Ada pun 3 pembicara yang diundang untuk mengisi topik tersebut, yaitu Made Hery Santosa, yang merupakan Pendiri Bali Edukasi dan sekaligus seorang Dosen di salah satu universitas di Bali Utara, Putu Adi Wasesa, yaitu seorang Content Creator dan salah satu anggota dari akun hiburan di instagram (@balividgram), dan Enda Nasution, yang tak lain adalah seorang Pelaku Industri Digital dan sekaligus dijuluki Bapak Blogger Indonesia.

Pengunjung yang kebetulan melintasi atrium mall atau yang memang sengaja datang untuk menyimak berbagai ilmu dalam talkshow tersebut terlihat memadati kursi-kursi yang tersedia di lokasi. Ada banyak yang dapat dipetik dari talkshow tersebut, seperti materi yang dibawakan oleh Enda Nasution, bahwa YouTube dapat dimanfaatkan untuk mengasah pengetahuan dan kreativitas di bidang masing-masing yang dapat mendatangkan pemasukan. Orang-orang dapat belajar memasak, fotografi, menulis cerita, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan hobi masing-masing di YouTube. Dirinya juga menyampaikan bahwa untuk berkreasi di platform digital, seseorang setidaknya harus bergabung dalam satu komunitas atau memiliki teman-teman yang dapat mensuport karyanya.

Pada kesempatan yang sama, Putu Adi yang bergerak dalam lini instagram bersama grupnya di @balividgram, menambahkan bahwa kegiatan sehari-hari dapat dijadikan ide untuk berkreasi. Jangan lupa menyelipkan pesan moral agar video yang dibuat dapat bertahan di hati penikmat. Ilmu lainnya, berusaha untuk menentukan jati diri video, apakah video tersebut bersifat komedi, atau genre lainnya. Yang terakhir, sebar luaskan video dengan menggandeng beberapa akun besar agar lebih banyak masyarakat yang menonton dan tertarik pada setiap karya yang diunggah.

Di sisi lain, Made Hery Santosa membawakan topik tentang Bali Edukasi, yaitu sebuah komunitas nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan. Ternyata, diam-diam HCI telah mengamati aktivitasnya sejak setahun lalu yang menurut pihak mereka, hal itu sangat menginspirasi terutama bagi masyarakat Bali. Maka, Hery pun diundang untuk mengisi talkshow tersebut. Ditemui seusai acara, Hery pun manyampaikan pandangannya terhadap acara yang kurang lebih sudah menginjak tahun kelima tersebut.

“Saya pikir bagus. Dari sisi Home Credit, jelas ini adalah semacam program untuk mempromosikan Home Credit itu sendiri. Bagi kami di Bali Edukasi, jelas juga bagus karena mereka memberikan semacam endorsement dalam promosi positif pada kami, yang mana sebelumnya tim mereka datang ke Singaraja bahkan, untuk merekam dan membuatkan video yang inspiratif mengenai kegiatan saya pribadi baik mengajar di universitas mau pun sebagai pengajar di Bali Edukasi,” papar Hery.

Hery pun berharap agar apa yang disampaikan dapat menumbuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter.

“Sehingga dengan adanya acara ini, gaung dari Bali Edukasi bisa lebih luas, kemudian orang-orang yang mendengar semakin tergerak. Intinya adalah, semakin banyak orang yang berbuat baik dan tulus, semakin baik,” tutup Hery ringkas. *ph


Liputan Pementasan Drama Parodi Cuvak Grantank di Social Gathering English Language Education, Undiksha 2018

Tatkala

BAGAIMANA jika dosen yang biasa membuat kita tegang di dalam kelas, tiba-tiba bermain drama parodi di atas panggung dan kita adalah penontonnya? Tentu saja kita tak boleh tegang, tak boleh menahan tawa seperti di kelas. Apalagi jika adegannya memang lucu, kita bisa bebas tertawa, malah sambil suit-suit.

Demikianlah para dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (ELE) ketika memainkan drama parodi berjudul Cuvak Grantang dalam acara Social Evening (Soceve) yang menjadi penutup acara Social Gathering (Socgath).

Socgath dimulai sejak 21 April dan ditutup Minggu 29 April 2018 malam. Acara yang dibuka oleh A.A. Gede Yudha Paramartha, S.Pd., M.Pd. selaku pembimbing kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris tersebut disimbolkan dengan pemontongan tumpeng dan kue sekaligus pemukulan Cymbals sebagai tanda dibukanya Soceve 2018.

Bertemakan Tropical, acara Socgath tahun ini benar-benar bernuansa kepantai-pantaian. Tak jarang kita jumpai gambar burung flamingo, pohon kelapa, papan surfing dan banyak penghuni laut lainnya. Berangkat dari tema tersebut, Soceve tahun ini pun menampilkan hal serupa.

Rentetan acara yang diadakan di lapangan sepak bola Kampus Tengah Undiksha itu pun serba beratmosfir tropical. Beberapa diantaranya yakni Opening Dance yakni kolaborasi antara Kecak dan Modern Dance serta penampilan dari mahasiswa berupa sebuah drama kolosal tentang cerita parodi Moana dan Maui yang diangkat dari sebuah film karya Disney berjudul Moana.

Parodi Cuvak Grantang

Serupa tapi tak sama, para dosen ELE pun mementaskan sebuah pertunjukan yang tak kalah terkenang. Sebuah pementasan parodi berjudul “Cuvak dan Grantang” mampu mengocok habis tawa para penonton malam kemarin. Mungkin tak sejalan dengan tema acara, namun tak masalah rasanya jika itu bisa mengundang canda dan tawa.

Didalangi oleh Sonia Piscayanti, cerita parodi” Cuvak Grantang” mengisahkan tentang sebuah sayembara memperebutkan seorang putri kerajaan yang cantik jelita bernama Putri Syahrini Wedhanti yang pada pementasan ini diperankan oleh Karina Wedhanti.

Cerita berawal dari bercakapnya Cuvak dan Grantang yang masing-masing diperankan oleh Herry Santosa dan Suarnajaya. Singkat cerita setelah percakapan mereka, diperkenalkanlah karakter-karakter selanjutnya yaitu Putri Syahrini Wedhanti yang diperankan oleh Karina Wedhanti dan ketiga dayang-dayangnya yang masing-masing diperankan oleh Lokita, Dayu Istri dan Supriyanti.

Hal menarik pada scene ini adalah ketika Sang Putri yang awalnya berbusana seperti putrid kerajaan lalu tiba-tiba berganti busana menjadi seorang putri yang berdandan ala pelatih senam zumba. Sontak saja hal ini membuat puluhan penonton yang juga mahasiswa ELE menjadi histeris. Bagaimana tidak, Dosen yang memang senang berzumba party tersebut kini hadir di atas panggung dan dihadapan para Adam, menunukan kepiawaiannya dalam bersenam ria.

Singkat kata setelah senam usai, datanglah Petruk yang diperankan oleh Adi Krisna. Kedatangannya bermaksud untuk mencuri sang Putri untuk dijadikan istrinya. Kemunculan Petruk di atas panggung pun tak kalah heboh dengan goyangan senam zumba dari Sang Putri sebelumnya. Pasalnya, penampilan dosen yang dikenal agak “ngawur” ini terlihat lebih “ngawur” di atas panggung. Hal itu terlihat dari sorak sorai penonton ketika Petruk yang memakai kaos hitam dan topi berwarna hijau cerah muncul. Sungguh warna yang sangat kontras bukan?

