This page is to collect the columns that have been written in newspapers.

Konferensi Abal-abal dan Komoditas Akademik

I Putu Mardika

Dipublikasikan Selasa, 18 Ags 2026 | 13:41 WIB

Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha
Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Temuan investigasi Kompas baru-baru ini mengenai dugaan konferensi ilmiah abal-abal seharusnya menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia. Jika benar sebuah konferensi dipromosikan sebagai forum ilmiah internasional, tetapi aktivitasnya tidak pernah berlangsung sebagaimana diumumkan, persoalannya tidak lagi sekadar pelanggaran administratif. Ini adalah persoalan integritas akademik.

Dalam beberapa tahun terakhir, konferensi ilmiah tumbuh sangat pesat. Pada satu sisi, fenomena ini patut diapresiasi karena menyediakan ruang bagi akademisi untuk bertukar gagasan, membangun jejaring riset, dan mempercepat diseminasi pengetahuan.

Namun, di sisi lain, konferensi juga berubah menjadi industri yang sangat menggiurkan. Ketika orientasi bergeser dari pengembangan ilmu menuju transaksi sertifikat, prosiding, atau publikasi jurnal, maka substansi akademik perlahan kehilangan maknanya

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Sistem akademik yang sangat menekankan angka kredit, jumlah publikasi, dan indikator kuantitatif sering kali mendorong sebagian akademisi mencari jalan tercepat untuk memenuhi tuntutan administratif. Dalam situasi seperti itu, konferensi predator hadir menawarkan solusi instan, yaitu proses penerimaan yang sangat mudah, telaah sejawat yang minim, bahkan terkadang tanpa presentasi yang sesungguhnya.

Ironisnya, semua tampak resmi. Ada laman web yang meyakinkan, sertifikat, ISBN prosiding, nama-nama jurnal, bahkan nama-nama profesor yang dicantumkan sebagai pembicara atau anggota komite ilmiah. Padahal, esensi konferensi ilmiah bukanlah sertifikat, melainkan dialog akademik yang kritis, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih mengkhawatirkan lagi apabila akademisi senior atau bahkan guru besar terlibat, baik sebagai penyelenggara maupun karena namanya digunakan tanpa verifikasi yang memadai. Guru besar bukan sekadar jabatan akademik tertinggi, melainkan simbol kepemimpinan moral dalam dunia ilmu pengetahuan. Ketika simbol tersebut kehilangan kredibilitas, yang ikut tergerus adalah kepercayaan publik terhadap universitas.

Pada hakikatnya, integritas akademik dibangun di atas kejujuran, tanggung jawab, objektivitas, keterbukaan, keadilan, dan akuntabilitas. Nilai-nilai tersebut tidak hanya berlaku dalam penulisan artikel atau penelitian, tetapi juga dalam seluruh ekosistem akademik, termasuk penyelenggaraan konferensi. Konferensi yang tidak memiliki proses seleksi yang bermutu, tidak menghadirkan forum diskusi yang nyata, atau sekadar menjual sertifikat telah mengingkari seluruh prinsip tersebut.

Persoalan ini sesungguhnya juga berkaitan erat dengan budaya berbasis merit. Dunia akademik yang sehat memberikan penghargaan kepada kualitas karya, bukan kepada banyaknya sertifikat. Pengakuan akademik seharusnya lahir dari kontribusi terhadap ilmu pengetahuan, bukan dari kemampuan membeli ruang publikasi.

Meritokrasi dalam pendidikan tinggi berarti dosen naik jabatan karena kualitas penelitian, dampak publikasi, inovasi pembelajaran, kontribusi kepada masyarakat, dan kepemimpinan akademiknya. Bukan karena berhasil mengumpulkan dokumen administratif melalui jalur yang paling mudah.

Di banyak universitas terbaik dunia, reputasi seorang akademisi dibangun selama puluhan tahun melalui konsistensi menghasilkan penelitian berkualitas, membimbing mahasiswa, membangun kolaborasi internasional, dan menjaga integritas ilmiah. Tidak ada jalan pintas menuju reputasi akademik.

Lebih jauh lagi, kompetensi akademik sejatinya adalah kompetensi berbasis kinerja (performance-based competence). Yang diukur bukan sekadar berapa kali seseorang hadir dalam konferensi, melainkan apa yang dihasilkannya setelah konferensi tersebut. Apakah risetnya berkembang? Apakah lahir kolaborasi internasional? Apakah muncul publikasi yang lebih baik? Apakah ada inovasi pembelajaran baru? Apakah penelitiannya memberikan solusi bagi masyarakat? Jika semua pertanyaan tersebut dijawab tidak, maka konferensi itu hanya menjadi perjalanan administratif yang mahal.

Sudah saatnya ukuran keberhasilan akademik bergeser dari output menuju outcome, bahkan impact. Publikasi hanyalah salah satu keluaran. Dampak terhadap ilmu pengetahuan, pendidikan, kebijakan, industri, dan masyarakat adalah tujuan yang jauh lebih penting. Karena itu, setiap akademisi perlu semakin kritis sebelum mengikuti sebuah konferensi. 

Beberapa langkah sederhana dapat menjadi panduan, yakni:

1.     Telusuri rekam jejak penyelenggara. Universitas atau organisasi ilmiah yang kredibel biasanya memiliki sejarah penyelenggaraan yang jelas.

2.     Periksa siapa anggota komite ilmiah dan pastikan mereka benar-benar terafiliasi dengan konferensi tersebut.

3.     Lihat kualitas proses peer review. Konferensi yang menerima artikel hanya dalam hitungan satu atau dua hari patut dicurigai.

4.     Pastikan lokasi dan agenda acara dapat diverifikasi secara terbuka.

5.     Perhatikan publikasi prosiding atau artikel dalam jurnal yang dijanjikan. Prosiding dan publikasi artikel di jurnal yang bereputasi memiliki proses editorial yang transparan dan indeksasi yang jelas, bukan sekadar menjanjikan terindeks tanpa penjelasan.

6.     Jangan mudah tergoda oleh janji publikasi instan, biaya murah, atau promosi yang berlebihan. Dalam dunia akademik, kualitas hampir selalu membutuhkan proses.

7.     Manfaatkan konferensi sebagai ruang belajar. Datanglah untuk memperoleh kritik, memperbaiki penelitian, memperluas jejaring, dan membangun kolaborasi jangka panjang, bukan hanya untuk memperoleh sertifikat.

Di sisi lain, pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga akreditasi juga perlu melakukan pembenahan. Sistem penilaian dosen hendaknya semakin menitikberatkan kualitas dan dampak karya ilmiah daripada sekadar jumlah publikasi atau kehadiran dalam konferensi. Mekanisme verifikasi terhadap konferensi ilmiah juga perlu diperkuat agar akademisi tidak mudah menjadi korban maupun pelaku praktik predator.

Kita membutuhkan budaya akademik yang menghargai kerja keras, kejujuran, dan kualitas. Ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari jalan pintas, melainkan dari proses panjang yang sering kali penuh revisi, kritik, dan kegagalan. Justru melalui proses itulah lahir pengetahuan yang dapat dipercaya.

Kasus konferensi abal-abal hendaknya menjadi momentum refleksi bersama. Dunia akademik tidak boleh terjebak dalam perlombaan mengumpulkan angka kredit semata. Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem yang menjunjung integritas, mengedepankan kompetensi berbasis kinerja, dan menempatkan meritokrasi sebagai fondasi utama.

Konferensi ilmiah bukanlah tempat berburu sertifikat. Ia adalah ruang bertemunya gagasan, lahirnya kolaborasi, dan berkembangnya ilmu pengetahuan. Ketika integritas menjadi kompas, setiap karya ilmiah akan memiliki makna. 

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti

Universitas Pendidikan Ganesha

Editor : I Putu Mardika

Tautan: https://baliexpress.jawapos.com/kolom/2608180011/konferensi-abal-abal-dan-komoditas-akademik


Belajar dari Pendidikan di Malaysia: Mengapa Tetangga Kita Bisa Jadi Cermin Indonesia?

Dipublikasikan Selasa, 4 Ags 2026 | 19:30 WIB

Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Universitas Pendidikan Ganesha
Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Universitas Pendidikan Ganesha

BALIEXPRESS.ID-Setelah saya berbincang-bincang dengan beberapa teman dari dan yang bekerja di Malaysia tentang pendidikannya dan setelah membaca beberapa sumber, saya melihat beberapa hal menarik yang perlu dan penting untuk dituliskan, mengenai apa yang bisa dipelajari dari pendidikan Malaysia. Kalau membandingkan pendidikan Indonesia dengan Finlandia, Singapura, Jepang, atau Korea Selatan, kita sering mempunyai alasan yang mudah. Negaranya lebih kecil. Lebih kaya. Penduduknya lebih sedikit. Sistem pemerintahannya berbeda. Tetapi bagaimana kalau yang dibandingkan adalah Malaysia? Di sinilah perbandingan menjadi lebih menarik sekaligus lebih dekat.

Indonesia dan Malaysia sama-sama negara Asia Tenggara. Keduanya masyarakat multikultural dan multibahasa, pernah mengalami kedatangan bangsa asing, menghadapi kesenjangan wilayah, serta sama-sama berusaha membangun pendidikan sebagai fondasi pembangunan nasional. Indonesia bahkan memiliki keunggulan yang tidak kecil, yaitu penduduk yang sangat besar, sumber daya alam melimpah, ribuan perguruan tinggi, jutaan guru, pasar domestik besar, dan anggaran pendidikan yang secara konstitusional memperoleh tempat istimewa. Tetapi dalam banyak indikator pendidikan, Malaysia masih berada di depan IndonesiaPISA 2022 memberikan gambaran sederhana.

Dalam Matematika, sekitar 41 persen siswa Malaysia mencapai setidaknya Level 2, dibandingkan hanya 18 persen siswa Indonesia. Dalam Membaca, angkanya sekitar 42 persen berbanding 25 persen. Dalam Sains, sekitar 52 persen siswa Malaysia mencapai kompetensi minimum tersebut, sedangkan Indonesia sekitar 34 persen. Perbedaannya besar. 

Namun ada fakta lain yang sama pentingnya. Malaysia juga sedang menghadapi masalah. Prestasi PISA Malaysia pada 2022 turun dibandingkan 2018 dalam Matematika, membaca, dan sains. Dalam membaca dan sains, penurunan tersebut bahkan menghapus banyak kemajuan yang telah dicapai antara 2012 dan 2018. Jadi, Malaysia bukan cerita tentang sistem pendidikan yang sempurna. Ia lebih tepat menjadi cermin bagi Indonesia

Bukan untuk bertanya, mengapa kita tidak menjadi seperti Malaysia? Tetapi, apa yang telah dilakukan Malaysia dengan lebih baik, apa yang ternyata tidak berhasil di sana, dan apa yang dapat Indonesia pelajari tanpa kehilangan karakter pendidikan kita sendiri? 

Pendidikan sebagai Bagian dari Strategi Pembangunan

Salah satu perbedaan penting adalah cara Malaysia sejak lama menghubungkan pendidikan dengan pembangunan ekonomi. Setelah kemerdekaan, Malaysia menghadapi persoalan yang juga sangat kompleks, yakni bagaimana membangun identitas nasional dalam masyarakat Melayu, Tionghoa, India, dan berbagai kelompok lainnya, sambil mempersiapkan tenaga kerja untuk negara yang sedang melakukan industrialisasi. 

Pendidikan kemudian tidak hanya dipandang sebagai urusan sekolah. Ia berhubungan dengan pembangunan sumber daya manusia, industrialisasi, penguasaan bahasa, STEM, perguruan tinggi, dan daya saing ekonomi. Hubungan ini menjadi semakin terlihat ketika Malaysia bertransformasi dari ekonomi berbasis komoditas menuju manufaktur, elektronik, jasa, dan kemudian ekonomi digital. Sekolah harus menghasilkan manusia yang dapat mengisi transformasi tersebut. Di sinilah pelajaran pertama bagi IndonesiaPendidikan tidak boleh berjalan sendiri sementara kebijakan industri berjalan ke arah lain dan kebijakan tenaga kerja bergerak ke arah lainnya lagi.

Kita membutuhkan pertanyaan sederhana, Indonesia ingin menjadi negara seperti apa pada 2045? Kemudian pertanyaan berikutnya, manusia seperti apa yang diperlukan untuk membangun negara tersebut? Barulah pendidikan dirancang untuk mempersiapkannya.

Malaysia Education Blueprint: Pentingnya Peta Jalan

Salah satu hal yang menarik dari Malaysia adalah keberadaan Malaysia Education Blueprint 2013-2025. Dokumen ini bukan sekadar kurikulum. Ia merupakan peta jalan transformasi pendidikan dengan sebelas perubahan besar yang menyentuh akses, kualitas, kesetaraan, bahasa, guru, kepemimpinan sekolah, teknologi, tata kelola, hingga efisiensi sistem. Pada tanggal 20 Januari 2026, Malaysia melanjutkan Peta Jalan 2013-2025 menjadi Rancangan Pendidikan Negara (RPN) 2026-2035. Ini memberikan satu pelajaran penting, yaitu reformasi pendidikan harus lebih besar daripada reformasi kurikulum.

Indonesia sangat sering memperdebatkan kurikulum. Padahal kurikulum hanyalah satu komponen. Sekolah yang gurunya kekurangan kompetensi tidak akan berubah hanya karena kurikulumnya berubah. Sekolah yang tidak memiliki perpustakaan, laboratorium, internet atau toilet layak juga tidak otomatis menjadi sekolah abad ke-21 setelah menerima dokumen kurikulum abad ke-21. Dan guru yang kesejahteraannya buruk tidak tiba-tiba menjadi profesional hanya karena diwajibkan menerapkan pendekatan pedagogis terbaru. Pendidikan adalah sistem. Maka yang harus direformasi adalah sistemnya.

