This page is to collect the columns that have been written in newspapers.

“Frankenstein Citation”: Ketika Sitasi Palsu Menjadi Alarm bagi Dunia Akademik di Era AI

I Putu Mardika

Minggu, 19 Apr 2026 15:15 WIB

“Frankenstein Citation”: Ketika Sitasi Palsu Menjadi Alarm bagi Dunia Akademik di Era AIMade Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Temuan terbaru dari publikasi di Nature (1 April 2026) berjudul “Hallucinated citations are polluting the scientific literature. What can be done?” seharusnya tidak kita baca sambil lalu. Ia bukan sekadar laporan teknis tentang kesalahan referensi, melainkan sebuah peringatan keras tentang krisis yang diam-diam menggerogoti fondasi ilmu pengetahuan. 

Dalam analisis terhadap lebih dari 4.000 publikasi, ditemukan bahwa sebagian besar artikel yang mencurigakan mengandung setidaknya satu sitasi yang tidak dapat diverifikasi, bahkan tidak pernah ada. Jika diekstrapolasi, lebih dari 100.000 publikasi ilmiah dari tahun 2025 saja berpotensi terdampak. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cerminan dari sesuatu yang lebih dalam, yakni perubahan cara kita berinteraksi dengan pengetahuan di era AI.

Hari ini, alat seperti ChatGPT dan berbagai model bahasa besar (Large Language Models  / LLMs) lainnya telah menjadi bagian dari keseharian akademik. Mereka membantu merangkum artikel, menyusun argumen, bahkan menghasilkan daftar pustaka dalam hitungan detik. Efisiensi ini menggiurkan, terutama dalam ekosistem akademik yang semakin kompetitif dan menuntut produktivitas tinggi. Namun di balik kemudahan itu, tersembunyi jebakan yang tidak selalu kita sadari, yaitu ilusi akurasi.

AI tidak “tahu” dalam perannya “menjadi manusia.” Ia mampu memprediksi. Ia merangkai kata berdasarkan pola. Maka ketika diminta membuat sitasi, ia tidak selalu mengambil dari basis data nyata, melainkan “menciptakan” referensi yang tampak logis. Nama penulis mungkin nyata. Judul jurnal terdengar kredibel. 

Digital Object Identifier (DOI) terlihat valid. Tetapi ketika ditelusuri, semuanya berujung pada sesuatu yang bisa jadi palsu. Inilah yang oleh para peneliti disebut sebagai hallucinated citations, atau bahkan lebih tajam lagi, “Frankenstein citations”, yang bermakna potongan-potongan realitas yang dijahit menjadi sesuatu yang tampak hidup, padahal tidak pernah eksis. Ya, seperti wujud makhluk yang diciptakan oleh Victor Frankenstein, seorang ilmuwan, dalam novel karya Mary Shelley (1818), yang meskipun berbasis ilmu, namun dipandang mengesampingkan standar aman pengetahuan, tanggung jawab, dan etika dalam sains. 

Sangat mudah untuk menyalahkan AI atas fenomena ini. Namun, jika kita jujur, teknologi hanyalah alat. Akar persoalan justru terletak pada budaya akademik kita sendiri. Di beberapa konteks pendidikan, misalnya Indonesia, budaya membaca masih belum mengakar kuat. Menurut studi yang diterbitkan di jurnal Kasetsart Journal of Social Sciences (2024), membaca seharusnya bersifat ekstensif (Extensive Reading), yaitu membaca yang menyenangkan yang tanpa disadari kemudian membantu penguasaan kosakata, informasi, dan membentuk aspek kognitif secara terstruktur tanpa disadari yang akan bermanfaat di kemudian hari, bukan membaca untuk menjawab soal (Intensive Reading). Membaca sering kali dilakukan karena tuntutan tugas, bukan kebutuhan intelektual. Mahasiswa mencari “yang penting ada bisa menjawab (soal/tes)”, bukan “apa yang sebenarnya dikatakan oleh soal/informasi/penelitian tersebut.”

Akibatnya, relasi dengan literatur menjadi dangkal. Artikel ilmiah tidak dibaca sebagai sumber pemahaman, tetapi sebagai simbol legitimasi. Dalam situasi seperti ini, kehadiran AI yang bisa “menyediakan” referensi secara instan menjadi sangat menggoda.

Lebih jauh lagi, kita menghadapi persoalan klasik, yaitu lemahnya kemampuan berpikir kritis. Dalam banyak kasus, output dari AI diterima begitu saja tanpa verifikasi. Ada semacam kepercayaan implisit bahwa teknologi canggih pasti benar. Padahal, dalam tradisi ilmiah, keraguan justru merupakan titik awal dari pengetahuan.

Kita juga tidak bisa mengabaikan dominasi surface learning, yakni pola belajar yang berfokus pada hafalan dan reproduksi informasi, bukan memahami, berinteraksi kritis dengan informasi, dan mencipta sesuatu dari pemahamn sendiri (deep learning). Dalam pendekatan ini, referensi sering kali hanya menjadi pelengkap administratif, sesuatu yang harus ada agar tulisan terlihat ilmiah. Jarang sekali ia diperlakukan sebagai bagian dari argumen.