Terlebih orang yang memerankan karakter Petruk ini memang dipandang lucu oleh mahasiswa. Kembali ke cerita, Sang Putri pun diculik oleh Petruk. Mengetahui anak kesayangannya telah diculik, Sang Raja yang diperankan oleh Mahendrayana membuat sebagian mahasiswa bersorak “Pak, besok gak kuliah AB”. Mungkin sebagian mahasiswa ada yang diajar oleh beliau besok paginya sehingga mereka menyuruh dosennya untuk tidak mengajar besok pagi.

Sang raja pun memberi titah pada dayang-dayangnya untuk membuat sebuah sayembara. Raja yang bertubuh ceking ini pun menitahkan barang siapa yang berhasil menyelamatkan Sang Putri, maka dia akan menjadi pendamping hidupnya. Tak perlu waktu lama, kabar sayembara itu pun terdengar di telinga Cuvak dan Grantang.

Cuvak bermaksud untuk mengikuti sayembara itu. Cuvak yang berakal licik menyuruh adiknya Grantang untuk mengikuti sayembara tersebut. Dia sadar bahwa dirinya tak mungkin menang karena rupanya yang buruk. Maka dari itu, dia memanfaatkan kepolosan dan ketampanan adiknya untuk memenangkan sayembara tersebut untuk kemudian merebut sang Putri dari tangan Grantang.

Singkat cerita, mereka pun pergi mendaftar sayembara pada dayang Istana. Sedihnya, sesampainya mereka di Istana, Cuvak tak punya cukup uang untuk mendaftar, lalu Cuvak meminjam uang kepada Grantang untuk dijadikan uang pendaftaran dan dengan kepolosan serta kebelogan Grantang, ia memberikan uangnya kepada Cuvak.

Sesuai rencana, Grantang pun pergi untuk menyelamatkan Sang Putri. Sesampainya di TKP, Grantang menari-nari terlebih dulu sebelum menyelamatkan Sang Putri. Kenapa Grantang menari-nari? Karena saat itu, musik sedang hidup dan dalang menyuruh Grantang menari. Akibat durasi,

Grantang lalu menyelamatkan sang Putri dan lagi Petruk muncul di hadapan mereka. Kemunculan Petruk kembali di panggung seakan-akan tak pernah membuat bosan penonton untuk tertawa. Pertikaian singkat pun terjadi, Grantang dan Petruk menarik ulur Sang Putri untuk mendapatkannya.

Alhasil, Sang Putri jatuh ke pelukan Grantang. Petruk terdiam sejenak dan ini salah satu point lucu dalam scene ini dimana Sang Dalang menyuruh Petruk menangis merengek-rengkek. Seolah-olah pemain tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Diajaknya Sang Putri oleh Grantang ke hadapan Sang Raja, namun kali ini Cuvak yang mengambil alih.

Ketika bertemu Sang Raja, Dalang menyuruhnya menari terlebih dulu. Sang Raja terkejut dan berkata “Woe, adi misi musik ne?” “Nah teh.” sahut Dalang. “Maklum, mare tuni maan latihan” sambung Dalang kepada penonton sembari tertawa.

Raja tak setuju setelah melihat rupa Cuvak yang buruk rupa. Raja ceking itu tak percaya bahwa Cuvak yang tlah menyelamatkan Sang Putri. Tiba-tiba Grantang muncul ke hadapan Sang Raja dan berkata bahwa dia yang menyelamatkan Sang Putri. Melihat ketampanan Grantang, Raja percaya bahwa Grantang-lah yang sudah menyelamatkan putrinya.

Cuvak tak terima dan berkata “Engken maksud ci? Kone Ci kar ngemaang cang?” dan dengan kepolosan Grantang, dia menjawab “Nah, bang Raja ane memutuskan”.

Raja pun mengumumkan pemenang sayembara yaitu Grantang. Grantang mengucapkan sepatah kata pada Sang Raja sembari tersipu malu “Raja, nyonyo ne ngenah” Sontak Sang Raja menaikan Kamen nya. Diakhir pementasan, seluruh pemain berdnsa bersama diiringi lagu “Nasi Padang” dan ditutup dengan pesan dari Sang Dalang.

Ada hal yang dapat dipelajari dari pementasan ini. Meskipun dibalut dengan unsure parody namun tetap tak mengurangi makna dari cerita itu sendiri. Kejujuran ialah hal utama dalam berusaha. Jujur atas usaha sendiri lebih baik daripada bangga atas hasil kerja orang lain. Prihal spontanitas, pertunjukan yang dipentaskan oleh dosen-dosen ELE ini memang disiapkan secara spontan dimana mereka baru memersiapkannya pada saat beberapa jam sebelum pementasan.

Hal itu diutarakan beberapa kali oleh Sonia selaku Dalang cerita tersebut. Spontan atau tidaknya sebuah pementasan, ketika di atas panggung, penonton tidak menghiraukan hal tersebut. Bagaimana dampak setelah pementasan tersebut, itulah hal fundamental yang perlu diperhatikan. Namun, para dosen ini memang patut diacungi jempol prihal kespontanitasan mereka. Meski terkesan kurang persiapan, namun pementasan “Cuvak Grantang” sudah membekas di benak mahasiswa yang menontonnya. Terimakasih atas suguhan kalian, sungguh spontanitas yang membekas. (T)

*Untuk arsip.

Tulisan asli ada di: http://www.tatkala.co/2018/04/30/saat-dosen-bahasa-inggris-undiksha-main-drama-spontanitas-yang-membekas-lucu-yang-tak-tertahan/


Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Laksanakan Pengembangan Konten Blended Learning

BL Pasca

Perkembangan IPTEK dan karakter dari berbagai generasi mempengaruhi dunia pendidikan saat ini. Berdasarkan hal tersebut, Undiksha sebagai salah satu perguruan tinggi di Bali mulai mengembangkan konten blended learning.

Pelaksanaan workshop pengembangan konten blended learning Program Pascasarjana Undiksha yang berlangsung pada Selasa, 10 April 2018 di ruang seminar gedung Pascasarjana Undiksha merupakan sebuah langkah awal pengembangan konten ini. Workshop dibuka oleh wakil rektor I Undiksha Prof. Dr. Ida Bagus Arnyana, M.Si, dan diikuti oleh para dosen Program Pascasarjana.

Dalam sambutannya Arnyana mengatakan tujuan dari pengembangan konten blended learning yaitu “tidak hanya membangun konsep materi tapi menantang mahasiswa untuk menjadi orang yang siap belajar. Membangun mahasiswa tangguh dalam artian, apapun perubahan yang terjadi mereka bisa atasi”. Peran dosen dalam hal ini sangat penting, terutama dalam meningkatkan pemahaman dan aktivitas perkuliahan. Dikatakan juga bahwa Undiksha sudah menyiapkan 1,5 miliar untuk pengadaan server agar sistem e-learning dapat berfungsi dengan optimal.

Blended learning secara konseptual kemudian dipaparkan oleh Made Hery Santosa, S.Pd.,M.Pd.,Ph.D. Hery merupakan dosen Pendidikan Bahasa Inggris (S2), dalam pemaparannya ia menjelaskan tentang karakter mahasiswa dari berbagai generasi mulai dari generasi baby boomers hingga generasi Z dan memberi banyak informasi mengenai aplikasi yang bisa digunakan sebagai media pembelajaran.