Guru Tetap Menjadi Kuncinya

Malaysia juga memberikan perhatian besar terhadap profesionalisasi guru. Dalam berbagai program reformasinya, peningkatan kualitas guru ditempatkan sebagai salah satu fondasi utama. Hal yang menarik terlihat dalam pendidikan Bahasa Inggris. Malaysia menetapkan standar kemampuan Bahasa Inggris guru dengan mengacu pada CEFR, Common European Framework of Reference for Languages. Targetnya jelas bahwa guru Bahasa Inggris diharapkan mencapai sekurang-kurangnya CEFR C1 (tingkat mahir). Artinya, guru-guru hendaknya kompeten berbahasa Inggris. 

Target kemampuan siswa juga dipetakan berdasarkan jenjang. Ini penting bukan karena Indonesia harus meniru CEFR begitu saja, melainkan karena Malaysia memberikan contoh tentang kejelasan standar kompetensi. Indonesia memiliki jutaan guru dengan kualitas, latar belakang pendidikan, akses pelatihan, kondisi kerja, dan kompetensi yang sangat beragam. Maka pertanyaan yang harus kita jawab bukan sekadar apakah guru sudah tersertifikasi? Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang benar-benar dapat dilakukan guru setelah tersertifikasi? Bisakah guru merancang pembelajaran yang membuat siswa berpikir? Bisakah guru memberikan umpan balik berkualitas? Bisakah guru mengajar anak dengan kemampuan berbeda? Bisakah guru menggunakan teknologi dan AI secara pedagogis? Bisakah guru menilai kemampuan berpikir kritis? Bisakah guru terus belajar? Sertifikat adalah dokumen. Kompetensi adalah kemampuan nyata. Sebaiknya, dua hal ini tidak dicampuradukkan. 

Gaji Guru dan Martabat Profesi

Di sinilah persoalan kesejahteraan guru tidak dapat dihindari. Indonesia tidak mungkin membangun pendidikan kelas dunia jika sebagian gurunya masih harus mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita menginginkan guru menguasai AI, melakukan asesmen autentik, memahami pembelajaran mendalam, melaksanakan diferensiasi, mengembangkan karakter, mengurus administrasi, mengikuti pelatihan, bahkan melakukan penelitian. 

Tetapi, kita terkadang lupa bertanya, apakah profesi guru telah memberikan kehidupan yang layak bagi mereka? Malaysia memang bukan surga bagi guru. Mereka juga menghadapi persoalan beban kerja, kekurangan guru tertentu, penempatan, dan tekanan administratif. Namun pelajarannya tetap penting. Jika Indonesia ingin menarik anak-anak terbaik bangsa menjadi guru, profesi guru harus menawarkan tiga hal sekaligus, yakni martabat, kesejahteraan, dan masa depan profesional. 

Gaji harus layak, tetapi gaji saja tidak cukup. Kesejahteraan harus diikuti seleksi yang ketat, pendidikan profesi berkualitas, mentoring, pengembangan profesional berkelanjutan, evaluasi kompetensi, serta jalur karier yang jelas. Kita harus berani membayangkan sistem ketika lulusan terbaik SMA berkata, “Saya ingin menjadi guru.” Bukan karena tidak diterima di tempat lain, tetapi karena menjadi guru merupakan salah satu profesi terbaik di Indonesia

Bahasa Inggris: Pelajaran yang Tidak Boleh Diabaikan

Ada satu bidang yang menarik untuk dibandingkan, yakni bahasa. Malaysia secara strategis menempatkan Bahasa Melayu sebagai identitas nasional tetapi tetap memberikan perhatian besar terhadap Bahasa Inggris sebagai bahasa global. Dalam Malaysia Education Blueprint, peningkatan penguasaan Bahasa Inggris menjadi agenda strategis. Kompetensi guru diperkuat dan kemampuan siswa dikaitkan dengan standar internasional. Mengapa ini penting? Karena Bahasa Inggris hari ini bukan sekadar mata pelajaran. Ia merupakan pintu menuju ilmu pengetahuan, teknologi, publikasi akademik, pendidikan internasional, ekonomi digital, pariwisata, dan sekarang kecerdasan buatan. 

Indonesia tidak perlu mengorbankan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Justru sebaliknya, kita perlu membangun generasi yang kuat Bahasa Indonesianya, mencintai bahasa daerahnya, tetapi mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris pada tingkat global. Nasionalisme dan kemampuan berbahasa global bukan dua hal yang bertentangan. Anak Indonesia harus mampu membaca Pramoedya, memahami kearifan lokal Bali, Jawa, Papua atau Minangkabau, sekaligus membaca jurnal internasional, berbicara dalam konferensi global, dan berkolaborasi dengan manusia dari berbagai negara. 

STEM, Teknologi, dan Masa Depan

Malaysia juga cukup konsisten memberikan perhatian kepada STEM. Pengembangan profesional guru STEM diarahkan tidak hanya pada penguasaan isi pelajaran, tetapi juga pedagogi STEM, penerapan STEM dalam persoalan nyata, integrasi lintas bidang, serta literasi data, digital, dan teknologi. Indonesia sebenarnya melakukan banyak hal serupa. Masalahnya kembali pada implementasi. Kita memiliki sekolah dengan robotika dan laboratorium canggih. Tetapi kita juga mempunyai sekolah yang koneksi internetnya masih menjadi kemewahan. 

Kita berbicara tentang artificial intelligence sementara sebagian anak masih berjuang memperoleh buku. Paradoks inilah yang harus diselesaikan. Transformasi digital pendidikan Indonesia tidak boleh hanya menghasilkan sekolah-sekolah unggulan yang semakin unggul. Teknologi harus menjadi alat memperkecil kesenjangan. Jika tidak, AI justru akan menciptakan jurang pendidikan baru, yaitu anak yang memiliki perangkat, internet, guru berkualitas, kemampuan Bahasa Inggris dan AI literacy akan melaju sangat cepat dan anak yang tidak memilikinya akan semakin tertinggal. 

Tetapi, jangan terlalu cepat mengagumi Malaysia. Negara ini juga menghadapi masalah serius. PISA 2022 menunjukkan kemunduran. Hanya sekitar 41 persen siswa Malaysia mencapai kompetensi minimum Matematika, 42 persen Membaca, dan 52 persen Sains. Artinya mayoritas siswa Malaysia pun belum mencapai kompetensi minimum dalam Matematika dan membaca menurut ukuran PISA. Kesenjangan sosial ekonominya juga cukup besar. Dalam Matematika, siswa dari kelompok sosial ekonomi teratas di Malaysia mengungguli kelompok terbawah sekitar 82 poin. 

Ada pula persoalan kekurangan guru. Pada PISA 2022, sekitar 24 persen siswa Malaysia berada di sekolah yang kepala sekolahnya melaporkan bahwa kapasitas pembelajaran terganggu oleh kekurangan tenaga pengajar. Jadi Malaysia bukan model yang harus mutlak disalin. Malaysia sendiri sedang berjuang memperbaiki pendidikannya. Dan justru di situlah nilai perbandingannya. Kita dapat belajar bukan hanya dari keberhasilannya, tetapi juga dari kegagalannya.

Jangan Menjadi Malaysia, Vietnam, atau Singapura

Ada kecenderungan dalam diskusi pendidikan Indonesia untuk mencari negara yang dapat ditiru. Dulu Finlandia, kemudian Singapura, sekarang mungkin Vietnam, dan Malaysia juga sering menjadi pembanding. Tetapi Indonesia tidak perlu menjadi salah satu dari mereka. Indonesia mempunyai persoalan yang jauh lebih kompleks. Kita memiliki lebih dari 17.000 pulau, ratusan bahasa, wilayah yang sangat luas, ketimpangan pembangunan, masyarakat yang sangat beragam, dan lebih dari 50 juta peserta didik. 

Model pendidikan untuk Jakarta tidak selalu dapat diterapkan begitu saja di Papua. Kebutuhan sekolah di Denpasar berbeda dengan sekolah di pedalaman Kalimantan. Sekolah inklusif mempunyai kebutuhan berbeda dengan sekolah reguler. Karena itu Indonesia membutuhkan sistem yang memiliki standar nasional yang kuat tetapi fleksibilitas lokal yang besar.

Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?

Jika pengalaman Malaysia, Vietnam, dan pengalaman kita sendiri dibaca bersama, setidaknya ada delapan perubahan mendasar yang perlu dilakukan yang bisa dijabarkan sebagai berikut.

1.     Buat peta jalan pendidikan Indonesia 20-25 tahun yang melampaui periode pemerintahan. Menteri boleh berganti, Presiden boleh berganti, tetapi visi pendidikan bangsa tidak boleh dimulai kembali dari nol setiap lima tahun.

2.     Lakukan revolusi kualitas guru. Buat profesi guru sangat kompetitif sejak masuk LPTK. Tingkatkan kualitas pendidikan guru, praktik mengajar, mentoring, kompetensi digital dan AI, Bahasa Inggris, pedagogi, serta kemampuan asesmen.

3.     Tingkatkan kesejahteraan dengan tuntutan profesionalisme yang seimbang. Guru harus memperoleh kehidupan layak. Tetapi masyarakat juga berhak memperoleh guru berkualitas. Hak dan profesionalisme harus berjalan bersama.

4.     Ganti kurikulum dengan kajian kuat dan ilmiah. Lebih baik memperbaiki implementasi satu kurikulum secara konsisten selama bertahun-tahun daripada mengganti istilah dan dokumen tetapi praktik kelas tetap sama.

5.     Tetapkan standar minimum fasilitas pendidikan. Tidak boleh ada sekolah Indonesia tanpa toilet layak, air bersih, ruang belajar aman, perpustakaan dasar, listrik, dan akses teknologi minimum. Pada era digital, konektivitas harus mulai dipandang sebagai infrastruktur pendidikan dasar.

6.     Bangun kemampuan Bahasa Inggris tanpa mengorbankan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Multilingualisme harus dipandang sebagai kekuatan Indonesia.

7.     Jadikan STEM, digital literacyAI literacycritical thinkingcreativitycollaboration, dan karakter sebagai kemampuan nyata, bukan sekadar kata-kata dalam dokumen kurikulum.

8.     Dan yang paling penting, berikan lebih banyak kepada mereka yang membutuhkan lebih banyak. Sekolah miskin harus menerima sumber daya lebih besar. Guru di daerah 3T harus mendapatkan insentif lebih tinggi. Sekolah inklusif harus memperoleh tenaga dan teknologi pendukung. Anak dengan keterbatasan ekonomi harus mendapatkan dukungan lebih besar. Karena pendidikan yang adil bukan pendidikan yang memberikan hal yang sama kepada setiap anak. Pendidikan yang adil memberikan apa yang dibutuhkan setiap anak agar dapat berkembang secara optimal.

Dari Malaysia Kita Belajar Konsistens

Malaysia memberikan satu pelajaran yang mungkin lebih penting daripada skor PISA. Pendidikan harus mempunyai hubungan yang jelas dengan arah pembangunan bangsa. Guru, bahasa, STEM, pendidikan tinggi, teknologi, dan kebutuhan ekonomi tidak boleh berjalan sebagai pulau-pulau kebijakan yang terpisah. Indonesia sebenarnya memiliki hampir semua bahan yang dibutuhkan untuk membangun sistem pendidikan yang hebat. Kita memiliki guru, universitas, teknologi, anggaran, generasi muda yang luar biasa besar, kekayaan budaya yang mungkin tidak dimiliki negara mana pun. Yang sering kurang adalah kemampuan membuat semuanya bergerak ke arah yang sama secara konsisten. 

Malaysia menunjukkan bahwa perencanaan jangka panjang penting. Vietnam menunjukkan bahwa negara dengan sumber daya terbatas pun dapat menghasilkan pembelajaran yang kuat. Singapura menunjukkan pentingnya kualitas guru dan tata kelola. Tetapi Indonesia tidak perlu menjadi ketiganya. Indonesia harus membangun keunggulannya sendiri. 

Pendidikan Indonesia yang terbaik bukanlah pendidikan yang membuat anak-anak kita sekadar mampu mengalahkan Malaysia dalam PISA. Pendidikan terbaik adalah ketika seorang anak di Jakarta, Bali, Flores, Maluku atau Papua mempunyai kesempatan yang sama untuk bertemu guru hebat, belajar di sekolah yang layak, menguasai bahasa dan teknologi, berpikir kritis, mencipta, serta tumbuh menjadi manusia yang berkarakter.

Penting untuk dicatat bahwa kompetisi pendidikan yang sebenarnya bukan Indonesia melawan Malaysia. Bukan pula Indonesia melawan Vietnam atau Singapura. Kompetisi terbesar kita adalah antara Indonesia hari ini dan Indonesia yang seharusnya dapat kita bangun dua puluh tahun dari sekarang. Dan untuk ‘memenangkan’ kompetisi itu, kita tidak kekurangan sumber daya.

Kita membutuhkan konsistensi jangka panjang, visi bersama, dan keberpihakan kepada guru dan anak.

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti

Universitas Pendidikan Ganesha

Editor : I Putu Mardika

Tautan: https://baliexpress.jawapos.com/kolom/2608040012/belajar-dari-pendidikan-di-malaysia-mengapa-tetangga-kita-bisa-jadi-cermin-indonesia


Tri Kaya Parisudha di Era Agentic AI: Menjaga Kedalaman Belajar dan Kejernihan Berpikir

Dipublikasikan Selasa, 21 Jul 2026 | 19:57 WIB

Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Universitas Pendidikan Ganesha
Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Universitas Pendidikan Ganesha

BALIEXPRESS.ID-Dari beberapa kegiatan akademik dan bacaan, baik yang sifatnya populer atau ilmiah yang saya ikuti dan baca terkait bidang Artificial Intelligence (AI) dalam konteks pendidikan, khususnya pendidikan Bahasa Inggris, secara umum, kesimpulannya masih tetap sama. Pakar-pakar menyatakan bahwa manusia harus bekerja sama dengan AI, dan dalam proses belajar, manusialah yang menjadi pilot dan AI menjadi co-pilotnya.

Dalam istilah ilmiahnya, learning (pedagogy) first, technology second. Pertanyaannya, apa ada hal baru? Secara umum, beberapa temuan baru dalam riset terkait topik ini, mulai dari munculnya beragam kerangka integrasi, prosedur implementasinya, kesiapan, dan agentic AI. Ya, AI memasuki tahap perkembangan yang semakin maju. Jika sebelumnya AI terutama digunakan untuk menjawab pertanyaan, menerjemahkan teks, atau memperbaiki tata bahasa, kini teknologi bergerak menuju apa yang disebut agentic AI.