Di sinilah letak ironi terbesar. Ketika referensi kehilangan maknanya, maka keberadaannya, benar atau palsu, menjadi tidak lagi penting bagi sebagian penulis. Dan semua ini diperparah oleh satu kecenderungan zaman, yakni obsesi terhadap kecepatan. Publikasi harus cepat. Tugas harus selesai segera. Artikel harus banyak. Dalam tekanan seperti ini, verifikasi sering dianggap sebagai hambatan, bukan kebutuhan.

Yang membuat fenomena ini berbahaya bukan hanya jumlahnya, tetapi sifatnya yang sistemik. Ketika satu artikel mengandung sitasi palsu, artikel lain mungkin mengutipnya. Rantai kesalahan ini dapat berkembang secara eksponensial, menciptakan “realitas semu” dalam literatur ilmiah. Bayangkan seorang peneliti yang membangun argumen berdasarkan referensi yang sebenarnya tidak ada.

Bayangkan mahasiswa yang mengutip artikel tersebut dalam skripsinya. Bayangkan kebijakan publik yang, secara tidak langsung, dipengaruhi oleh pengetahuan yang cacat. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya masalah akademik. Ini adalah ancaman terhadap kepercayaan publik terhadap sains itu sendiri.

Apa langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menyikapi hal ini? Jika akar persoalan ini adalah budaya, maka solusi utamanya juga harus bersifat kultural.

Langkah pertama adalah mengembalikan martabat membaca. Membaca tidak boleh lagi diposisikan sebagai aktivitas sekunder. Ia harus menjadi inti dari proses belajar. Mahasiswa perlu dilatih untuk membaca secara aktif, mengajukan pertanyaan, mengidentifikasi asumsi, mengevaluasi metodologi, dan mengkritisi kesimpulan. 

Dalam konteks ini, dosen memiliki peran strategis. Tugas-tugas akademik perlu dirancang ulang agar tidak bisa diselesaikan hanya dengan “copy-paste” atau bantuan AI. Misalnya, alih-alih meminta ringkasan artikel, dosen dapat meminta analisis perbandingan antara beberapa studi, mengonversi tugas dalam moda lain (misal menulis tangan), mencipta ulang respons teman dalam kelas dalam bahasa sendiri atau bentuk lain, atau refleksi kritis terhadap metodologi riset yang digunakan. Ketika membaca menjadi proses berpikir, bukan sekadar mengumpulkan informasi, maka ketergantungan pada referensi instan akan berkurang secara alami.

Langkah kedua adalah membangun literasi AI yang memadai. Pengguna perlu memahami batasan teknologi yang mereka gunakan. AI bukan mesin kebenaran, melainkan alat bantu berbasis probabilitas. Prinsip yang harus dipegang sederhana tetapi krusial adalah “gunakan AI untuk menemukan, bukan untuk memverifikasi.” Setiap referensi yang dihasilkan harus diperiksa ulang melalui basis data akademik, seperti Google ScholarScopus, atau Web of Science dan lainnya. Selain itu, penting untuk membiasakan diri memeriksa DOI secara langsung. Jika tautan tidak mengarah ke publikasi yang jelas, itu adalah sinyal peringatan. Dalam dunia akademik, skeptisisme bukanlah sikap negatif, ia adalah langkah awal menjadi objektif dan bentuk tanggung jawab.

Langkah ketiga adalah menggeser filosofi belajar. Perubahan yang lebih mendasar adalah pergeseran dari surface learning ke deep learning. Ini bukan sekadar perubahan metode, tetapi tentang pandangan akan filosofi belajar. Dalam deep learning, tujuan utama bukanlah menyelesaikan tugas, melainkan memahami konsep. Referensi tidak lagi menjadi ornamen, tetapi fondasi argumen. Siswa yang benar-benar memahami apa yang mereka tulis akan secara otomatis lebih selektif dalam memilih dan menggunakan sumber. Untuk mencapai ini, evaluasi pembelajaran juga harus berubah. Penilaian tidak boleh hanya berbasis hasil akhir, tetapi juga proses. Ada banyak tulisan tentang pendekatan belajar mendalam ini, mulai dari kajian paling awal oleh Marton dan Säljö (1976) dari Göteborg Group, kemudian Biggs (1978, 1985, 1987, 1999, 2001, 2003, 2011), Enwistle (1979, 1991, 2014, 2009) dan penulis sendiri (2013, 2017, 2018, 2021, 2022, 2023, 2025, 2026). Intinya, pergeseran filosofi ini dalam era AI adalah melihat lebih dalam pada “Bagaimana mahasiswa menemukan sumber?” “Bagaimana mereka memverifikasinya?”, atau “Bagaimana mereka mengintegrasikannya ke dalam argumen?”