Setelah dipaparkannya konsep dari learning blended, para peserta workshop kemudian dituntun secara teknis dalam menggunakan aplikasi e-learning undiksha. I Ketut Resika Arthana, S.T., M.Kom. seorang dosen Pendidikan Teknik Informatika (S1) memandu jalannya workshop. Workshop ini nantinya akan dibuat lebih luas lagi dan dapat diikuti oleh semua dosen Undiksha. (Sanchi/VISI)

*Untuk arsip

Beritanya bisa dibaca di: http://undiksha.ac.id/pascasarjana-universitas-pendidikan-ganesha-laksanakan-pengembangan-konten-blended-learning/


Pelatihan Pengembangan Konten Blended Learning untuk Dosen PERMATA Undiksa
(versi Web Undiksha)

BL Web

Untuk menjawab tantangan era Revolusi Industri 4.0 di dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi dengan pembelajaran berpusat pada siswa (SCL) berbasis ICT dan upaya LPPPM melalui Pusat Digital Learning dalam mengakomodasi kebutuhan dosen pengampu mata kuliah mahasiswa Pertukaran Mahasiswa Nusantara (PERMATA) Undiksha yang sedang melakukan program pertukaran di lembaga-lembaga mitra, Undiksha menyelenggarakan pelatihan pengembangan konten blended learning berbantuan MOODLE.

Terdapat 45 mahasiswa Undiksha yang berpartisipasi dalam program PERMATA tahun ini dan beberapa tidak bisa memprogram mata kuliah karena adanya perbedaan kurikulum. Untuk itu, pembelajaran berbasis blended learning untuk mendukung pembelajaran jarak jauh dipandang perlu untuk dilaksanakan agar mahasiswa Undiksha tetap dapat memprogram dan belajar di lokasi lembaga mitra masing-masing.

Kegiatan Workshop Pengembangan Konten Blended Learning untuk Dosen Permata Undiksha dilaksanakan pada hari Jumat, 20 April 2018 bertempat di Ruang Auditorium Gedung Pascasarjana Undiksha. Terdapat 40 orang Dosen PERMATA menghadiri kegiatan workshop ini. Pemateri workshop adalah Made Hery Santosa, Ph.D. dan I Ketut Resika Arthana, S.T., M.Kom.

Pembukaan workshop diawali dengan Sambutan Ketua LPPPM Undiksha dan dibuka oleh Wakil Rektor IV Undiksha Drs. I Wayan Suarnajaya, MA.,Ph.D. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi. Peserta workshop diberikan pemahaman dan teknis pengembangan materi berbasis blended learning oleh Hery selaku pemateri pertama. Sedangkan dalam Implementasi Blended Learning peserta di dampingi oleh Resika selaku  pemateri kedua.

Peserta workshop terlihat sangat antusias terutama pada saat mengembangkan konten pembelajaran, menginput konten e-learning, merencanakan tugas kepada mahasiswa, menyusun kuis hingga mengatur bobot penilaian pada tugas dan kuis yang disusun.

Pada akhir kegiatan, peserta diminta untuk memberikan penilaian terhadap pelaksanaan kegiatan workshop. Hasil evaluasi menunjukkan kegiatan ini sangat bermanfaat sehingga dirasa perlu adanya pelatihan-pelatihan lanjutan secara berkesinambungan, khusus pada keterampilan TIK dan literasi digital yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing fakultas dan bidang studi. Bimbingan dan monitoring juga perlu dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis blended learning khususnya pada Program PERMATA.

Kegiatan workshop ditutup oleh Ketua Pusat Digital Learning dengan harapan bahwa blended learning dapat diimplementasikan untuk menunjang perkuliahan, tidak hanya untuk mahasiswa yang mengikuti Program PERMATA, melainkan juga kepada mahasiswa reguler dan bersifat berkelanjutan.

*Untuk Arsip

Beritanya bisa dibaca di: http://undiksha.ac.id/akomodasi-program-permata-undiksha-selenggarakan-workshop-pengembangan-konten-blended-learning/


Pelatihan Pengembangan Konten Blended Learning untuk Dosen PERMATA Undiksha
(Versi Web LP3M Undiksha)

BL LP3M

*Untuk arsip

Berita bisa dibaca di : http://lp3m.undiksha.ac.id/workshop-pengembangan-konten-blended-learning-untuk-dosen-permata-di-undiksha/


The 12th Bandung International Conference on Language Education (BICOLE), ITB, Bandung

BICOLE 12

International Undergraduate Conference, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

Poster IUC UKSW 2018
UKSW

Language Teaching and Learning Today, Ho Chi Minh, Vietnam

LTLT2018-Banner

Language Teaching and Learning Today International Conference 2018
YouTube Video

A Featured Presentation aired on UTE TV (plus with the Closing ceremony)


Indonesia Technology Enhanced Language Learning (iTELL) 2018 Conference

itell2018

Pelatihan ICT-based Media di FBS, Undiksha

FBS

Beritanya ada di http://fbs.undiksha.ac.id/seminar-akademik-pengembangan-materi-berbasis-ict/


Pelatihan Kompetensi Bahasa Inggris Komunikatif di SMK Negeri Bali Mandara


2017

Interview on E-Teacher Program


Snow in Cengage Learning, Detroit ^^


One of my topics is featured in CamTESOL 2017 conference, thank you ^^

P.S. Sentosa (island) 😂😂😂

featured-camtesol-2017

Just a joke 😀 (in Balinese) 
Credit: De Punk Gen

photo

Call for Papers: “TEFL in Digital Era”
STKIP PGRI Tulungagung, 25 February 2017

photo

Untuk arsip. Tulisan asli bisa dibaca di: https://fyajourneys.blogspot.com/2017/01/komunitas-pejuang-beasiswa-bali.html

KOMUNITAS PEJUANG BEASISWA BALI

image

Pejuang Beasiswa Bali pertama kali didirikan oleh I Made Hery Santosa, Ph.D pada tahun 2015 dan saat ini memiliki anggota sekitar 50 orang. Komunitas ini bergerak dibidang pendidikan dimana memberikan informasi seputar beasiswa luar negeri dan juga memberikan bimbingan kepada mereka yang akan mendaftar beasiswa. “Saya ingin lebih banyak anak Bali yang kuliah keluar negeri dan setelah itu kembali ke Bali dan mengabdi untuk memajukan Bali” kata Pak Hery yang merupakan lulusan S3 English Literature di La Trobe University, Melbourne. Saat ini kesibukan Pak Hery selain menjadi Founder PBB juga sebagai dosen pendidikan bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Selain memberikan informasi dan bimbingan, komunitas ini juga memiliki beberapa program seperti Clinical Workshop dan Scholarship Mentoring. Komunitas ini juga bekerja sama dengan IALF Bali.

Pada kesempatan ini saya mendapat tugas sebagai MC dan Ketua Pelaksana Clinical Workshop yang ke-11 yang diadakan di Garden Wing IALF Bali. “CW XI kali ini mengundang I Wayan Alit Sudarsana, S.H, LL. M dan I Made Arya Adiartha, M.Sc “ jelas Agus Adi Putrawan, M.Pd selaku Ketua Harian PBB yang merupakan lulusan Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. 