Teknologi ini tidak hanya menunggu satu perintah, tetapi dapat merencanakan langkah, memilih strategi, menggunakan berbagai perangkat, mengevaluasi hasil, dan menyelesaikan serangkaian pekerjaan dengan tingkat kemandirian tertentu. Misalnya, Gemini Notebook (sebelumnya dikenal sebagai NotebookLM) sekarang dikategorikan sebagai agentic AI setelah menggunakan Gemini 3.5 dan Antigravity – sebuah ekosistem dan kerangka kerja buatan Google – yang mengubah peran dari awalnya sekedar alat pembaca dokumen pasif menjadi agen riset otonom yang interaktif. 

Dalam pembelajaran bahasa Inggris, agentic AI dapat membantu peserta didik menyusun rencana belajar, memilih bahan bacaan sesuai kemampuan, membuat latihan kosakata, memberikan umpan balik terhadap tulisan, menyimulasikan percakapan, hingga merekomendasikan kegiatan lanjutan berdasarkan kelemahan pembelajar. Teknologi tersebut seolah-olah hadir sebagai tutor pribadi yang selalu tersedia.

Kemampuan itu tentu menawarkan peluang besar. Namun, semakin mandiri sebuah teknologi, semakin besar pula kebutuhan manusia untuk menentukan arah, tujuan, dan batas penggunaannya. Persoalan utama bukan lagi sekadar apakah siswa dan guru mampu menggunakan AI, tetapi apakah mereka mampu menggunakannya dengan pikiran yang jernih, bahasa yang baik, tindakan yang bertanggung jawab, dan tujuan pembelajaran yang bermakna.

Dalam konteks tersebut, filosofi Tri Kaya Parisudha menjadi sangat relevan. Tri Kaya Parisudha mengajarkan tiga dasar perilaku manusia, yaitu manacika, berpikir yang baik dan benar, wacika, berkata atau berkomunikasi dengan baik, dan kayika, bertindak dan berperilaku dengan baik. Ketiganya dapat menjadi kompas moral sekaligus kerangka pedagogis dalam penggunaan AI. 

Filosofi ini juga sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam (deep approach to learning). Pembelajaran mendalam tidak cukup dipahami sebagai penggunaan teknologi canggih atau penyelesaian materi dalam jumlah besar. Pembelajaran mendalam terjadi ketika peserta didik memahami makna, menghubungkan gagasan, mempertanyakan informasi, merefleksikan proses, memecahkan persoalan, dan mampu menerapkan pengetahuan dalam situasi baru. Pembelajaran seperti ini menuntut kesadaran, keterlibatan, dan tanggung jawab, bukan sekadar kecepatan memperoleh jawaban. 

AI dapat membantu pembelajaran menjadi lebih personal, interaktif, dan kaya akan sumber. Namun, AI juga dapat mendorong pembelajaran permukaan (surface approach to learning)  apabila siswa hanya meminta jawaban, menyalin hasil, dan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin. Karena itu, Tri Kaya Parisudha penting untuk memastikan bahwa kecanggihan teknologi tidak menghilangkan kedalaman belajar. 

Manacika: Berpikir Baik di Tengah Kemudahan Jawaban

Manacika merupakan dasar pertama dalam Tri Kaya Parisudha. Dalam pemanfaatan AI, manacika berarti menggunakan teknologi dengan niat yang baik, tujuan yang jelas, pertimbangan yang matang, dan kemampuan berpikir kritis. AI dapat menghasilkan jawaban yang tersusun rapi, logis, dan meyakinkan. Namun, jawaban yang terlihat cerdas belum tentu benar. AI dapat memberikan informasi yang tidak akurat, membuat sumber yang tidak pernah ada, menyederhanakan persoalan kompleks, atau mengulang bias yang terdapat dalam data pelatihannya. Oleh karena itu, peserta didik tidak boleh memosisikan AI sebagai sumber kebenaran terakhir.

Di sinilah critical thinking menjadi bagian utama dari manacika. Berpikir kritis tidak berarti selalu mencurigai atau menolak AI, tetapi mampu mengajukan pertanyaan yang tepat: Apakah informasi ini benar? Apa bukti yang mendukungnya? Apakah ada sudut pandang lain? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Bagian mana yang merupakan fakta dan bagian mana yang berupa interpretasi? Siapa yang mungkin dirugikan oleh jawaban ini? 

Misalnya, dalam kelas menulis bahasa Inggris, guru meminta siswa membuat esai argumentatif mengenai penggunaan telepon pintar di sekolah. Seorang siswa dapat meminta AI menulis seluruh esai. Dalam beberapa detik, AI akan menghasilkan pendahuluan, argumen, contoh, dan kesimpulan. Secara tata bahasa, hasilnya mungkin cukup baik. Namun, apabila siswa langsung menyerahkannya, kegiatan tersebut tidak menghasilkan pembelajaran mendalam. Siswa memperoleh produk, tetapi kehilangan proses berpikir.

Penerapan manacika dapat dilakukan dengan meminta siswa menggunakan AI secara bertahap. Pertama, siswa merumuskan posisi mereka sendiri. Kedua, AI diminta memberikan argumen yang mendukung dan menentang posisi tersebut. Ketiga, siswa memeriksa kekuatan setiap argumen, mencari bukti tambahan, dan menentukan pandangan akhirnya. Dengan cara ini, AI berperan sebagai pemantik pemikiran, bukan pengganti pikiran. 

Contoh lainnya dapat diterapkan dalam kegiatan membaca. Siswa membaca sebuah artikel berbahasa Inggris mengenai perubahan iklim. Mereka kemudian meminta AI merangkum teks tersebut. Setelah itu, siswa membandingkan ringkasan AI dengan teks asli. Mereka menandai informasi penting yang hilang, bagian yang terlalu disederhanakan, dan kemungkinan interpretasi yang keliru. Kegiatan ini mengembangkan kemampuan membaca kritis, mengevaluasi informasi, dan menyadari keterbatasan AI.

Manacika juga berkaitan dengan niat penggunaan. Siswa perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya menggunakan AI untuk belajar atau hanya untuk menghindari belajar? Apakah AI membantu saya memahami materi atau sekadar menyelesaikan tugas? Apakah saya masih mampu menjelaskan gagasan ini tanpa bantuan AI?

Pertanyaan-pertanyaan reflektif tersebut sangat penting dalam pembelajaran mendalam. Teknologi seharusnya memperkuat kesadaran belajar, bukan menciptakan ketergantungan. Siswa yang memiliki manacika tidak hanya pandai membuat prompt, tetapi juga memahami kapan perlu menggunakan AI, kapan harus berhenti menggunakannya, dan kapan harus berpikir secara mandiri. 

Dalam pembelajaran berbicara, misalnya, AI dapat digunakan untuk menyimulasikan wawancara kerja dalam bahasa Inggris. Namun, sebelum berlatih dengan AI, siswa sebaiknya merancang jawaban berdasarkan pengalaman dan kepribadiannya sendiri. Sesudah latihan, siswa mengevaluasi saran AI, apakah terdengar alami, terlalu umum, tidak sesuai budaya, atau tidak mencerminkan dirinya? Proses ini melatih kemampuan mengambil keputusan, bukan sekadar mengikuti rekomendasi mesin. Dengan demikian, manacika dalam era AI mencakup pikiran yang baik, kritis, reflektif, mandiri, dan berorientasi pada kebenaran. Berpikir baik bukan berarti menerima segala sesuatu secara positif, tetapi menimbang secara jernih sebelum percaya dan bertindak 

Wacika: Berkomunikasi Baik dengan dan melalui AI

Wacika berarti berkata, menulis, dan berkomunikasi dengan baik. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, dimensi ini sangat penting karena bahasa bukan hanya persoalan tata bahasa dan kosakata. Bahasa juga berkaitan dengan kesantunan, empati, konteks, budaya, dan tanggung jawab. AI dapat membantu siswa memperbaiki kalimat, memilih kosakata, menyesuaikan tingkat formalitas, atau membuat pesan lebih jelas. Namun, kemampuan menghasilkan bahasa yang benar secara gramatikal tidak otomatis membuat suatu komunikasi menjadi baik secara moral dan sosial.

Sebuah surel dapat saja bebas kesalahan tata bahasa, tetapi terdengar kurang tepat atau kontekstual. Sebuah komentar dapat tersusun fasih, tetapi kurang elok atau bermakna. Sebuah argumen dapat meyakinkan, tetapi mengandung manipulasi. Karena itu, wacika mengingatkan bahwa keberhasilan berbahasa tidak hanya diukur dari akurasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap orang lain. 

Dalam kelas menulis, guru dapat meminta siswa menyusun surel berbahasa Inggris kepada dosen untuk meminta perpanjangan waktu pengumpulan tugas. Siswa dapat menggunakan AI untuk memperbaiki struktur dan kesantunan. Setelah itu, kelas mendiskusikan beberapa pertanyaan, Apakah email tersebut jujur? Apakah alasannya dibuat-buat? Apakah bahasanya menghormati penerima? Apakah permintaannya disampaikan secara bertanggung jawab? Kegiatan tersebut menghubungkan kemampuan menulis dengan integritas dan kesadaran sosial. AI membantu bentuk bahasa, tetapi siswa tetap bertanggung jawab atas isi, niat, dan akibat pesan tersebut. 

Contoh wacika lainnya dapat diterapkan dalam latihan debat. Siswa menggunakan AI untuk menghasilkan argumen tandingan terhadap topik seperti penggunaan AI dalam pendidikan. Namun, mereka tidak hanya dinilai berdasarkan kekuatan argumen, melainkan juga berdasarkan cara menyampaikan ketidaksetujuan. Mereka belajar menggunakan ungkapan seperti “I understand your point, however…”, “Another perspective worth considering is…”, atau “The evidence may also be interpreted differently.”

Pembelajaran ini penting karena ruang digital sering mendorong komunikasi yang cepat, reaktif, dan agresif. AI bahkan dapat diminta membuat serangan verbal, komentar sinis, atau pesan manipulatif. Dalam kondisi demikian, wacika berfungsi sebagai penyaring moral. Pertanyaannya bukan hanya “Bisakah AI menulisnya?”, tetapi “Apakah kata-kata ini pantas disampaikan?”

Wacika juga berkaitan dengan cara siswa memberikan perintah kepada AI. Prompt bukan sekadar instruksi teknis. Prompt dapat mencerminkan pola pikir dan etika penggunanya. Siswa dapat belajar menyusun prompt yang jelas, tidak diskriminatif, tidak meminta AI memfitnah, menipu, meniru identitas seseorang, atau menghasilkan materi yang merendahkan kelompok tertentu. 

Misalnya, dalam pembelajaran deskriptif, siswa diminta menggunakan AI untuk membuat profil tokoh dari latar budaya yang berbeda. Guru dapat mengajak siswa memeriksa apakah hasil AI mengandung stereotip. Apakah tokoh dari daerah tertentu selalu digambarkan dengan ciri yang sama? Apakah perempuan dan laki-laki ditempatkan dalam peran yang tidak seimbang? Apakah budaya tertentu digambarkan secara eksotis atau merendahkan? Siswa kemudian merevisi teks agar lebih adil, manusiawi, dan sensitif terhadap keberagaman. Kegiatan ini mengembangkan literasi bahasa, literasi AI, dan kesadaran budaya secara bersamaan.

Dalam pembelajaran mendalam, bahasa digunakan untuk membangun pemahaman, bukan hanya menyampaikan jawaban. Karena itu, siswa perlu belajar berdialog dengan AI, berdialog dengan teman, dan berdialog dengan dirinya sendiri. Mereka dapat bertanya, mengklarifikasi, menyanggah, merevisi, dan menjelaskan alasan. Proses dialogis inilah yang membuat pembelajaran lebih bermakna. Wacika di era AI berarti memastikan bahwa teknologi membantu manusia berkomunikasi secara lebih jelas tanpa kehilangan kejujuran, empati, dan kesantunan

Kayika: Bertindak Baik dan Bertanggung Jawab

Kayika berkaitan dengan tindakan nyata. Dalam penggunaan AI, kayika berarti menerjemahkan pikiran dan kata-kata yang baik menjadi perilaku yang etis dan bermanfaat. Banyak persoalan AI dalam pendidikan sebenarnya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada tindakan penggunanya. AI dapat digunakan untuk mencari ide, tetapi juga untuk menyalin karya. AI dapat digunakan untuk memperbaiki tulisan, tetapi juga untuk menyembunyikan plagiarisme. AI dapat membantu belajar, tetapi juga dapat digunakan untuk melakukan kecurangan. 

Karena itu, kayika menuntut integritas akademik. Dalam kelas bahasa Inggris, siswa yang menggunakan AI perlu menjelaskan bagian mana yang dibantu oleh teknologi. Mereka tidak boleh mengklaim teks yang sepenuhnya dihasilkan AI sebagai karya pribadi. Pengakuan penggunaan AI bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kejujuran akademik. 

Guru dapat menerapkan jurnal proses penulisan. Siswa mengumpulkan gagasan awal, draf pertama, prompt yang digunakan, hasil umpan balik AI, perubahan yang dilakukan, dan refleksi akhir. Dengan cara ini, yang dinilai bukan hanya produk akhir, tetapi juga perjalanan belajar. Praktik tersebut sangat mendukung pembelajaran mendalam. Siswa tidak hanya mengejar nilai, tetapi memahami bagaimana tulisannya berkembang. Mereka belajar menjelaskan alasan menerima atau menolak saran AI. Mereka juga menyadari bahwa revisi adalah proses berpikir, bukan sekadar memperbaiki kesalahan tata bahasa. 

Contoh kayika lainnya adalah penggunaan AI untuk pembelajaran yang berdampak sosial. Siswa dapat membuat kampanye berbahasa Inggris mengenai pengurangan sampah plastik, pelestarian lingkungan, perlindungan budaya lokal, atau pendidikan inklusif. AI digunakan untuk membantu menyusun slogan, memeriksa bahasa, membuat variasi teks, atau menyesuaikan pesan bagi khalayak internasional.

Namun, siswa tetap harus memverifikasi informasi, meminta izin sebelum menggunakan gambar orang lain, memastikan representasi budaya tidak keliru, dan mempertimbangkan dampak sosial dari kampanye tersebut. Dengan demikian, penggunaan AI diwujudkan dalam tindakan yang memberikan manfaat nyata.

Dalam kegiatan berbicara, siswa dapat menggunakan agentic AI sebagai pelatih percakapan yang menyusun program latihan mingguan. AI mungkin menyarankan topik, memberikan koreksi, dan merekomendasikan latihan. Akan tetapi, siswa tetap perlu melakukan tindakan nyata, yakni berlatih secara konsisten, mencatat kesalahan, berbicara dengan teman, dan menggunakan bahasa dalam konteks autentik. AI tidak dapat menggantikan keberanian untuk berbicara, kesediaan mendengarkan orang lain, atau kedisiplinan dalam belajar. Teknologi hanya menawarkan jalan dan manusia tetap harus melangkah.

Kayika juga berlaku bagi guru. Guru tidak seharusnya menggunakan AI untuk menghasilkan seluruh materi tanpa pemeriksaan. Materi AI perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa, konteks budaya, tujuan pembelajaran, kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus, serta prinsip keadilan. Misalnya, AI membuat teks bacaan tentang kehidupan di kota besar dengan kosakata yang terlalu sulit bagi siswa sekolah dasar di daerah. Guru yang bertanggung jawab tidak langsung menggunakannya.

Ia menyederhanakan bahasa, memasukkan konteks lokal, menambahkan ilustrasi, dan memastikan seluruh siswa dapat mengakses kegiatan tersebut. Tindakan seperti ini merupakan bentuk kayika dimana teknologi digunakan secara nyata, tetapi tetap berada di bawah pertimbangan pedagogis dan moral guru.

Tri Kaya Parisudha dan Pembelajaran Mendalam

Manacikawacika, dan kayika tidak dapat dipisahkan. Pikiran yang baik perlu diwujudkan dalam komunikasi yang baik, lalu diteruskan menjadi tindakan yang baik. Dalam pembelajaran bahasa Inggris berbantuan AI, ketiganya membentuk suatu siklus. Siswa memulai dengan manacika, yaitu menentukan tujuan, mempertanyakan informasi, dan mengevaluasi keluaran AI. Mereka melanjutkan dengan wacika, yakni menyampaikan gagasan secara jujur, santun, jelas, dan menghargai orang lain. Kemudian, mereka mewujudkan kayika, dengan menggunakan AI secara bertanggung jawab, mencantumkan informasi pada aspek mana berbantuan teknologi, menghasilkan karya autentik, dan memberikan manfaat melalui bahasa yang dipelajari.

Siklus tersebut sejalan dengan pembelajaran mendalam. Siswa tidak berhenti pada mengetahui atau mengingat. Mereka memahami, menganalisis, mengevaluasi, mencipta, dan merefleksikan. AI menjadi bagian dari lingkungan belajar, tetapi bukan pusatnya. Pusat pembelajaran tetaplah manusia dengan kesadaran, nilai, dan tanggung jawabnya.

Sebagai contoh, guru dapat memberikan proyek berjudul “Promoting Bali Responsibly to the World.” Siswa diminta membuat konten berbahasa Inggris mengenai budaya atau lingkungan Bali dengan bantuan AI. Pada tahap manacika, siswa memilih topik, meneliti sumber, memeriksa fakta, dan mengevaluasi kemungkinan bias AI. Pada tahap wacika, mereka menyusun pesan yang informatif, santun, tidak eksploitatif, dan menghormati masyarakat lokal.

Pada tahap kayika, mereka menghasilkan video, poster, artikel, atau podcast, mencantumkan penggunaan AI, meminta persetujuan pihak yang ditampilkan, dan membagikan karya untuk tujuan edukatif. Proyek semacam ini tidak hanya melatih keterampilan bahasa. Ia mengembangkan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, literasi digital, kesadaran budaya, dan tanggung jawab sosial. Inilah pembelajaran mendalam yang sesungguhnya.

Contoh lain adalah proyek pemeriksaan berita. Siswa memperoleh beberapa teks berbahasa Inggris yang sebagian dibuat oleh AI. Mereka bertugas mengidentifikasi klaim, memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan menjelaskan apakah teks tersebut dapat dipercaya. Manacika muncul dalam proses verifikasi.

Wacika diwujudkan saat siswa menyampaikan koreksi dengan etis dan baik. Kayika terlihat ketika siswa memperbaiki informasi dan menghasilkan panduan singkat untuk mencegah penyebaran hoaks. Bahasa Inggris dipelajari bukan sebagai kumpulan aturan, tetapi sebagai alat untuk memahami dan memperbaiki dunia.

Agentic AI Tetap Membutuhkan Agensi Manusia

Istilah agentic AI dapat menimbulkan kesan bahwa teknologi telah menjadi agen yang mampu bekerja sendiri. Namun, kemandirian teknologi tidak boleh mengurangi agensi manusia. Justru ketika AI semakin mampu mengambil tindakan, manusia harus semakin sadar dalam menetapkan tujuan dan batas. AI dapat menyusun rencana belajar, tetapi tidak mengetahui sepenuhnya cita-cita seorang siswa. AI dapat memberikan koreksi bahasa, tetapi tidak selalu memahami identitas dan pengalaman penulisnya. AI dapat merekomendasikan tindakan, tetapi tidak menanggung konsekuensi moralnya.

Karena itu, pendidikan harus memastikan bahwa peserta didik tidak berubah menjadi pelaksana pasif dari saran algoritma. Mereka harus tetap mampu berkata, “Saya menerima saran ini karena…”, “Saya menolak rekomendasi ini karena…”, atau “Saya mengubah hasil AI agar sesuai dengan tujuan dan nilai yang saya yakini.” Kemampuan tersebut merupakan inti berpikir kritis sekaligus agensi manusia. Siswa bukan hanya pengguna teknologi, tetapi pengambil keputusan yang sadar. Guru pun tidak boleh menyerahkan penilaian, perencanaan, atau relasi pedagogis sepenuhnya kepada AI. 

Pembelajaran yang baik bukanlah pembelajaran yang paling banyak menggunakan AI. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang menggunakan AI secara tepat, terukur, transparan, dan tetap memperkuat kemampuan manusia.

Teknologi Cerdas Memerlukan Manusia yang Bijaksana

Kemajuan AI akan terus berlanjut. Teknologi akan semakin cepat, personal, dan mandiri. Namun, pendidikan tidak boleh terpesona hanya oleh kecanggihan. Pertanyaan terpenting bukanlah seberapa banyak pekerjaan yang dapat diserahkan kepada AI, melainkan nilai apa yang tidak boleh diserahkan kepadanya. Kita tidak boleh menyerahkan tanggung jawab moral, kejujuran, empati, kesadaran budaya, dan keputusan akhir kepada mesin. Semua itu harus tetap menjadi bagian dari kemanusiaan.

Tri Kaya Parisudha menawarkan dasar yang kuat. Manacika menjaga agar manusia tetap berpikir kritis, jernih, dan berorientasi pada kebenaran. Wacika membimbing manusia agar menggunakan bahasa dengan jujur, santun, dan penuh empati. Kayika memastikan bahwa pemanfaatan AI diwujudkan dalam tindakan yang etis, bertanggung jawab, dan bermanfaat.

Dalam pembelajaran bahasa Inggris, ketiganya dapat membantu membentuk peserta didik yang bukan hanya fasih berbahasa, tetapi juga mampu menilai informasi, menghargai perbedaan, menjaga integritas, dan menggunakan teknologi untuk kebaikan. Tantangan terbesar era AI bukanlah menjadikan mesin semakin menyerupai manusia. Tantangan terbesar justru memastikan manusia tidak kehilangan kedalaman berpikir, kebaikan berbahasa, dan tanggung jawab bertindak.

Agentic AI bisa saja mampu merencanakan dan menyelesaikan banyak pekerjaan. Namun, manusia tetap harus menentukan ke mana teknologi diarahkan. Di sinilah Tri Kaya Parisudha berperan sangat penting sebagai akar kebijaksanaan lokal untuk menghadapi kecerdasan global.

Kita bersama hendaknya memahami secara komprehensif bahwa pendidikan masa depan tidak cukup menghasilkan manusia yang cakap menggunakan AI. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu berpikir baik, berkata baik, dan bertindak baik bersama AI.

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti

Universitas Pendidikan Ganesha

Editor: I Putu Mardika

Tautan: https://baliexpress.jawapos.com/kolom/2607210018/tri-kaya-parisudha-di-era-agentic-ai-menjaga-kedalaman-belajar-dan-kejernihan-berpikir


Dari Copenhagen: Ketika AI, Integritas Akademik, dan Etika Riset Bertemu Publikasi Instan dan Travel Grant Gratis

I Putu Mardika

Selasa, 2 Jun 2026 | 11:10 WIB

Dari Copenhagen: Ketika AI, Integritas Akademik, dan Etika Riset Bertemu Publikasi Instan dan Travel Grant GratisMade Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Pengguna media sosial Indonesia mungkin sedang lelah dengan drama, misalnya fenomena kebijakan beserta riuhnya dunia maya dengan beragam isinya. Namun beberapa hari terakhir, drama itu justru datang dari tempat yang seharusnya menjadi rumah integritas, yaitu dunia akademik.

Di sebuah konferensi kesehatan internasional bergengsi, International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD), 17-21 Mei 2026 di Copenhagen, Denmark, muncul dugaan yang membuat banyak akademisi mengelus dada.

Sejumlah peserta asal Indonesia (inisial P, RF, RW) diduga melakukan manipulasi identitas dan mempresentasikan riset yang keabsahannya dipertanyakan. Kasus ini kemudian menjadi viral setelah diungkap oleh akademisi Indonesia Mbak Wa Ode Dwi Daningrat (Peneliti Clinical Medicine Oxford) yang hadir langsung di konferensi tersebut dan Ida Bagus Mandara Brasika (yang sering penulis panggil Gus Nara), akademisi dan mahasiswa Ph.D. dari Exeter University, Inggris.

Yang membuat publik terkejut bukan sekadar dugaan riset palsu. Dengan melihat langsung nama orang Indonesia, jumlah abtsrak lebih dari 1 dan presentasi abstrak berbeda di sesi spotlight, dan ketidakmampuan menjawab pertanyaan. Ada dugaan seseorang berganti nama, mengganti nametag, bahkan mengganti gaya hijab agar terlihat sebagai orang yang berbeda untuk mempresentasikan berbagai penelitian dalam waktu berdekatan. 

Jika benar, ini bukan lagi persoalan akademik biasa. Ini adalah alarm. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya satu artikel atau satu konferensi. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan.

Ketika Publikasi Menjadi Perlombaan

Kita perlu jujur mengakui bahwa dunia akademik modern memang penuh tekanan. Dosen dituntut publikasi. Peneliti dituntut sitasi. Mahasiswa dituntut lulus cepat. Institusi dituntut naik peringkat.

Dalam situasi seperti ini, sebagian orang mulai melihat riset bukan sebagai proses pencarian kebenaran, melainkan sebagai alat mengejar angka. Yang penting publikasi. Yang penting sertifikat. Yang penting pernah tampil di konferensi luar negeri. Lama-kelamaan, sebagian orang tidak lagi bertanya, “Apakah penelitian ini benar?” melainkan, “Bagaimana caranya agar penelitian ini diterima?”

Perbedaan dua pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Sains dibangun di atas keraguan yang objektif (objective scepticism). Peneliti sejati menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hanya untuk memastikan datanya valid. Mereka berdebat dengan temuan sendiri. Mereka siap jika hipotesisnya ternyata salah. Sebaliknya, budaya instan hanya mencari hasil yang terlihat mengesankan. 

Dalam kasus ISPPD ini, sejumlah poster penelitian disebut mengklaim penelitian dilakukan di Peru, Ethiopia, Bangladesh, Nepal, Kenya, hingga India tanpa adanya kolaborator lokal yang jelas maupun penjelasan persetujuan etik yang memadai.

Padahal untuk penelitian kesehatan lintas negara, proses etik dan kolaborasi lokal biasanya merupakan aspek yang sangat penting. Pertanyaannya sederhana, bagaimana mungkin satu kelompok kecil mampu melakukan begitu banyak penelitian di berbagai negara dalam waktu yang relatif singkat? Ketika pertanyaan itu sulit dijawab secara ilmiah, kepercayaan mulai runtuh.

AI Bukan Tersangka Utamanya

Kasus ini juga kembali menyeret nama kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Banyak orang langsung menyalahkan AI karena sejumlah grafik, visualisasi, dan narasi penelitian diduga dibuat menggunakan teknologi generatif. Namun sesungguhnya, AI bukanlah akar masalahnya. AI hanyalah alat. 

Masalah sebenarnya adalah manusia yang menggunakan alat tersebut tanpa etika. Sama seperti kalkulator tidak menciptakan proses berpikir matematis yang berlawanan dengan etika, AI juga tidak menciptakan ketidakjujuran akademik. Yang menciptakannya adalah keinginan untuk mendapatkan pengakuan tanpa proses, prestise tanpa kerja keras, dan reputasi tanpa kompetensi. Ironisnya, di era AI saat ini, kebohongan akademik justru semakin mudah terdeteksi. 

Komunitas ilmiah global semakin terhubung. Data dapat diperiksa silang. Afiliasi dapat diverifikasi. Gambar dapat dianalisis. Bahkan pola penulisan AI kini mulai dikenali oleh banyak peneliti berpengalaman. Karena itu, menggunakan AI untuk memalsukan penelitian sesungguhnya seperti mencoba menyembunyikan api dengan kertas. Cepat atau lambat akan terbakar juga.