I Wayan Alit Sudarsana, S.H, LL.M merupakan lulusan S1 di Fakultas Hukum, Universitas Udayana dan kemudian mendapat beasiswa Stuned untuk melanjutkan jenjang master dan mengambil Master of International Trade and Investment Law di University of Maastricht di  Belanda. Sedangkan I Made Arya Adiartha, M.Sc adalah awardee dari Fulbright Scholarship dan mendapat kesempatan untuk melanjutkan jenjang S2 nya di University of Minnesota dan mengambil Master of Science in Sustainable Design. CW ke XI ini berjalan lancar dan dihadiri banyak peserta dari berbagai kalangan untuk mendapat info seputar beasiswa. Saat coffee break, dimanfaatkan peserta untuk melakukan networking dengan peserta lain maupun dengan awardee. Dan Clinical Workshop ini ditutup dengan sharing dengan para awardee dan foto bersama.


2016

Plenary Speaker in 63rd TEFLIN, UNIPA Surabaya
speakers-of-teflin-63


Read News: Plenary Speaker in Pasca Universitas Negeri Malang semlok-um
seminar-lokakarya-860x484


Read News: Plenary Speaker in 2nd NACELT, IAIN Palangkaraya
1234


Read News: Professional Development in SMKN Bali Mandara on Distance Learning
14117779_1096486033776015_7940511552280355699_n


Read News: Professional Development in SMKN Bali Mandara
img-20150807-wa0001


Read News: Plenary Speaker in UKSW
Read News: Opinion in Tribun News
Read News: Ayo Bersinar, Anak Negeri!
Read News: Reviewer in International Journal on Indonesian Studies, Monash University, Australia (Spring, 2016)


Photo Feature: Akber Bali in Tribun Bali

akber-bali-di-tribun-bali

I always support people who like to do positive but great things. Keep it up, Akademi Berbagi Bali. All very best (y)


Akademi Berbagi Awards 2016

Di penghujung tahun 2016, saya diberikan kenangan untuk cerita masa depan oleh kawan-kawan dari Akademi Berbagi Bali. Sebelumnya, saya mengisi salah satu kelas berbagi mereka mengenai Beasiswa. Nominasinya adalah sebagai berikut.

akberbaliawards

Setelah dilakukan polling via twitter, saya mendapat kenangan dua sekaligus, yaitu Tema Kelas Terfavorit 2016 dan Relawan Guru Terfavorit 2016.

tema-kelas-terfavorit-2016
relawan-guru-terfavorit-2016

Terima kasih #AkberBali #AkberBaliAwards2016. Tetaplah berbagi inspirasi dan kebahagiaan. Mari senantiasa menyentuh langit, mencium bumi. Salam penyala peradaban (y)


Media Coverage on Visi Magazine (2016)

Visi Magazine 2016
Visi Magazine 2016 Cover

Media Coverage on The Splash (January 2015)

The Splash 2014
The Splash 2014 Cover

Tribun

Tribun 3

Tribun 2

Liputan Pelita Harapan Negeri (Pelangi), SDN 1 Batununggul, Nusa Penida
Komunitas Bali Edukasi Ajarkan Bahasa Inggris, Jepang dan Perancis ke Pelosok Bali

bali-edukasi_20151126_173033

Link: http://bali.tribunnews.com/2015/11/26/komunitas-bali-edukasi-ajarkan-bahasa-inggris-jepang-dan-perancis-ke-pelosok-bali

Untuk arsip, saya kopi beritanya:

Kamis, 26 November 2015 17:30

Laporan Wartawan Tribun Bali, Luh De Dwi Jayanthi

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Komunitas Bali Edukasi kembali memberikan warna-warni pendidikan melalui Pelangi (Pelita Harapan Negeri).

Berbekal motto “Menyalakan Peradaban Anak-anak Bali”, Bali Edukasi telah melakukan 12 aksi pendidikan di pelosok Bali.

Beberapa waktu lalu, komunitas yang berdiri sejak enam bulan lalu ini berangkat ke Nusa Penida, Klungkung dan Desa Bengkala, Kubutambahan, Buleleng.

Relawan dari komunitas ini berbagi pengetahuan mengenai Bahasa Inggris, Jepang dan Perancis.

Putu Irma Wulandari, relawan Bali Edukasi berangkat menuju Nusa Penida bersama tim sekitar pukul 06.30 Wita.

Ia menuju Sekolah Dasar Negeri 1 Batununggul, Nusa Penida, Klungkung.

Adapun materi yang disampaikan mengenai pengenalan Bahasa Inggris, Jepang dan Prancis.

“Kelas 4, 5 dan 6 kami gabung dan bentuk kelompok untuk belajar ketiga bahasa itu. Saya tidak menyangka daya tangkap mereka sangat kuat, saya menjadi senang,” tutur Irma yang mengajar Bahasa Prancis ini, Rabu (25/11/2015).

Lain halnya dengan kelas 1,2 dan 3 yang mana siswa-siswi diberikan pengenalan mengenai makanan dan minuman yang sehat.

“Kami buat sebuah media seperti mading yang berisikan gambar makanan dan minuman yang sehat. Lalu diselingi juga dengan permainan yang berkaitan dengan itu,” ucap Irma.

Untuk memberikan pengetahuan tentang kesehatan, tim relawan Bali Edukasi juga memberikan materi tentang bagaimana mencuci tangan yang baik dan benar.

“Ini kami lakukan mengingat siswa-siswi itu harus mengetahui cara untuk menjaga kesehatan mulai dari memilih makanan dan berprilaku bersih,” ucapnya.

Julisastrawan, relawan Bali Edukasi mengatakan kegiatan rutin khusus dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 2 Bengkala.

“Itu karena satu-satunya sekolah dasar inklusi di Bali. Kami mengajar Bahasa Inggris saja di sana,” ungkap Julisastrawan yang akrab disapa Pegok ini.

Dalam menyampaikan materi, Pegok dan kawan-kawan Bali Edukasi dibantu oleh Kanta beserta guru untuk menerjemahkan ke bahasa isyarat Desa Bengkala (bahasa ibu Desa Bengkala).

“Uniknya di sana, siswa tuli bisu gabung belajar dengan anak normal lainnya,” imbuhnya.

“Kesulitan yang kami hadapi itu saat main game. Nah banyak instruksi dengan kosakata berbeda-beda. Tapi untungnya semua berjalan lancar,” tuturnya.

Topik yang dibahas saat belajar Bahasa Inggris itu seperti benda yang berada di sekitar sekolah, olahraga dan jenis-jenis pekerjaan.

Khusus di Desa Bengkala ini kami lakukan kegiatan secara reguler mengingat ini merupakan sekolah inklusi yang memang butuh perhatian khusus untuk memaksimalkan pengabdian kami. (*)


Liputan Pelita Harapan Negeri (Pelangi) di SDN 1 Pitra, Tabanan
Belajar Dengan Cara Kreatif Bersama Komunitas Bali Edukasi

imagecontent

Link: http://www.semetonnews.com/post/read/138/belajar-dengan-cara-krearif-bersama-bersama-yayasan-bali-edukasi

Untuk arsip, saya kopi beritanya:

Minggu, 06 Maret 2016 11:51
Tabanan, Semetonnews – Siswa-siswi di SDN 1 Pitra, Desa Pitra, Penebel, Tabanan nampak sumringah ketika kedatangan tamu dari Bali Edukasi. Bagaimana tidak, bersama 19 orang relawan dari Bali Edukasi, mereka diajak belajar Bahasa Inggris, Bahasa Bali dan memahami kesehatan dengan cara yang mengasyikkan.