Harga Sebuah Reputasi

Indonesia sebenarnya sedang mengalami perkembangan yang cukup baik dalam dunia penelitian. Semakin banyak dosen Indonesia menjadi pembicara internasional. Semakin banyak mahasiswa memperoleh beasiswa luar negeri. Semakin banyak artikel ilmiah Indonesia muncul di jurnal bereputasi. Namun reputasi dibangun bertahun-tahun dan bisa rusak hanya dalam hitungan hari. Seperti peribahasa, ‘karena nila setitik, rusak susu sebelanga.’ Inilah yang paling dikhawatirkan banyak akademisi.

Ketika satu kasus mencuat secara global, dunia tidak selalu melihat individu. Dunia sering melihat bendera yang dibawa individu tersebut. Seorang peneliti yang tidak jujur mungkin hanya satu orang. Namun akibatnya bisa dirasakan ribuan peneliti Indonesia yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Mereka yang menghabiskan malam di laboratorium. Mereka yang mengumpulkan data di daerah terpencil. Mereka yang berjuang mendapatkan publikasi dengan proses panjang dan melelahkan. Ketika integritas dirusak oleh segelintir orang, kelompok yang paling dirugikan justru mereka yang jujur.

Travel Grant dan Mentalitas Jalan Pintas

Di media sosial, muncul pula spekulasi bahwa salah satu motif di balik praktik semacam ini adalah mengejar travel grant atau bantuan pendanaan konferensi. Perlu ditegaskan bahwa tidak ada yang salah dengan travel grant. Justru program tersebut sangat penting untuk membantu peneliti muda yang memiliki keterbatasan dana. Banyak mahasiswa doktoral, peneliti muda (novice researchers) atau akademisi yang sedang berkembang (emerging scholars) Indonesia berhasil tampil di panggung internasional berkat skema pendanaan yang sah dan kompetitif. 

Masalah muncul ketika travel grant tidak lagi dipandang sebagai sarana berbagi ilmu, melainkan sebagai tiket wisata akademik. Akibatnya, sebagian orang mulai mencari jalan pintas. Bukan memperbaiki kualitas penelitian, tetapi memanipulasi tampilan penelitian. 

Padahal konferensi internasional bukan ajang mengoleksi foto di depan menara terkenal atau menambah stempel perjalanan di paspor. Konferensi adalah ruang dialog ilmiah. Di sana, yang diuji bukan seberapa banyak abstrak yang diterima. Yang diuji adalah kualitas pemikiran. Dari beragam sumber dan pengalaman pendek personal penulis, terdapat beberapa petunjuk umum untuk mendapatkan travel grant ke luar negeri dengan cara-cara baik dan benar.

1.     Targetkan konferensi bereputasi sesuai bidang keilmuan. Pastikan konferensi diselenggarakan oleh asosiasi ilmiah resmi, bukan predator atau abal-abal.

2.     Kirim abstrak berkualitas. Pastikan riset original, data organik, memiliki metodologi yang kuat, dan kontribusi atau dampak nyata.

3.     Cari pendanaan resmi. Ajukan bantuan biaya perjalanan dari sumber-sumber terpercaya, seperti dari skema internal lembaga, beasiswa pemerintah atau lembaga internasional terpercaya, atau skema travel grant resmi dari penyelenggara. Kadang, tergantung kualitas peneliti, bantuan bahkan bisa langsung diberikan sesuai kebutuhannya.

4.     Bersikap transparan, jujur, dan beretika. Selalu lampirkan semua data dan bukti pendukung yang resmi dan valid seperti Letter of Acceptance (LoA) dan rincian biaya secara transparan, terperinci, dan akuntabel.

5.     Fokus pada agenda kegiatan dan lakukan proses berjejaring secara organik dan bersifat saling berkontribusi. Foto-foto adalah bonus. 

Indonesia Tidak Kekurangan Peneliti Hebat

Kasus ISPPD seharusnya tidak membuat kita tidak percaya terhadap seluruh dunia akademik Indonesia. Sebaliknya, kasus ini harus menjadi pengingat bahwa mayoritas akademisi Indonesia justru bekerja dengan integritas tinggi. Banyak peneliti Indonesia yang melakukan riset bertahun-tahun dengan dana terbatas. Banyak dosen yang tetap meneliti meskipun harus membagi waktu dengan mengajar, mengabdi kepada masyarakat, dan tugas administrasi. Banyak mahasiswa yang tetap menjunjung kejujuran meskipun godaan AI dan budaya instan semakin besar. Mereka inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya. 

Karena itu, respons terbaik terhadap kasus ini bukan menutupi masalah atau membela secara membabi buta. Respons terbaik adalah melakukan evaluasi, memperkuat etika penelitian, meningkatkan literasi AI, serta memperbaiki sistem pengawasan akademik dari semua pihak, termasuk pemerintah dan penyelenggara. Dalam dunia sains, kesalahan bisa diperbaiki, reputasi bisa dipulihkan, hanya jika kita berani mengakui masalah dan belajar darinya.

Konferensi sebesar ISPPD mengingatkan kita pada satu hal sederhana bahwa ilmu pengetahuan bukan dibangun oleh kecerdasan semata, melainkan oleh kejujuran. Karena di dunia akademik, data bisa salah. Metode bisa direvisi. Teori bisa berubah. Tetapi ketika integritas hilang, seluruh bangunan ilmu pengetahuan ikut runtuh. 

Dunia akademik dibangun di atas fondasi etika dan integritas. Pemalsuan data demi popularitas, publikasi instan untuk mencapai standar minimal, sebuah status, atau bantuan dana bukan hanya tindakan kriminal secara moral, tapi juga merusak kualitas keilmuan secara keseluruhan. Mari kita jaga nama baik akademisi Indonesia dengan cara-cara yang jujur dan bermartabat.

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti

Universitas Pendidikan Ganesha

Editor : I Putu Mardika

Tautan Kolom Surat Kabar: https://baliexpress.jawapos.com/kolom/2606020011/dari-copenhagen-ketika-ai-integritas-akademik-dan-etika-riset-bertemu-publikasi-instan-dan-travel-grant-gratis


AI “Asal Bapak Senang” dan 21CLD: Mengembalikan Pendidikan sebagai Ruang Berpikir di Era Mesin yang Selalu Mengiyakan

I Putu Mardika

Sabtu, 2 Mei 2026 | 11:13 WIB

AI “Asal Bapak Senang” dan 21CLD: Mengembalikan Pendidikan sebagai Ruang Berpikir di Era Mesin yang Selalu MengiyakanMade Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Setiap tanggal 2 Mei, kita kembali mengutip semangat Ki Hadjar Dewantara: pendidikan adalah proses memerdekakan manusia. Namun di ruang-ruang kelas kita hari ini, ditambah kehadiran AI, pertanyaan mendasarnya menjadi semakin tajam: “Apakah kita benar-benar sedang memerdekakan cara berpikir, atau justru semakin membiasakan jawaban yang ‘mengiyakan’?”

Fenomena Algorithmic Sycophancy, ketika AI cenderung menyesuaikan jawaban agar menyenangkan pengguna, membawa kita pada satu ironi baru. Di tengah teknologi paling canggih, kita justru berhadapan dengan pola lama, yaitu Asal Bapak Senang (ABS).

AI menjadi cepat, cerdas, dan responsif. Tetapi dalam banyak kasus, ia juga menjadi terlalu “baik.” Ia mengonfirmasi lebih sering daripada mengoreksi. Ia menyetujui lebih cepat daripada menantang. Masalahnya, budaya pendidikan kita memang sudah lama akrab dengan pola ini. 

Di banyak kelas, siswa dilatih untuk menjawab benar, bukan berpikir dalam. Mereka terbiasa mereproduksi, bukan mengonstruksi. Maka ketika AI hadir dengan kemampuan menjawab instan dan cenderung ABS, ia tidak mengganggu kebiasaan belajar ini. Ia justru memperkuatnya. Di sinilah urgensi Hari Pendidikan Nasional menemukan relevansinya kembali.

Data capaian akademik, baik dalam asesmen nasional maupun studi internasional, menunjukkan bahwa tantangan kita bukan sekadar akses pendidikan, tetapi kualitas berpikir. Kita tidak kekurangan jawaban, kita kekurangan pertanyaan yang baik.

Dari AI yang ABS ke Learner Agency

Lalu, bagaimana seharusnya kita memposisikan AI dalam pendidikan? Di sinilah pentingnya menggeser peran AI dari sekadar pemberi kesenangan menjadi penantang pola pikir. Dalam kerangka pendidikan modern, ini sejalan dengan konsep learner agency, di mana siswa menjadi subjek aktif yang mampu mengarahkan, mempertanyakan, dan merefleksikan proses belajarnya sendiri. 

AI seharusnya tidak selalu mengiyakan. Ia perlu, dan bahkan harus, sesekali tidak setuju. Pendekatan ini juga beririsan dengan tradisi Socratic Inquiry, sebuah metode bertanya yang tidak memberikan jawaban langsung, tetapi justru menggali, mempertanyakan, dan menantang asumsi.

Bayangkan jika siswa terbiasa berinteraksi dengan AI seperti ini: 

“Tolong kritik jawaban saya.”

“Apa kelemahan argumen saya?”

“Berikan sudut pandang yang berlawanan.”

Dalam skenario ini, AI bukan lagi ABS, melainkan mitra dialog yang mendorong kedalaman berpikir.

Jika AI cenderung mengiyakan, maka pendidikan harus secara sadar membangun ekosistem yang menantang. Di sinilah kerangka seperti 21st Century Learning Design (21CLD) menjadi sangat relevan, bukan sekadar jargon, tetapi sebagai strategi konkret untuk mengimbangi bias AI. Enam pilar 21CLD terdiri dari konstruksi pengetahuan, kolaborasi, pemecahan masalah dan inovasi, komunikasi terampil, regulasi diri, dan TIK untuk pembelajaran. Dalam konteks AI hari ini, ia menjadi antidot terhadap Algorithmic Sycophancy.

Konstruksi Pengetahuan: Melawan Budaya Copy-Paste

Dalam kelas berbasis hafalan, AI menjadi mesin penyalin tercepat. Siswa cukup bertanya, lalu menyalin. Namun dalam pilar konstruksi pengetahuan, siswa tidak cukup menerima informasi, mereka harus mengolah, mengaitkan, dan menciptakan makna baru.

Misalnya, di dalam kelas, guru meminta siswa, “Bandingkan jawaban AI dengan sumber lain, lalu jelaskan bagian mana yang kurang tepat dan mengapa.” Di sini, AI bukan sumber akhir, tetapi bahan mentah untuk berpikir. Siswa belajar bahwa jawaban cepat belum tentu jawaban benar.

Kolaborasi: Menghindari Echo Chamber Digital

AI yang ABS cenderung memperkuat perspektif individu. Jika siswa belajar sendiri dengan AI, mereka bisa terjebak dalam ‘ruang gema’ yang memperkuat keyakinan awal. Melalui kolaborasi, siswa dipaksa bertemu perspektif lain. Di dalam proses belajar, misalnya, siswa bekerja dalam kelompok kecil, kemudian setiap kelompok diminta mengevaluasi jawaban AI dari sudut pandang berbeda, dan hasilnya didiskusikan dan diperdebatkan. Di sini, ketidaksetujuan menjadi sumber belajar, bukan gangguan.

Pemecahan Masalah dan Inovasi: Dari Jawaban ke Pertanyaan

AI unggul dalam memberikan jawaban. Tetapi pendidikan seharusnya unggul dalam merumuskan masalah. Dalam pilar pemecahan masalah dan inovasi, siswa tidak hanya menerima solusi, tetapi merancang solusi baru. Dalam kelas, aktivitas bisa menggunakan instruksi ini: “Gunakan jawaban AI sebagai titik awal. Temukan kelemahannya, lalu kembangkan solusi yang lebih baik.” Dengan pendekatan ini, AI tidak menggantikan kreativitas, tetapi memicu inovasi.

Komunikasi Terampil: Menguji, bukan Menerima Apa Adanya

Siswa perlu belajar bahwa tidak semua informasi layak dipercaya, bahkan jika disampaikan dengan meyakinkan. Dalam komunikasi terampil, siswa dilatih untuk menyampaikan argumen berbasis bukti. Dalam praktik di kelas, siswa diminta mempresentasikan hasil analisis mereka terhadap jawaban AI dan mereka harus mempertahankan argumen di depan teman. Di sini, AI menjadi lawan debat, bukan penyedia jawaban.

Regulasi Diri: Melawan Kenyamanan Instan

Salah satu bahaya terbesar AI adalah kenyamanan. Semua menjadi cepat, mudah, dan instan. Namun pembelajaran yang bermakna membutuhkan usaha-usaha lebih. Dalam regulasi diri, siswa belajar mengelola proses belajarnya sendiri, termasuk kapan harus percaya, kapan harus meragukan.

Guru sebaiknya membiasakan refleksi dengan bertanya “Apakah saya benar-benar memahami jawaban ini, atau hanya menerimanya karena terdengar meyakinkan?” Pertanyaan sederhana ini adalah benteng pertama melawan ilusi pengetahuan.

TIK untuk Pembelajaran: Dari Konsumen ke Pengguna Kritis

AI adalah bagian dari TIK. Namun perannya harus jelas, yaitu alat bantu dan bukan otoritas mutlak. Dalam pilar TIK untuk pembelajaran, siswa tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi memahami cara kerjanya, termasuk biasnya. Dalam kelas, guru bisa menjelaskan konsep Algorithmic Sycophancy secara sederhana dan siswa diminta menguji AI dengan pertanyaan yang bias, lalu menganalisis responsnya. Di sini, literasi AI menjadi kunci, yakni bukan sekadar bisa menggunakan, tetapi mampu mengkritisi.

Pendidikan di Era AI: Bukan Tentang Kecepatan, tetapi Kedalaman

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan lomba kecepatan menjawab. Jika itu tujuannya, AI sudah menang. Tetapi pendidikan sejati adalah tentang keberanian untuk tidak langsung percaya, kemampuan untuk mempertanyakan, dan dan kerendahan hati untuk mengakui kemungkinan salah. Di era AI yang cenderung ABS, kita tidak membutuhkan lebih banyak jawaban. Kita membutuhkan lebih banyak penantang, baik dari guru, dari sistem pembelajaran, maupun dari teknologi itu sendiri. 

Kerangka pembelajaran seperti 21CLD memberi kita arah yang jelas, yaitu menggeser pembelajaran dari sekadar reproduksi menuju konstruksi, dari kepatuhan menuju agensi, dari kenyamanan menuju kedalaman. Pertanyaan akhirnya sederhana, tetapi menentukan masa depan pendidikan kita, “Apakah kita ingin generasi yang selalu merasa benar karena selalu diiyakan? Atau generasi yang berani berpikir, bahkan ketika itu berarti harus berbeda?” Karena di tengah mesin yang semakin pandai menyenangkan, kemampuan untuk berpikir mendalam dan jujur bisa jadi menjadi bentuk kemerdekaan belajar yang paling hakiki.

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti Undiksha

Editor: I Putu Mardika

Tautan Kolom Surat Kabar: https://baliexpress.jawapos.com/kolom/2605020010/ai-asal-bapak-senang-dan-21cld-mengembalikan-pendidikan-sebagai-ruang-berpikir-di-era-mesin-yang-selalu-mengiyakan


“Frankenstein Citation”: Ketika Sitasi Palsu Menjadi Alarm bagi Dunia Akademik di Era AI

I Putu Mardika

Minggu, 19 Apr 2026 15:15 WIB

“Frankenstein Citation”: Ketika Sitasi Palsu Menjadi Alarm bagi Dunia Akademik di Era AIMade Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Temuan terbaru dari publikasi di Nature (1 April 2026) berjudul “Hallucinated citations are polluting the scientific literature. What can be done?” seharusnya tidak kita baca sambil lalu. Ia bukan sekadar laporan teknis tentang kesalahan referensi, melainkan sebuah peringatan keras tentang krisis yang diam-diam menggerogoti fondasi ilmu pengetahuan. 

Dalam analisis terhadap lebih dari 4.000 publikasi, ditemukan bahwa sebagian besar artikel yang mencurigakan mengandung setidaknya satu sitasi yang tidak dapat diverifikasi, bahkan tidak pernah ada. Jika diekstrapolasi, lebih dari 100.000 publikasi ilmiah dari tahun 2025 saja berpotensi terdampak. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cerminan dari sesuatu yang lebih dalam, yakni perubahan cara kita berinteraksi dengan pengetahuan di era AI.

Hari ini, alat seperti ChatGPT dan berbagai model bahasa besar (Large Language Models  / LLMs) lainnya telah menjadi bagian dari keseharian akademik. Mereka membantu merangkum artikel, menyusun argumen, bahkan menghasilkan daftar pustaka dalam hitungan detik. Efisiensi ini menggiurkan, terutama dalam ekosistem akademik yang semakin kompetitif dan menuntut produktivitas tinggi. Namun di balik kemudahan itu, tersembunyi jebakan yang tidak selalu kita sadari, yaitu ilusi akurasi.

AI tidak “tahu” dalam perannya “menjadi manusia.” Ia mampu memprediksi. Ia merangkai kata berdasarkan pola. Maka ketika diminta membuat sitasi, ia tidak selalu mengambil dari basis data nyata, melainkan “menciptakan” referensi yang tampak logis. Nama penulis mungkin nyata. Judul jurnal terdengar kredibel. 

Digital Object Identifier (DOI) terlihat valid. Tetapi ketika ditelusuri, semuanya berujung pada sesuatu yang bisa jadi palsu. Inilah yang oleh para peneliti disebut sebagai hallucinated citations, atau bahkan lebih tajam lagi, “Frankenstein citations”, yang bermakna potongan-potongan realitas yang dijahit menjadi sesuatu yang tampak hidup, padahal tidak pernah eksis. Ya, seperti wujud makhluk yang diciptakan oleh Victor Frankenstein, seorang ilmuwan, dalam novel karya Mary Shelley (1818), yang meskipun berbasis ilmu, namun dipandang mengesampingkan standar aman pengetahuan, tanggung jawab, dan etika dalam sains. 

Sangat mudah untuk menyalahkan AI atas fenomena ini. Namun, jika kita jujur, teknologi hanyalah alat. Akar persoalan justru terletak pada budaya akademik kita sendiri. Di beberapa konteks pendidikan, misalnya Indonesia, budaya membaca masih belum mengakar kuat. Menurut studi yang diterbitkan di jurnal Kasetsart Journal of Social Sciences (2024), membaca seharusnya bersifat ekstensif (Extensive Reading), yaitu membaca yang menyenangkan yang tanpa disadari kemudian membantu penguasaan kosakata, informasi, dan membentuk aspek kognitif secara terstruktur tanpa disadari yang akan bermanfaat di kemudian hari, bukan membaca untuk menjawab soal (Intensive Reading). Membaca sering kali dilakukan karena tuntutan tugas, bukan kebutuhan intelektual. Mahasiswa mencari “yang penting ada bisa menjawab (soal/tes)”, bukan “apa yang sebenarnya dikatakan oleh soal/informasi/penelitian tersebut.”

Akibatnya, relasi dengan literatur menjadi dangkal. Artikel ilmiah tidak dibaca sebagai sumber pemahaman, tetapi sebagai simbol legitimasi. Dalam situasi seperti ini, kehadiran AI yang bisa “menyediakan” referensi secara instan menjadi sangat menggoda.

Lebih jauh lagi, kita menghadapi persoalan klasik, yaitu lemahnya kemampuan berpikir kritis. Dalam banyak kasus, output dari AI diterima begitu saja tanpa verifikasi. Ada semacam kepercayaan implisit bahwa teknologi canggih pasti benar. Padahal, dalam tradisi ilmiah, keraguan justru merupakan titik awal dari pengetahuan.

Kita juga tidak bisa mengabaikan dominasi surface learning, yakni pola belajar yang berfokus pada hafalan dan reproduksi informasi, bukan memahami, berinteraksi kritis dengan informasi, dan mencipta sesuatu dari pemahamn sendiri (deep learning). Dalam pendekatan ini, referensi sering kali hanya menjadi pelengkap administratif, sesuatu yang harus ada agar tulisan terlihat ilmiah. Jarang sekali ia diperlakukan sebagai bagian dari argumen.

Di sinilah letak ironi terbesar. Ketika referensi kehilangan maknanya, maka keberadaannya, benar atau palsu, menjadi tidak lagi penting bagi sebagian penulis. Dan semua ini diperparah oleh satu kecenderungan zaman, yakni obsesi terhadap kecepatan. Publikasi harus cepat. Tugas harus selesai segera. Artikel harus banyak. Dalam tekanan seperti ini, verifikasi sering dianggap sebagai hambatan, bukan kebutuhan.

Yang membuat fenomena ini berbahaya bukan hanya jumlahnya, tetapi sifatnya yang sistemik. Ketika satu artikel mengandung sitasi palsu, artikel lain mungkin mengutipnya. Rantai kesalahan ini dapat berkembang secara eksponensial, menciptakan “realitas semu” dalam literatur ilmiah. Bayangkan seorang peneliti yang membangun argumen berdasarkan referensi yang sebenarnya tidak ada.

Bayangkan mahasiswa yang mengutip artikel tersebut dalam skripsinya. Bayangkan kebijakan publik yang, secara tidak langsung, dipengaruhi oleh pengetahuan yang cacat. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya masalah akademik. Ini adalah ancaman terhadap kepercayaan publik terhadap sains itu sendiri.

Apa langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menyikapi hal ini? Jika akar persoalan ini adalah budaya, maka solusi utamanya juga harus bersifat kultural.

Langkah pertama adalah mengembalikan martabat membaca. Membaca tidak boleh lagi diposisikan sebagai aktivitas sekunder. Ia harus menjadi inti dari proses belajar. Mahasiswa perlu dilatih untuk membaca secara aktif, mengajukan pertanyaan, mengidentifikasi asumsi, mengevaluasi metodologi, dan mengkritisi kesimpulan. 

Dalam konteks ini, dosen memiliki peran strategis. Tugas-tugas akademik perlu dirancang ulang agar tidak bisa diselesaikan hanya dengan “copy-paste” atau bantuan AI. Misalnya, alih-alih meminta ringkasan artikel, dosen dapat meminta analisis perbandingan antara beberapa studi, mengonversi tugas dalam moda lain (misal menulis tangan), mencipta ulang respons teman dalam kelas dalam bahasa sendiri atau bentuk lain, atau refleksi kritis terhadap metodologi riset yang digunakan. Ketika membaca menjadi proses berpikir, bukan sekadar mengumpulkan informasi, maka ketergantungan pada referensi instan akan berkurang secara alami.

Langkah kedua adalah membangun literasi AI yang memadai. Pengguna perlu memahami batasan teknologi yang mereka gunakan. AI bukan mesin kebenaran, melainkan alat bantu berbasis probabilitas. Prinsip yang harus dipegang sederhana tetapi krusial adalah “gunakan AI untuk menemukan, bukan untuk memverifikasi.” Setiap referensi yang dihasilkan harus diperiksa ulang melalui basis data akademik, seperti Google ScholarScopus, atau Web of Science dan lainnya. Selain itu, penting untuk membiasakan diri memeriksa DOI secara langsung. Jika tautan tidak mengarah ke publikasi yang jelas, itu adalah sinyal peringatan. Dalam dunia akademik, skeptisisme bukanlah sikap negatif, ia adalah langkah awal menjadi objektif dan bentuk tanggung jawab.

Langkah ketiga adalah menggeser filosofi belajar. Perubahan yang lebih mendasar adalah pergeseran dari surface learning ke deep learning. Ini bukan sekadar perubahan metode, tetapi tentang pandangan akan filosofi belajar. Dalam deep learning, tujuan utama bukanlah menyelesaikan tugas, melainkan memahami konsep. Referensi tidak lagi menjadi ornamen, tetapi fondasi argumen. Siswa yang benar-benar memahami apa yang mereka tulis akan secara otomatis lebih selektif dalam memilih dan menggunakan sumber. Untuk mencapai ini, evaluasi pembelajaran juga harus berubah. Penilaian tidak boleh hanya berbasis hasil akhir, tetapi juga proses. Ada banyak tulisan tentang pendekatan belajar mendalam ini, mulai dari kajian paling awal oleh Marton dan Säljö (1976) dari Göteborg Group, kemudian Biggs (1978, 1985, 1987, 1999, 2001, 2003, 2011), Enwistle (1979, 1991, 2014, 2009) dan penulis sendiri (2013, 2017, 2018, 2021, 2022, 2023, 2025, 2026). Intinya, pergeseran filosofi ini dalam era AI adalah melihat lebih dalam pada “Bagaimana mahasiswa menemukan sumber?” “Bagaimana mereka memverifikasinya?”, atau “Bagaimana mereka mengintegrasikannya ke dalam argumen?”

Terakhir, kolaborasi AI-Manusia yang efektif, bermakna, dan beretika. Akhirnya, solusi atas masalah yang diciptakan oleh teknologi juga dapat ditemukan dalam teknologi itu sendiri. Perangkat manajemen referensi seperti Zotero, Mendeley, dan EndNote memungkinkan pengguna mengambil metadata langsung dari sumber yang terverifikasi. Di sisi lain, penerbit dan jurnal dapat mulai mengadopsi alat deteksi sitasi bermasalah berbasis AI. Proses peer review juga perlu diperluas untuk mencakup validasi referensi, bukan hanya evaluasi konten. Memang, ini akan menambah kompleksitas. Tetapi, dalam situasi di mana integritas ilmiah dipertaruhkan, kompleksitas adalah harga yang layak dibayar. 

Hal fundamental yang terlihat di sini adalah bawah persoalan ini kembali pada satu hal, yaitu etika. AI tidak memiliki integritas. Ia tidak memiliki tanggung jawab. Semua itu ada pada manusia yang menggunakannya. Ketika seorang peneliti memasukkan referensi tanpa verifikasi, itu bukan kesalahan teknologi, namun itu adalah pilihan. Bagi peneliti (penulis) awal, tekanan untuk produktif memang nyata. Publikasi sering menjadi ukuran keberhasilan. Namun, kecepatan tidak boleh mengorbankan kualitas. Setiap sitasi yang ditulis adalah bentuk komitmen terhadap kebenaran. Satu referensi palsu mungkin tampak sepele. Tetapi ia adalah celah kecil yang, jika dibiarkan, dapat meruntuhkan bangunan besar bernama ilmu pengetahuan.

Kita sedang berada di persimpangan penting. Di satu sisi, AI menawarkan peluang luar biasa untuk mempercepat dan memperluas penelitian. Di sisi lain, ia juga membuka kemungkinan baru untuk kesalahan, bahkan manipulasi yang sulit dideteksi. Pilihan kita hari ini akan menentukan arah masa depan akademik. Apakah kita akan menjadi generasi yang tergoda oleh kemudahan instan, atau generasi yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan integritas? Jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada kebijakan besar atau teknologi canggih, tetapi pada kebiasaan sehari-hari, yaitu membaca dengan sungguh-sungguh, berpikir secara kritis, dan memverifikasi setiap informasi yang kita gunakan. 

Integritas ilmiah tidak dibangun dalam sekejap, misal menulis sekali kemudian mencapai target, dan berhenti. Ia dibangun dari tindakan-tindakan kecil yang konsisten, termasuk memastikan bahwa setiap sitasi yang kita tulis benar-benar ada. Di era di mana mesin semakin pintar, tantangan terbesar kita bukanlah mengikuti kecerdasan mereka, tetapi menjaga kejernihan kita sebagai manusia. (*)

Penulis

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti Undiksha

Editor : I Putu Mardika

Tautan Kolom Surat Kabar: https://baliexpress.jawapos.com/kolom/2604190010/frankenstein-citation-ketika-sitasi-palsu-menjadi-alarm-bagi-dunia-akademik-di-era-ai


Gusti Putu Tergantung ‘Prompt’ (GPT): Ilusi Kompetensi dan Makna Pagerwesi

Selasa, 7 Apr 2026

Gusti Putu Tergantung ‘Prompt’ (GPT): Ilusi Kompetensi dan Makna PagerwesiMade Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Pagerwesi kembali hadir sebagai pengingat mendalam bagi umat Hindu, khususnya di Bali, tentang pentingnya memperkokoh “pager” atau benteng diri – bukan hanya secara spiritual, tetapi juga intelektual dan moral.