Kunjungan relawan Bali Edukasi tersebut merupakan program PELANGI (Pelita Harapan Negeri ) yang menyasar sekolah-sekolah di pelosok dengan berbagai keterbatasan, seperti keterbatasan fasilitas, ataupun tenaga pengajar.

“Dan kali ini kami datang ke SDN 1 Pitra yang memang memiliki keterbatasan dalam tenaga pengajar,” ungkap Sekretaris Bali Edukasi Putu Ana Agustini kepada Semetonnews, Minggu (6/4/2016). Selain diajak belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Bali dengan media belajar yang inovatif serta kreatif, pada siswa SDN 1 Pitra mulai dari kelas I hingga kelas VI juga diberikan pemahaman mengenai kesehatan jajanan dan cara menggosok gigi yang benar.

“Kami mengajarkan Bahasa Inggris dan Bahasa Bali karena memang di SDN 1 Pitra tidak ada guru mata pelajaran Bahasa Inggris, sedangkan Bahasa Bali adalah keutamaan sebagai masyarakat Bali,” imbuhnya.

Kepada Semetonnews, Ana menuturkan kegiatan tersebut juga diisi dengan games seru yang sudah dirancang oleh para relawan Bali Edukasi dengan berbagai latar belakang, mulai dari siswa SMA, Guru, mahasiswa, PNS, dan lainnya. Dalam kegiatannya kali Bali Edukasi juga menggandeng kawan-kawan dari YSEALI (Youth South East Asian Leaders Initiative) dan Balai Mangrove.

Rama, salah satu siswa kelas IV mengaku sangat senang atas kedatangan tim Bali Edukasi, karena selain berbagi ilmu, relawan Bali Edukasi juga membagikan susu gratis serta alat tulis gratis kepada para siswa. “Senang sekali, diajarkan Bahasa Inggris, diajak main games, terus dikasi hadiah alat tulis,” ujarnya lugu.

Bali Edukasi sendiri merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari sekelompok anak muda yang memiliki tujuan sama yakni untuk menyalakan peradaban.Untuk misi selanjutnya Bali Edukasi berencana akan melakukan kegiatan yang sama di SDN 2 Bengkala dan SDN 2 Keramas.

Penulis : Trisna Ayu
Editor Robinson Gamar


Liputan Gemaseni di SDN 2 Bengkala
Mengajari Bahasa Inggris Siswa “Kolok” di SDN 2 Bengkala, Buleleng

Untuk arsip, saya kopi beritanya:

di-lingkungan-sd-no-2-bengkala

Buleleng, Dewata News.com — Bali Edukasi kembali melaksanakan program edukasi dengan mengusung tema GEMASENI (Gemar Membaca Sejak Dini) pada anak-anak di SDN 2 Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali.

Sebelumnya, program serupa juga dilaksanakan di Desa Selemadeg, Tabanan, Bali yang berkolaborasi dengan mahasiswa KKN Undiksha di desa tersebut dan di SDN 1 Naga Sepaha, Buleleng.

Story telling for fun atau bercerita dalam Bahasa Inggris yang menyenangkan adalah nama program ini. Para siswa SD diajak belajar, mendengarkan cerita, mengerti lalu mengucapkan Bahasa Inggris dengan baik dan benar sambil bermain.

Metode seperti ini membuat siswa tanpa sadar belajar Bahasa Inggris. Gerakan ini dicetuskan oleh Ketua Bali Edukasi, Made Hery Santosa PhD untuk mengadaptasi pembelajaran menyenangkan dari Benua Australia, tempat ia menuntut ilmu sebelumnya.

Kegiatan ini diikuti oleh para siswa SD dari kelas empat, lima dan enam. Terdapat juga beberapa siswa tuli bisu (kolok) di dalamnya sehingga program ini semakin menarik sekaligus menantang tim Bali Edukasi.

Hal unik lainnya adalah baik para siswa normal dan penyandang tuli bisu mendapat perlakuan sama. Hal tersebut bisa dilihat dari keseluruhan siswa normal yang sangat lancar berkomunikasi dalam bahasa isyarat.

“Saya diajari berkomunikasi dengan teman kami tersebut (penyandang tuli bisu), makanya saya hafal isyarat,” ungkap salah seorang siswa di sela-sela kegiatan.

Siswa di SDN 2 Bengkala sangat antusias terhadap kegiatan ini. Bahkan pengetahuan dan ketertarikan mereka akan Bahasa Inggris sangat tinggi. Ini dilihat dari kemampuan mereka dalam mencerna Bahasa Inggris sangat cepat.

“Anak-anak di sini sering dikunjungi donatur atau peneliti asing, mungkin karena itu daya tangkap mereka cukup cepat terhadap Bahasa Inggris,” ungkap Ketut Kanta SE, penerjemah dan guru penuh dedikasi di sekolah ini.

Baru-baru ini, profilnya tayang di Metro TV dalam acara Eagle Awards berjudul “Profesor Kolok”. Kegiatan ini juga disambut baik oleh Kepala SDN 2 Bengkala, NyomanWijana AMd, mengingat desa tersebut ditunjuk sebagai Desa Sadar Wisata.

“Kami sangat senang ada pihak yang datang bersumbangsih secara sosial untuk mengajari anak-anak kami Bahasa Inggris, mengingat desa kami sedang dalam pembangunan Desa Wisata,” ungkapnya.

Hal yang sama disampaikan Kepala Desa Bengkala, I Made Arpana yang menyempatkan hadir. “Semoga membantu anak-anak, terutama yang tuli bisu karena mereka sering merasa termarjinalkan oleh dunia luar,” ujarnya.

Para siswa dan pejabat desa berharap kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan berkelanjutan. Bahkan di akhir kegiatan, beberapa siswa berkata seraya mencium hormat tangan kami, sambil meminta tim Bali Edukasi untuk datang kembali esok hari mengajari mereka Bahasa Inggris yang menyenangkan tersebut. (DN ~ TiR).—

Kiriman: I Gusti Putu Hendranatha Wijaya AMd
Anggota Bali Edukasi

Copyright © 2016. Terimakasih Telah Menjadi Bagian Penyebaran Informasi . Seluruh Isi Kontent Merupakan Hak Cipta DEWATA NEWS dan Media Partner : http://www.dewatanews.com/2015/09/mengajari-bahasa-inggris-siswa-kolok-di.html#ixzz4OIfvPTaM


Ayo Sumbangkan Buku Cerita untuk Bantu Siswa SD Gemar Baca

stand-pengumpulan-buku-bali-edukasi_20160310_205718

Link: http://bali.tribunnews.com/2016/03/10/ayo-sumbangkan-buku-cerita-untuk-bantu-siswa-sd-gemar-baca

Untuk arsip, saya kopi beritanya:

TRIBUN-BALI.com, DENPASAR – Pagi hari saat matahari malu menampakkan dirinya, panitia dari Bali Edukasi Fundraising & Expo berkumpul di area Car Free Day, Lapangan, Renon, Denpasar, Bali, pukul 05.00 Wita.

Mereka melakukan persiapan pembukaan stand penerimaan sumbangan buku untuk sekolah dasar dan menjual makanan sehat.