Dalam tradisi, Pagerwesi dimaknai sebagai hari untuk meneguhkan keteguhan hati dan kejernihan pikiran dalam menghadapi berbagai godaan kehidupan. Namun, di tengah derasnya arus perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), makna Pagerwesi menemukan relevansi baru yang jauh melampaui konteks ritual semata.

Dalam berbagai lontar seperti Sarasamuscaya dan Siwa Tattwa, manusia diajarkan bahwa keutamaan hidup terletak pada kemampuan membedakan yang benar dan yang salah (viveka), serta mengendalikan diri dari pengaruh yang menyesatkan. Pengetahuan bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan kebijaksanaan dalam menggunakannya. Nilai ini menjadi sangat penting di era AI, ketika akses terhadap pengetahuan menjadi instan, tetapi kebenaran sering kali kabur di balik kemudahan tersebut.

AI hari ini mampu menulis, merangkum, bahkan “berpikir” seolah-olah manusia. Di satu sisi, ini membuka peluang luar biasa dalam pendidikan, riset, dan produktivitas. Namun di sisi lain, muncul fenomena yang mengkhawatirkan: penyalahgunaan AI untuk plagiarisme, manipulasi informasi, hingga ketergantungan berlebihan yang melemahkan daya pikir kritis. Banyak pelajar dan bahkan akademisi terjebak dalam ilusi kompetensi – merasa mampu, padahal hanya mengandalkan mesin.

Di sinilah Pagerwesi berbicara dengan sangat kuat. Benteng diri yang dimaksud bukan sekadar perlindungan dari kekuatan eksternal, tetapi juga pengendalian terhadap kelemahan internal: kemalasan berpikir, keinginan instan, dan godaan untuk mengambil jalan pintas. AI, dalam konteks ini, bukanlah musuh. Ia adalah alat. Namun tanpa “pager” yang kokoh, alat ini dapat dengan mudah menggerus integritas.

Mengasah pemikiran kritis menjadi bentuk nyata dari implementasi nilai Pagerwesi di era digital. Dalam Sarasamuscaya, disebutkan bahwa manusia yang bijaksana adalah mereka yang mampu mempertimbangkan setiap tindakan dengan akal dan nurani.

Beberapa studi, seperti Education Sciences (2023), Teaching English with Technology (2024), dan Journal of Education and Learning (2025) menekankan bahwa pengguna AI harus mampu bertanya ketika hasil dari mesin ini diberikan: Apakah informasi ini benar? Apakah ini hasil refleksi saya atau sekadar salinan? Apakah penggunaan ini etis? Apakah yang ‘hilang/bisa dikritisi’ dari hasil (output) mesin ini?

Lebih jauh lagi, etika dalam pemanfaatan AI menjadi krusial. AI tidak memiliki moralitas; manusialah yang memberinya arah. Tanpa landasan etika, AI bisa menjadi alat reproduksi hoaks, ujaran kebencian, bahkan eksploitasi intelektual. Oleh karena itu, semangat Pagerwesi ini sesuai dengan tulisan di jurnal Contemporary Educational Technology (2025) yang mengajak kita untuk meninjau kembali pemanfaatannya agar tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijaksana secara moral.

Pagerwesi juga mengingatkan bahwa kekuatan sejati terletak pada keseimbangan antara pengetahuan (widya) dan kebajikan (dharma). Dalam konteks AI, ini berarti kita tidak boleh hanya mengejar efisiensi dan kecepatan, tetapi juga kejujuran, tanggung jawab, dan kemanusiaan. AI seharusnya memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya secara membabi buta.

Pada akhirnya, Pagerwesi di era AI adalah panggilan untuk membangun benteng baru – benteng kesadaran digital. Sebuah kesadaran yang mampu menyaring informasi, menolak kemudahan yang menyesatkan, dan menggunakan teknologi sebagai sarana untuk berkembang, bukan sebagai jalan pintas menuju kemunduran intelektual.

Jika dahulu benteng itu dibangun melalui tapa, brata, dan yoga, maka hari ini benteng itu juga dibangun melalui literasi digital, pemikiran kritis, dan integritas dalam menggunakan teknologi. Di sinilah spiritualitas dan modernitas bertemu – mengajarkan bahwa kemajuan sejati bukan hanya tentang apa yang bisa kita lakukan dengan teknologi, tetapi tentang bagaimana kita tetap menjadi manusia yang utuh di tengahnya. Jadi, jangan hanya copy paste dari Gusti Putu Tergantung ‘Prompt’ (GPT), tapi gunakan literasi AI sebaik-baiknya agar terhindar dari ilusi kompetensi. (*)

Made Hery Santosa, Ph.D. | Pendidik dan Peneliti Undiksha

Editor : I Putu Mardika

Tautan Kolom Surat Kabar: https://baliexpress.jawapos.com/kolom/2604070018/gusti-putu-tergantung-prompt-gpt-ilusi-kompetensi-dan-makna-pagerwesi?page=all


Dari Saraswati ke Algoritma, Mau Kemana Arah Belajar Kita?

Jumat, 3 Apr 2026

Dari Saraswati ke Algoritma, Mau Kemana Arah Belajar Kita?Made Hery Santosa, Ph.D Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah lanskap cara manusia belajar, bekerja, dan berkarya. Dalam hitungan detik, AI mampu menghasilkan tulisan, merangkum pengetahuan, bahkan menyusun gagasan kompleks.

Namun di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kita sedang membangun peradaban yang lebih cerdas, atau justru mempercepat praktik instan yang mengikis makna berpikir? Fenomena penyalahgunaan AI semakin terlihat dan nyata. Banyak yang menggunakan AI semata untuk menyelesaikan tuntutan, seperti tugas – bukan untuk memahami, apalagi mengkritisi. 

Menurut studi yang diterbitkan oleh jurnal Cognitive Research: Principles and Implications (2025) dan Trends in Cognitive Sciences (2016), proses berpikir yang seharusnya menjadi inti pembelajaran perlahan tergantikan oleh ketergantungan pada mesin – yang disebut sebagai “cognitive offloading” atau proses menggunakan alat lain (dalam hal ini AI) untuk berpikir dan menghasilkan produk pikir instan.

Jika ini terus menerus dilakukan, kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif berpotensi terkikis karena ketergantungan yang berlebihan pada teknologi – atau disebut sebagai “cognitive athrophy.” Di sinilah risiko besar muncul: menurunnya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan refleksi mendalam – tiga hal yang justru menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan masa depan.

Momentum Hari Raya Saraswati menghadirkan refleksi yang sangat kontekstual, khususnya di masyarakat Hindu di Bali. Di hari raya ini, umat Hindu di Bali memuja Dewi Saraswati sebagai Sakti dari Dewa Brahma, berperan sebagai Pencipta, dan berdampingan menjaga siklus alamiah kehidupan bersama Dewa Wisnu (pemelihara) bersama Dewi Sri dan Dewa Siwa (Pelebur) bersama Dewi Durga.

Menurut Lontar Sundarigama, Saraswati berasal dari dua kata, yaitu “saras” yang bermakna mengalir layaknya air dan “wati” yang bermakna memiliki. Dapat diartikan bahwa Saraswati adalah simbol penyadaran dan pencerahan yang mengalir dalam kehidupan tanpa mengenal usia, jenis kelamin dan perbedaan lainnya. Hari raya ini diperingati setiap 210 hari sekali pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung yang menandakan turunnya ilmu pengetahuan sebagai penuntun umat manusia ke jalan kebenaran.

Saraswati tidak hanya dimaknai sebagai hari suci turunnya ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai simbol kesadaran intelektual dan spiritual dalam mengelola pengetahuan tersebut. Ilmu bukan sekadar informasi yang dikonsumsi, melainkan proses pemaknaan yang melibatkan etika, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.

Saraswati bukan sekadar simbol, tetapi juga representasi dari kebijaksanaan, kesucian pikiran, dan penghormatan terhadap proses belajar itu sendiri. Ilmu pengetahuan dalam makna Saraswati bukanlah sesuatu yang instan dan mekanis, melainkan hasil dari kontemplasi, disiplin, dan pengabdian intelektual.

Nilai-nilai Saraswati mengajarkan bahwa literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, mengkritisi, dan menciptakan makna. Dalam konteks ini, penggunaan AI seharusnya tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai Saraswati, melainkan justru memperkuatnya. AI dapat menjadi “Saraswati Digital” jika digunakan dengan kesadaran literasi yang tinggi, yakni kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan mencipta secara bertanggung jawab. Sebaliknya, tanpa literasi yang kuat, AI hanya akan menjadi alat reproduksi informasi tanpa jiwa. 

Di sinilah pentingnya keterampilan abad ke-21 menjadi sangat relevan. Keterampilan seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi tidak dapat digantikan oleh AI. Justru, semakin canggih teknologi, semakin penting peran manusia dalam mengelola, menginterpretasi, dan memberi nilai pada informasi yang dihasilkan. Menurut penelitian dalam Australian Journal of Applied Linguistics (2026), AI dapat membantu mempercepat proses, tetapi tidak dapat menggantikan kedalaman pemikiran dan kepekaan konteks.

Lebih jauh, dalam dunia yang semakin terhubung secara global, keterampilan abad ke-21 juga mencakup literasi digital, literasi informasi, dan literasi budaya. Individu tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami implikasi sosial, etika, dan budaya dari penggunaannya. Dalam konteks lokal seperti Bali, ini berarti mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal, seperti yang tercermin dalam Saraswati, ke dalam praktik digital dan global.

Dengan demikian, AI tidak boleh diposisikan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk memperkuat kapasitas manusia agar mampu berkontribusi secara lebih luas. Hasil studi dari The Electronic Journal of Teaching English as a Second or Foreign Language (2026) menegaskan bahwa AI perlu diposisikan sebagai mitra intelektual, bukan pengganti akal budi manusia. Seorang penulis, misalnya, tidak cukup hanya produktif menghasilkan teks, tetapi juga harus mampu menghasilkan karya yang berdampak – yang mampu menginspirasi, mengedukasi, dan membuka ruang dialog, baik di tingkat lokal maupun global.

Produktivitas berkarya di era AI harus didefinisikan ulang. Bukan sekadar cepat dan banyak, tetapi juga mendalam, autentik, relevan, dan berdampak. Karya yang lahir dari proses berpikir kritis dan refleksi akan memiliki daya saing global, sekaligus tetap berakar pada identitas lokal. Nilai Saraswati bermakna luas, bahwa ilmu pengetahuan seharusnya memberi manfaat bagi kehidupan. Oleh karena itu, penggunaan AI perlu diarahkan untuk menghasilkan karya-karya yang tidak hanya produktif, tetapi juga berdampak: tulisan yang mencerahkan, penelitian yang solutif, serta kegiatan-kegiatan edukatif yang memberdayakan masyarakat. 

Dalam konteks ini, AI dapat menjadi katalis untuk mempercepat lahirnya inovasi, selama tetap dikendalikan oleh nilai-nilai etis dan kemanusiaan. Dalam semangat Saraswati, AI dapat digunakan untuk memperkaya ide, memperluas perspektif, dan mempercepat eksplorasi gagasan dari berbagai sudut pandang, dengan tetap bertanggung jawab untuk menyaring, mengolah, dan memberikan sentuhan reflektif yang autentik.

Akhirnya, momentum Saraswati mengingatkan kita bahwa kemajuan teknologi harus selalu diimbangi dengan kematangan literasi. AI adalah alat; manusialah yang menentukan arah penggunaannya. Jika digunakan dengan bijak, AI dapat menjadi sahabat dalam perjalanan intelektual kita. Namun jika disalahgunakan, ia berpotensi melemahkan fondasi berpikir yang justru adalah representasi kekuatan utama manusia.

Momentum Saraswati mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan selalu memiliki dimensi etis dan spiritual. Dalam era AI, dimensi inilah yang harus dijaga agar teknologi tidak hanya membuat kita lebih cepat, tetapi juga lebih bijaksana. Maka, di tengah derasnya arus AI, sudah saatnya kita kembali pada esensi: menghormati ilmu, merawat literasi, dan berkarya dengan kesadaran.

Seperti air yang mengalir dari sumber yang jernih, demikian pula karya yang lahir dari pikiran yang tercerahkan akan membawa manfaat yang luas. Dan di situlah, nilai sejati Saraswati menemukan relevansinya dalam dunia yang semakin cerdas namun tetap membutuhkan kebijaksanaan. (*)

Made Hery Santosa, Ph.D. | Pendidik dan Peneliti Undiksha

Editor: I Putu Mardika

Tautan Kolom Surat Kabar: https://baliexpress.jawapos.com/kolom/2604030013/dari-saraswati-ke-algoritma-mau-kemana-arah-belajar-kita?page=all


Aplikasi Ini Bisa Bikin Kamu Lancar Berbahasa Inggris di Depan Umum

08 Feb 2019

www.nusabali.com-aplikasi-ini-bisa-bikin-kamu-lancar-berbahasa-inggris-di-depan-umum

NusaBali.com – Ilustrasi – NET

Seiring perkembangan teknologi yang pesat, banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan diri akan literasi dalam dunia digital. Salah satunya adalah aplikasi Orai.

DENPASAR, NusaBali.com

Revolusi Industri 4.0 mensyaratkan kita semua agar bisa mengikuti perubahan dan memanfaatkan perubahan dengan efektif. Agar menjadi driver bukan sekedar passenger, seperti Prof. Renald Khasali sampaikan. Agar juga mengisi diri dengan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dunia global, seperti berpikir kritis dan inovatif, berjejaring, memecahkan masalah, berkreasi, berkomunikasi, dan berkolaborasi dengan baik. Tidak hanya tentang nilai tinggi saja. Seiring perkembangan teknologi yang pesat, banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan diri akan literasi dalam dunia digital. Salah satunya adalah aplikasi Orai. 

Apa itu Orai?

Logo Orai – NET

Orai adalah sebuah aplikasi untuk membantu semua orang mengembangkan keterampilan berbicara, khususnya berbicara dalam bahasa Inggris. Dalam konteks siswa milenial yang jarang lepas dari telepon pintarnya, aplikasi ini bisa membantu mereka berlatih berbicara dan/ atau menjadi pembicara publik dalam bahasa Inggris yang lebih baik. Aplikasi Orai memberi kesempatan mereka berlatih berbicara berulang-ulang dengan umpan balik instan. Mereka akan diberitahu apakah mereka berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat. Apakah terlalu banyak jeda atau kata-kata ‘err’, ‘emm’, ‘what is it’, dan seterusnya. Selain itu, semua kekurangan ditampilkan dalam transkrip yang kita sampaikan secara lisan sebelumnya. Orai juga memberi informasi tambahan pada siswa, seperti semangat – apakah terlalu bersemangat atau terlalu monoton. Hal lain yang diberikan juga adalah kejelasan ucapan dan pelafalan serta ringkasan hasil bicara mereka.

Orai memberi beberapa fitur yang didesain mengasah keterampilan berbicara siswa, yaitu Lessons, Practice, Progress, dan Recordings. Masing-masing fitur utama memiliki konten yang menarik dan bisa dipelajari berulang-ulang untuk mengasah kemampuan berbicara ini. Di fitur ‘Lessons’, mereka yang ingin berlatih berbicara bisa belajar dan melatihkan kemampuan berbicaranya pada konten-konten yang diberikan. Masing-masing konten terdiri dari tiga tahapan konten yang harus diselesaikan sebelum bisa mempelajari konten pelajaran selanjutnya.

Konten pertama dalam fitur Lessons adalah Control Your Pace yaitu melatih murid-murid mengontrol kecepatan berbicara mereka. Konten selanjutnya adalah Fight Your Fillers untuk melatih mereka mengurangi kata-kata yang tak perlu, seperti ‘err’, ‘emm’ dan lainnya. Speak with Clarity adalah konten lanjutan yang menekankan pada latihan untuk menyampaikan ide bicara secara jelas, to the point. Konten berikutnya adalah Vary Your Energy yang melatih mereka untuk tahu kapan berbicara dengan energik dan kapan tidak. Konten selanjutnya fokus pada situasi Interview dimana murid-murid dilatih merespon sebaik-baiknya pada situasi wawancara. Terakhir, konten Power of the Pause memberi penekanan pada pentingnya melakukan jeda, namun pada saat yang tepat. Seluruh konten ini bisa dicek kemajuannya di aplikasi Orai tersebut. 

Bagaimana Integrasi Aplikasi Orai pada Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris?

Seperti telah disampaikan sebelumnya, Orai bisa digunakan untuk membantu kemampuan berbicara. Siswa di semua tingkatan membutuhkan pelatih untuk belajar berbicara di depan umum. Masalahnya adalah, dapatkah guru melatih siswa mereka satu per satu hingga mereka menjadi lebih baik? Itu akan tidak mudah. Karena fungsinya, Orai potensial diintegrasikan ke pembelajaran bahasa Inggris. Orai dapat membantu guru dalam melatih, menilai, memantau siswa dalam mengembangkan keterampilan berbicara mereka. Selain itu, Orai dapat digunakan untuk berlatih berbicara dalam berbagai materi. Siswa bisa berlatih mandiri atau berkolaborasi dengan teman-temannya dan belajar dari masukan yang diberikan. 

Guru bisa memberi topik-topik di awal pembelajaran untuk siswa latihkan presentasi. Selama persiapan, siswa diminta berlatih dengan menggunakan Orai dan mencatat semua masukan dari Orai. Diskusi bersama bisa dilakukan untuk memberi ruang siswa merefleksi dan berpikir kritis sambil mengatasi masalah yang ia hadapi. Di akhir persiapan, siswa diminta pendapatnya tentang Orai dan bagaimana peran Orai dalam keterampilan berbicara mereka. Alternatif lain pemanfaatan Orai bisa lintas sekolah bahkan lintas negara. Sehingga masukan bisa semakin kaya dan membantu siswa berjejaring meluaskan lingkup diskusinya. 

Yang penting dari aplikasi Orai adalah fitur Practice dimana yang ingin berlatih bisa secara berulang merekam dirinya ketika berbicara dan kemudian mendapatkan masukan langsung dari Orai. Ketika berlatih, murid-murid bisa memilih mode Give Me a Topic atau Free. Orai akan bisa memberi masukan jika rekaman latihan dilakukan selama minimal 15 detik. 

Apa Keuntungan dan Kerugian Menggunakan Aplikasi Orai pada Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris?

Kekuatan Orai adalah (1) Orai dapat diakses dimana saja dan kapan saja dengan koneksi Internet, (2) Orai sangat mudah digunakan, dan (3) Transkripnya sangat jelas dan sangat membantu. Adapun kelemahan Orai adalah (1) aplikasi ini memiliki kemampuan yang sangat terbatas, hanya dapat mengembangkan keterampilan berbicara dan (2) Orai adalah aplikasi berbayar. Jadi, jika dalam konteks pendidikan, dan siswa atau guru tidak memiliki anggaran, hanya bisa menggunakan uji coba gratis.

Untuk murid-murid Indonesia yang jarang lepas dari telepon pintarnya namun juga masih sangat perlu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, khususnya berbicara, aplikasi Orai tentunya menarik untuk dicoba. Aplikasi ini bisa diunduh di iOS dan Play Store dan dijalankan melalui telepon pintar masing-masing. Meski demikian, kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi saja. Kita harus mampu memanfaatkan teknologi seefektif mungkin. Jangan abaikan latihan bersama teman-teman karena interaksi dan masukan langsung dari manusia – bukan mesin – bisa sangat membantu. Untuk belajar Orai, bisa menontonnya di https://youtu.be/v2zRcV2kt2g. Selamat mencoba!

Penulis: Made Hery Santosa, Ph.D. adalah Staf Pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Ganesha.

Tautan Kolom Surat Kabar: https://www.nusabali.com/berita/46735/aplikasi-ini-bisa-bikin-kamu-lancar-berbahasa-inggris-di-depan-umum


Pendasbudi Bali Edukasi: Membangun Insan Cerdas Berkarakter Sejak Dini

15 Dec 2018

www.nusabali.com-pendasbudi-bali-edukasi-membangun-insan-cerdas-berkarakter-sejak-dini

NusaBali.com – Kegiatan Pendasbudi Bali Edukasi – Dok. Bali Edukasi

Menariknya, terdapat dua mahasiswa relawan pertukaran pelajar dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan satu tenaga relawan dari universitas swasta di Jakarta yang penuh semangat berbagi dan membantu.

BULELENG, NusaBali.com

Berangkat dari tujuan memberikan pendidikan kepada anak-anak dan menyelipkan pendidikan karakter, Bali Edukasi – sebuah komunitas edukasi – secara konsisten berbagi dan membantu adik-adik dan guru-guru di pelosok Bali. Karakter merupakan hal terpenting dari diri seseorang dalam berilmu. Kalimat seperti, “Menjadi pintar bisa jadi mudah, tapi menjadi pintar yang berkarakter perlu waktu,” menunjukkan betapa pentingnya karakter dalam diri seseorang, yang mana pintar saja belum cukup untuk bisa menjadi pribadi-pribadi yang madani (berbudi luhur), yang bisa berperan di lingkup global dan lokal, yang memiliki perspektif global tanpa melupakan kearifan lokal. 

Program Pendidikan untuk Generasi Cerdas Berbudi (Pendasbudi) merupakan salah satu kegiatan dari Bali Edukasi di tahun 2018. Fokus dari kegiatan Pendasbudi adalah membangun karakter siswa sejak dini karena pintar saja tidak cukup dan harus diimbangi dengan karakter yang berbudi luhur. Menanamkan pendidikan karakter bukanlah sesuatu hal yang mudah dan bisa instan. Hal ini perlu konsistensi, dedikasi, serta waktu yang cukup agar kelak program Pendasbudi dapat tertanam dan terlaksana dengan baik. Untuk itu, sekolah pertama yang menjadi sasaran kegiatan Pendasbudi 2018 adalah SDN 2 Bengkala yang terletak di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Sekolah ini terletak di sebuah komunitas tulibisu (kolok) terbesar di dunia. Sekolah ini unik karena merupakan sekolah inklusi (gabungan dengan anak berkebutuhan khusus, yaitu tulibisu). 

Kegiatan ini dilaksanakan selama enam bulan (satu semester) dengan satu kali pertemuan setiap bulannya, dengan tujuan adanya penerapan pengembangan generasi yang cerdas dan berbudi secara bertahap dan berproses. Konsep yang mendasari Pendasbudi 1 – 6 ini berakar dari 5 karakter pada Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Penanaman karakter disampaikan melalui aktivitas-aktivitas belajar pada Pendasbudi dengan konsep bermain dan belajar. Sehingga, tanpa sadar anak-anak dibuat terbiasa untuk bekerja dalam tim, menumbuhkan sikap nasionalisme, gotong-royong, integritas, religius, dan mandiri sejak dini.

Foto: Salah Satu Kegiatan Pendasbudi di SDN 2 Bengkala – Dok. Bali Edukasi

Adapun aktivitas-aktivitas yang telah diberikan oleh tim Bali Edukasi merupakan kombinasi kegiatan dalam ruangan dan luar ruangan. Di kegiatan dalam ruangan, tim Bali Edukasi mengkhususkan pada aktivitas-aktivitas belajar untuk membangun perilaku mandiri, suka bergotong-royong, dan kreatif. Siswa-siswi SDN 2 Bengkala diajak untuk mendongeng, yang mana isi cerita bervariasi mulai dari cerita lokal, seperti Bawang lan Kesuna, Indonesia, seperti Malin Kundang, sampai cerita dengan konteks global, seperti Cinderella. Mereka bersama kakak-kakak Bali Edukasi juga beraktivitas menciptakan benda-benda bernilai seni dengan barang bekas, seperti tempat pensil dan pohon literasi. Kegiatan ini diajarkan dengan tujuan, siswa-siswi dapat berpikir secara mandiri, bekerja bersama, berkreasi, dan mampu memecahkan masalah melalui pesan dalam cerita dongeng anak maupun dalam kegiatan kreatif membuat kerajinan. 

Untuk kegiatan luar ruangan, siswa-siswi diajak untuk terlibat aktif dalam permainan tradisional Bali seperti, Megoak-Goakan dan Meng Ngejuk Bikul. Permainan ini melatih kesigapan, kesetiakawanan, dan integritas untuk sikap sportif untuk para siswa dan tentunya diharapkan dapat menumbuhkan rasa kerja sama dan etos kerja keras dalam diri siswa-siswi. Di samping itu, para guru SDN 2 Bengkala diupayakan terlibat dalam aktivitas Pendasbudi, sehingga akan lebih mengenal siswa-siswinya lebih dekat. Diharapkan, agar para guru dapat mengajak siswa-siswinya belajar dengan aktivitas-aktivitas yang lebih berfokus pada siswa, dengan cara-cara menyenangkan dan dilakukan secara berkesinambungan. Sehingga, tujuan menumbuhkan sumber daya manusia yang unggul bisa tercapai.

Kegiatan ini dirancang oleh tim Bali Edukasi secara bersama-sama agar selain membantu adik-adik di pelosok, kakak-kakak mentornya juga menumbuhkan dirinya menjadi pribadi-pribadi yang cerdas dan berkarakter. Jadi, sebagai wadah, Bali Edukasi bisa membantu banyak pihak terkait mencapai tujuannya tersebut. Pendasbudi ini dilaksanakan oleh 10 tim Bali Edukasi dan 10 tenaga sukarelawan. Menariknya, terdapat dua mahasiswa relawan pertukaran pelajar dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan satu tenaga relawan dari universitas swasta di Jakarta yang penuh semangat berbagi dan membantu. Dengan kolaborasi nyata ini, seluruh tim Pendasbudi Bali Edukasi mencoba berbagi pada siswa-siswi dan guru-guru di SDN 2 Bengkala perihal pembelajaran karakter yang penuh dengan keceriaan.

Dalam jangka panjang Pendasbudi diharapkan dapat berkelanjutan di sekolah-sekolah lainnya di banyak tempat di lingkup yang lebih luas. Bali Edukasi berupaya untuk selalu berinovasi untuk kegiatan berkarakter seperti Pendasbudi ini agar selalu bermanfaat bagi lebih banyak pihak. Untuk lebih meningkatkan dan mendorong kegiatan-kegiatan serupa lebih baik lagi, Bali Edukasi tidak saja akan terjun kembali membantu adik-adik pelajar namun juga tim Bali Edukasi akan merancang dan mengembangkan beragam media ajar seperti, buku bacaan anak, Virtual Reality (VR) berbasis media pelajaran untuk anak-anak, animasi, dan bacaan anak berbasis elektronik. Hal nyata dan komitmen tim Bali Edukasi inilah yang senantiasa siap membantu menyalakan peradaban negeri. 

Bali Edukasi selalu terbuka menerima siapapun yang ingin belajar dan berbagi. Informasi mengenai Bali Edukasi bisa diperoleh dari lamannya di http://www.baliedukasi.org dan media sosial, yaitu Facebook (Bali Edukasi), Facebook Page (Bali Edukasi), Twitter (@BaliEdukasi), YouTube (BaliEdukasi), dan Instagram (@baliedukasi). Semoga semakin banyak tumbuh perpanjangan tangan-tangan kebaikan negeri yang mampu berkiprah di level global dan lokal, yang tidak hanya pintar namun juga selalu memegang teguh integritas, arif, dan menunduk ke bumi. *

Bali Edukasi, Bersama Menyalakan Peradaban.

Penulis: Made Agus Mandala Putra | Ni Made Wahyu Suganti Cahyani | Made Hery Santosa

Tulisan Kolom Surat Kabar: https://www.nusabali.com/berita/43531/pendasbudi-bali-edukasi-membangun-insan-cerdas-berkarakter-sejak-dini


Terima kasih sudah berkenan membaca :)