Koordinator Humas Bali Edukasi Fundraising & Expo, I Gede Heprin Prayasta mengatakan, kegiatan ini bertujuan menunjang acara Gemar Membaca Sejak Dini (Gemaseni) khususnya pada My Trip My Library.

“Jadi tiap bulan itu kami mengunjungi dua sekolah binaan SD Negeri 2 Bengkala dan SD Negeri 2 Keramas melalui program Gemaseni,” ujarnya kepada Tribun Bali, Kamis (10/3/2016).

Tiap kegiatan Gemaseni itu ada sesi membaca cerita, untuk kelas 1 SD masih diberikan story telling.

“Buku hasil sumbangan itu kami sumbangkan ke sekolah binaan. Sekarang satu buku masih dibaca empat siswa. Harapannya minimal satu siswa bisa pegang dan baca lebih dari satu buku,” katanya.

Ia juga menjelaskan, buku yang diperlukan itu buku cerita yang bergambar.

“Jadi kami ingin mengajak anak-anak usia dini untuk belajar untuk gemar membaca, tapi yang tak bikin mereka stres. Kami ingin mengajak gemar membaca mulai dari cerita anak,” jelas Heprin.

Heprin melanjutkan, kegiatan Bali Edukasi Fair and Expo itu selain menerima sumbangan buku, juga berjualan makanan sehat, serta mempromosikan acara Bali Edukasi.

“Kami juga ada jualan makanan sehat dari tim medis Bali Edukasi. Makanan yang dijual seperti susu, salad buah, kue keju sehat. Pokoknya yang baik untuk kesehatan, he he,” ulas alumni Sekolah Tinggi Ilmu Statistik itu.

Kurang lebih sebanyak seratus buku yang terkumpul itu rencana disumbangkan ke sekolah binaan Sabtu (12/3) lusa.

“Kami hanya ingin meningkatkan minat baca anak-anak. Ketika budaya membaca sudah dimulai sejak dini, maka mereka akan mudah menerima pelajaran karena buku adalah jendela dunia,” kata Heprin. (*)


Liputan Orasi Ilmiah di Nusa Penida Pos
E-Learning, Peluang di Tengah Tantangan Persaingan Global

eed-post-orasi

Untuk arsip, saya kopi beritanya disini:

SINGARAJA, NUSA PENIDA POST

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja (Undiksha) kini terus menggeliat menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik di tanah air. Sejak dirintis tahun 1955 lalu, Undiksha mengalami transformasi sejarah cukup panjang hingga perubahan status dari IKIP menjadi Universitas Pendidikan Ganesha (2006). Keberadaannya pun menjadikan Singaraja sebagai kota pendidikan namun tantangan dunia pendidikan semakin kompleks. Pesatnya perkembangan pengetahuan dan teknologi informasi seolah memaksa penyelenggaranya untuk berpacu lebih cepat. Penemuan teknologi baru yang dulunya sebatas mimpi, saat ini sudah bisa kita nikmati melalui lompatan yang tak biasa. Lalu, bagaimana Undiksha memandang hal tersebut sebagai perguruan tinggi pencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing?

E-learning (red; pembelajaran elektronik) menjadi salah satu terobosan dalam dunia pendidikan di tengah ketat persaingan global. Konsep pembelajaran inilah yang sedang coba diinisiasi melalui orasi ilmiah serangkaian Dies Natalis ke-XXII Undiksha yang dibawakan oleh Made Hery Santosa, S.Pd.,M.Pd.,Ph.d. Dalam paparannya, pembangunan kapasitas tidak saja meliputi penyiapan lulusan dengan cara memperoleh informasi, namun juga cara mereka merefleksi informasi di berbagai konteks baru. Perguruan tinggi secara terus menerus harus melakukan penyesuaian terhadap perubahan global. Pemanfaatan teknologi, termasuk e-learning untuk membantu siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi telah dimulai dengan integrasi ICT.

“Sungguh merupakan kehormatan dan penghargaan yang teramat tinggi dalam perjalanan karier akademis saya, karena pada saat Undiksha merayakan Dies Natalis ke-22 ini, saya berdiri di depan para hadirin untuk menyampaikan orasi ilmiah yang saya beri judul ‘E-Learning dan Undiksha: Peluang untuk Berdaya Saing Tinggi dan Berwawasan ‘Glocal’ dalam Pendidikan Abad 21,” ungkapnya pada sidang terbuka Senat, Jumat (16/1) lalu.

Sidang dihadiri langsung oleh pihak rektor dan jajaran, anggota Senat Undiksha, pejabat struktural, dosen serta pegawai berlangsung lancar. Hadir pula Pengurus Dharma Wanita Undiksha, Fungsionaris Lembaga Mahasiswa, Panitia Dies Natalis, undangan dan mahasiswa. Sidang berlangsung di Auditorium Kampus Tengah, Jalan Udayana, Singaraja..

Lulusan doktoral dari La Trobe University (2013) ini juga menambahkan, pendidikan tinggi kini dihadapkan pada pusaran kompetisi global yang menginginkan lulusannya siap mengisi kepentingan pasar, termasuk pasar global. Sebagai gambaran sederhana, lulusan universitas luar negeri jauh lebih siap untuk mengambil berbagai kesempatan kerja di Indonesia. Ketidaksiapan ini bisa menjadi bumerang yang otomatis menempatkan lulusan Indonesia di level bawah.

Namun, Bali secara tidak langsung memiliki keunggulan, masyarakatnya lebih dekat dengan perspektif dan konteks global. Pemahaman akan kearifan lokal yang sudah dimiliki ditambah perspektif global, sinergi ‘glocal’ ini akan membantu sumber dayanya berdaya saing lebih tinggi. Meski di satu sisi, sosial budaya, seperti rasa hormat, hirarki, pandangan akan pengalaman dan intuisi mampu membentuk karakter atau paling tidak mempengaruhi cara pandang seseorang. Namun jika dilakukan secara berlebihan, terutama di konteks pendidikan kekinian yang mengedepankan pemikiran kritis dan aktif, perspektif tersebut sangat mungkin mempengaruhi kualitas belajar individu.

Bagaimana menyiasati pandangan-pandangan yang sepertinya bertolak belakang tersebut? Jawabannya adalah teknologi. Dalam pendidikan abad 21, teknologi yang dimaksud yang bisa membantu peningkatan daya saing dan pemahaman global namun tetap mengakomodasi perspektif lokal adalah pemanfaatan secara efektife-learning. E-Learning bisa mengakomodasi pembelajaran terus menerus tanpa batas ruang dan waktu,” imbuh Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini.

Pihaknya pun tidak menampik akan muncul pandangan berbeda, salah satunya kekhawatiran mahasiswa masuk pada konten terlarang, namun sebisanya hal tersebut disaring dengan sistem yang ada. Inisiatif dirasa efektif untuk membantu belajar interaktif dengan memanfaatkan teknologi. Mahasiswa bisa belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing dengan beragam sumber informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik.

“Pembelajaran dengan pemanfaatan e-learning sebagai penerapan teknologi mutakhir akan memberi lulusan Undiksha kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, bekerja dalam tim, membuat keputusan dan merefleksi diri.Mereka akan siap berkompetisi di level tertinggi, di segala bidang,” tegasnya lagi.

Berdasarkan wawancara dan informasi dari pihak Puskom, LP3, tim elearning dan pelaku e-learning di Undiksha, diketahui bahwa lembaga ini sudah siap melaksanakan. Fasilitas dan infrastruktur mencakup server, bandwith, dan platform sudah tersedia dan siap. Satu server khusus saat ini dinilai siap dan jika diperlukan bisa ditambah menjadi 2 server.

Ayah dari Putu Rachela Avenia Santosa ini  kembali menegaskan hal mendasar saat ini adalah sustainibilitas atau usaha mensosialisasikan, mengisi konten, melaksanakan, evaluasi dan refleksi yang terus menerus. Berkaca dari otonomi yang dimiliki oleh Undiksha sebagai sebuah universitas, peluang untuk menegosiasikan berbagai tantangan menjadi kesempatan sangat terbuka lebar. Kebijakan strategis yang memfasilitasi kepentingan universitas harus lebih bisa dikembangkan. Besarnya jumlah mahasiswa menjadi dorongan dan memberi potensi besar akan terwujudnya pemanfaatan e-learning.

Tidak mudah memang menciptakan tatanan baru, berbagai tantangan bermunculan. Berbagai isu perlu mendapat perhatian serius seperti konektivitas, infrastruktur, fasilitas penunjang, maupun manajemen masih kerap muncul. Peluang besar menanti mengingat hanya sedikit perguruan tinggi di Bali yang benar-benar memanfaatkan e-learning dan teknologi mutakhir secara masif, berdampak dan terintegrasi.

“Sinergi harmonis ‘glocal’ ini harus terus dijaga agar kita semua bisa berdaya saing tinggi. Undiksha sudah memiliki keunggulan status PT Negeri yang akan lebih dilirik oleh calon mahasiswa. Namun, jika keunggulan ini ditambah dengan fitur unggulan baru dan menarik seperti e-learning, niscaya Undiksha akan melejit lebih jauh lagi tidak saja dari segi kuantitas, namun juga kualitas,” tutupnya diakhir orasi.

Penulis: I Wayan Sumerta W. A & I Gede Sumadi

Editor: I Gede Sumadi

Link: http://www.nusapenidamedia.com/e-learning-peluang-di-tengah-tantangan-persaingan-global/


Liputan Orasi Ilmiah di Pos Bali

orasi-ilmiah-made-hery-santosa-phd-pos-bali

Liputan Orasi Ilmiah di English Education Department Undiksha
Made Hery Santosa, Ph.D.: “E-Learning, an Important Milestone for Developing Undiksha’s Center of Excellence to prepare 21st Century Graduates”

eed-post-orasi

Untuk arsip, saya kopi beritanya dibawah ini:

SINGARAJA. Ganesha University of Education (Undiksha) has just celebrated its 22nd Anniversary. A series of agendas have been conducted, and one of them is Dies Natalis, held on January 16th, 2015 in the campus’ auditorium. In the event, all university senate members, faculty and study program or department representatives, student organizations’ representatives and invited guests or stakeholders from the provincial and Buleleng local governments gathered to attend the university’s annual Rector’s report on what Undiksha has achieved so far, which at the same time represents Undiksha’s commitment to its being a public institution (public accountability).

One of the traditions in every Dies Natalis is the Dies Natalis speech (called Academic Oration) delivered by a lecturer. This is usually from one selected lecturer who has just accomplished his/her doctorate program, and who is agreed upon by a panel of committees and the institutional leaders of the university. To English Education Department’s pride, for this year’s speech, Made Hery Santosa, Ph.D. – now, the department head – was assigned, following his predecessor, Dr. I Gede Budasi, M.Ed., who also had the honor to have the same assignment in the 2008’s Dies Natalis. In his speech, presented in a communicative way, Pak Hery, so he is usually called, addressed the issue of e-learning. He shared insights drawn from theories and experiences of universities in USA, Europe, and Asia, including that in Indonesia in implementing e-learning.

There are at least two major issues that are interesting to be put forward from the speech concerning e-learning. First is the power of e-learning in developing graduates’ 21st century skills (soft skills; generic skills; graduate attributes) – such as autonomy, critical thinking, team work, decision making, leadership – in order to be able to compete and catch up with human resources from other countries who he said as “having run speedily” (that is, to say that in some way we have been left behind). Included here is how e-learning can cope with some culturally inherited “Indonesian and Balinese”, Eastern socio-cultural values (passive, reticent, reluctant, hierarchy) that can potentially provide challenges for the development of the important 21st century skills on the part of our students. He said e-learning can help to create graduates who have both local wisdom and global (‘glocal’) perspectives, i.e. those who have good global insights while at the same time still having robust awareness of their own local and cultural identity. This kind of awareness is deemed to be very important in the middle of global competition, such as the in-coming ASEAN Economy Community.

The second important thing that he addressed is his own idea that e-learning can provide an alternative basis for Undiksha as the only state university of education in Bali to start off its centre of excellence development. Like Undiksha, there are many other universities in Indonesia and Bali – not to mention a lot more worldwide – which also provide teacher training and education program. In this tight global competition with other universities, Pak Hery believes that by building better e-learning capacity and making this as its distinct strength or feature, Undiksha can compete with the other universities and will be able to survive. Can Undiksha do it? As it is now becoming a bigger university, Pak Hery – as what he always says in front of his students – firmly believes: “Yes, Undiksha can.” Amen.

Link: http://eed.undiksha.ac.id/?p=606


Liputan Orasi Ilmiah di Dewata News

made-hery-santosa-saat-sampaikan-orasi

Liputan Orasi Ilmiah di Dies Natalis ke 22 Universitas Pendidikan Ganesha

Untuk arsip, saya kopi beritanya disini:

Buleleng, Dewata News.com – “E-Learning dan Undiksha: Peluang untuk berdaya saing tinggi dan wawasan ‘Glocal’ dalam pendidikan abad 21”,diangkat sebagai judul Orasi oleh Made Hery Santosa dalam rangka Dies Natalis ke-22 Undiksha yang disampaikan pada siding terbuka Senat Undiksha, Jumat (16/01).

Kenapa Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha ini mengangkat judul Orasi seperti itu? Menurut openyandang gelar doctor di La Trobe University, Australia (2013) ini, tiada lain berdasarkan refleksi dan penilaian dirinya terhadap perkembangan kajian pendidikan yang memanfaatkan teknologi, termasuk e-learning, dalam pembelajaran, bak dari pengalaman Negara-negara maju di benua Eropa, Amerika, Australia dan beberapa Negara Asia dan pengamatan detil di konteks Indonesia, khususnya daerah Bali.

”Dinamika arah ekonomi glbal dan pesatnya perkembangan teknologi saat ini telah merubah wawasan dan kebijakan banyak institusi di dunia,” ungkap Made Hery Santosa kelahiran Singaraja 23 Oktober 1979 ini.

Orasi yang disampaikan Made Hery Santosa dihadapan Senat Undiksha yang dibuka Ketua Senat Prof. Nyoman Sudiana itu dihadiri seluruh anggota senat, para pejabat struktural, parta dosen serta pegawai serta fungsionaris lembaha mahasiswa Undiksha Singaraja.

Ia mengungkapkan, Undiksha adalah perguruan tinggi negeri yang besar, namun sejauh mana nama Undiksha dikenal oleh konteks nasional atau internasional? ”Tugas kita sebagai komponen Undiksha membuat nama lembaga ini harum. Salah satu caranya, adalah dengan menjadi centre of excellence. Penerapan e-learning, khususnya di semua jenjang pendidikan di Undiksha secara integrative dan terpusat bisa menjadi langkah awal untuk mencapai mimpi menjadi centre excellence tersebut. Dan untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan, kita semua harus berani melangkahkan kaki,”: tegas suami Kadek Manik Permata ini.

Anggota Luar Biasa Pecinta Alam Mandala Bakti Tama ini juga mengatakan, penerapan e-learning ini juga bisa menjadi daya tarik bagi mahasiswa baru. Dengan kompetisi yang cendrung tinggi saat ini, ia yakin Undiksha yang sudah memiliki keunggulan status PT Negeri akan lebih dilirik oleh calon mahasiswa.

Namun, jika keunggulan ini ditambah dengan fitur unggulan baru dan menarik, seperti e-learning, Made Hery Santorsa optimis, Undiksha akan melejit lebih jauh lagi, tidak saja dari segi kuantitas, namun juga kualitas. (DN~TiR).—

Copyright © 2016. Terimakasih Telah Menjadi Bagian Penyebaran Informasi . Seluruh Isi Kontent Merupakan Hak Cipta DEWATA NEWS dan Media Partner :
http://www.dewatanews.com/2015/01/orasi-made-hery-pada-dies-natalis-e.html#ixzz4NcPUbikD


orasi-ilmiah-hery-prezi

Presentasi saya bisa dilihat disini.


Untuk arsip. Tulisan bisa dibaca di: http://www.persakademika.com/saatnya-mahasiswa-bali-belajar-ke-luar-negeri.html

 

Saatnya Mahasiswa Bali Belajar ke Luar Negeri

P_20150516_185853-1-300x225
 

Komunitas Pejuang Beasiswa Bali mengadakan kegiatan Clinical Workshop V di STMIK Primakara Jalan Tukad Badung 135 Denpasar, Sabtu, (16/5).

Komunitas Pejuang Beasiswa mengatakan bahwa tujuan clinical workshop ini untuk menginspirasi dan berbagi ilmu serta pengalaman dari para penerima beasiswa di luar negeri. Sebanyak 30 pemuda Bali hadir dalam acara ini.

Adapun para pembicara yang dihadirkan diantaranya Dewa Ayu Puteri Handayani (Penerima beasiswa S2 Lembaga Pengelola Dana Pendidikan di Leiden University, Belanda), Ade Wijayanthi (Penerima beasiswa S2 Australia Award Scholarship di Monash University, Australia), dan Irma Wulandari (Penerima beasiswa S2 Australia Award Scholarship). Ketiga pembicara ini membagikan strategi dan tips-tips untuk lolos dalam beasiswa yang dicari.

Sharing online juga dilakukan dengan Made Andi Arsana yang merupakan dosen UGM yang berasal dari Bali. Made Andi sebagai penulis buku ‘Anak Kampung Keliling Dunia’ ini memberikan motivasi untuk lolos beasiswa luar negeri. “Tuliskan curriculum vitae-mu sekarang, tempelkan di tembok, lihat setiap hari sebagai motivasi,” imbuh Made Andi, dosen Ilmu Geodesi, UGM.

Komunitas Pejuang Beasiswa ini didirikan akhir tahun lalu oleh seorang dosen Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha, Made Hery Santosa dan 2 anak muda Bali yaitu Sutaningrat Puspa Dewi dan Donnie Weda Dharmawan.

Made Hery berharap agar Pemuda Bali bisa mengenyam pendidikan hingga ke luar negeri. “Kita akan mengubah mindset orang Bali kalau ke luar negeri itu tidak hanya bekerja di kapal persiar,” tandasnya.

Made Hery juga memiliki keinginan besar untuk membuat sebuah buku yang berisikan pengalaman mahasiswa yang lolos beasiswa dan pengalamannya kuliah di luar negeri. “Jangka panjangnya ya seperti itu, sambil jalan saja,” tutup Made Hery.

Penulis: Donnie Weda Dharmawan, Komunitas Pejuang Beasiswa


2014

Ini berita lama, ketika mendirikan dan aktif membantu para pejuang beasiswa di Bali mencapai cita-citanya mencoba menembus beasiswa dan sekolah di luar negeri. Banyak pembelajaran, wawasan, dan jejaring pertemanan baik yang diperoleh.

Untuk arsip.

DIBALIK LAYAR PEJUANG BEASISWA

IMG_1361

 

Denpasar (18/10) – Clinical Workshop III merupakan kegiatan berbagi informasi mengenai beasiswa luar negeri. Acara ini dihadiri oleh depalan belas orang, bertempat di STIMIK Primakara Denpasar yang berlangsung dari pukul 16.30-20.00 WITA.

Kegiatan ini hadir setelah terselenggaranya Clinical Workshop Ipada 21 Juni 2014 di Inline House, Renon dan Clinical Workshop II pada 1 Juli 2014 di Mailaku Rumah Nongkrong, Singaraja. Clinical Workshop III menghadirkan pembicara yang membahas mengenai Recommendation Letter, LoA, Interview, Administration. “Ini merupakan acara kumpul bersama, berbagi mengenai pengalaman berjuang meraih beasiswa,” ungkap Made Hery Santosa, peraih beasiswa La Trobe University.

Dalam diskusi yang berlangsung tiga setengah jam ini juga menghadirkan Kitty Morin, peraih beasiswa AAS S2 di Monash University. “Kalau menulis aplikasi itu harus realistis, meskipun hal kecil tapi harus relevan dengan tujuan kita,” jelas Kitty yang juga sebagai pengajar di Universitas Cendrawasih. Kitty juga menjelaskan tentang harus mempelajari isi dari aplikasi (formulir) yang diunggah sebelum maju ke tahap wawancara. “Biasanya saat wawancara akan ditanyakan tentang aplikasi yang ditulis sebelumnya,” tegas Kitty.

Selain itu, Pande Made Sumartini juga berbagi pengalaman menganai keberhasilannya meraih beasiswa Fulbright di Amerika. “Saran saya, persyaratan sebelum mengajukan beasiswa minimal sudah dipersiapkan kurang lebih satu tahu,” ungkap Pande yang telah menulis kisah hidupnya dalam cerita berjudul “Kebaya Pinjaman”. Pande juga memberikan saran tentang penulisan surat rekomendasi, “Menulis recommendation letter jangan pernah nulis langsung kirim, disimpan dahulu kemudian dibaca dan diedit lagi agar lebih bagus.”

“Perjuangan meraih beasiswa itu tidak mudah, perlu tahapan yang berliku dan menguras tenaga,” tambah Helmy Syakh Alam, peraih beasiswa Indonesia-Austria Scholarship Programme. Helmy berbagi pengalamannya saat mengurus administrasi beasiswa yang mengharuskannya memenuhi persyaratan dokumen ke departemen terkait di Jakarta.

“Kehadiran pembicara disini bukan menggurui melainkan berbagi pengalaman mengenai berjuang beasiswa di luar negeri,” kata Hery Santosa. Hery juga mengungkapkan ini merupakan kegiatan sosial, tidak perlu bayar dan belum tentu menjamin lolos beasiswa. “Jika ingin sukses, harus ada niat dan kerja keras. Awal yang besar dimulai dari langkah yang kecil,” pesannya. Kegiatan ini ditutup dengan launching “Komunitas Pejuang Beasiswa”. (dj)

Berita asli bisa dibaca di: http://www.persakademika.com/4960.html








Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s