Terakhir, kolaborasi AI-Manusia yang efektif, bermakna, dan beretika. Akhirnya, solusi atas masalah yang diciptakan oleh teknologi juga dapat ditemukan dalam teknologi itu sendiri. Perangkat manajemen referensi seperti Zotero, Mendeley, dan EndNote memungkinkan pengguna mengambil metadata langsung dari sumber yang terverifikasi. Di sisi lain, penerbit dan jurnal dapat mulai mengadopsi alat deteksi sitasi bermasalah berbasis AI. Proses peer review juga perlu diperluas untuk mencakup validasi referensi, bukan hanya evaluasi konten. Memang, ini akan menambah kompleksitas. Tetapi, dalam situasi di mana integritas ilmiah dipertaruhkan, kompleksitas adalah harga yang layak dibayar. 

Hal fundamental yang terlihat di sini adalah bawah persoalan ini kembali pada satu hal, yaitu etika. AI tidak memiliki integritas. Ia tidak memiliki tanggung jawab. Semua itu ada pada manusia yang menggunakannya. Ketika seorang peneliti memasukkan referensi tanpa verifikasi, itu bukan kesalahan teknologi, namun itu adalah pilihan. Bagi peneliti (penulis) awal, tekanan untuk produktif memang nyata. Publikasi sering menjadi ukuran keberhasilan. Namun, kecepatan tidak boleh mengorbankan kualitas. Setiap sitasi yang ditulis adalah bentuk komitmen terhadap kebenaran. Satu referensi palsu mungkin tampak sepele. Tetapi ia adalah celah kecil yang, jika dibiarkan, dapat meruntuhkan bangunan besar bernama ilmu pengetahuan.

Kita sedang berada di persimpangan penting. Di satu sisi, AI menawarkan peluang luar biasa untuk mempercepat dan memperluas penelitian. Di sisi lain, ia juga membuka kemungkinan baru untuk kesalahan, bahkan manipulasi yang sulit dideteksi. Pilihan kita hari ini akan menentukan arah masa depan akademik. Apakah kita akan menjadi generasi yang tergoda oleh kemudahan instan, atau generasi yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan integritas? Jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada kebijakan besar atau teknologi canggih, tetapi pada kebiasaan sehari-hari, yaitu membaca dengan sungguh-sungguh, berpikir secara kritis, dan memverifikasi setiap informasi yang kita gunakan. 

Integritas ilmiah tidak dibangun dalam sekejap, misal menulis sekali kemudian mencapai target, dan berhenti. Ia dibangun dari tindakan-tindakan kecil yang konsisten, termasuk memastikan bahwa setiap sitasi yang kita tulis benar-benar ada. Di era di mana mesin semakin pintar, tantangan terbesar kita bukanlah mengikuti kecerdasan mereka, tetapi menjaga kejernihan kita sebagai manusia. (*)

Penulis

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti Undiksha

Editor : I Putu Mardika

Tautan Kolom Surat Kabar: https://baliexpress.jawapos.com/kolom/2604190010/frankenstein-citation-ketika-sitasi-palsu-menjadi-alarm-bagi-dunia-akademik-di-era-ai


Gusti Putu Tergantung ‘Prompt’ (GPT): Ilusi Kompetensi dan Makna Pagerwesi

Selasa, 7 Apr 2026

Gusti Putu Tergantung ‘Prompt’ (GPT): Ilusi Kompetensi dan Makna PagerwesiMade Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Pagerwesi kembali hadir sebagai pengingat mendalam bagi umat Hindu, khususnya di Bali, tentang pentingnya memperkokoh “pager” atau benteng diri – bukan hanya secara spiritual, tetapi juga intelektual dan moral.

Dalam tradisi, Pagerwesi dimaknai sebagai hari untuk meneguhkan keteguhan hati dan kejernihan pikiran dalam menghadapi berbagai godaan kehidupan. Namun, di tengah derasnya arus perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), makna Pagerwesi menemukan relevansi baru yang jauh melampaui konteks ritual semata.

Dalam berbagai lontar seperti Sarasamuscaya dan Siwa Tattwa, manusia diajarkan bahwa keutamaan hidup terletak pada kemampuan membedakan yang benar dan yang salah (viveka), serta mengendalikan diri dari pengaruh yang menyesatkan. Pengetahuan bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan kebijaksanaan dalam menggunakannya. Nilai ini menjadi sangat penting di era AI, ketika akses terhadap pengetahuan menjadi instan, tetapi kebenaran sering kali kabur di balik kemudahan tersebut.

AI hari ini mampu menulis, merangkum, bahkan “berpikir” seolah-olah manusia. Di satu sisi, ini membuka peluang luar biasa dalam pendidikan, riset, dan produktivitas. Namun di sisi lain, muncul fenomena yang mengkhawatirkan: penyalahgunaan AI untuk plagiarisme, manipulasi informasi, hingga ketergantungan berlebihan yang melemahkan daya pikir kritis. Banyak pelajar dan bahkan akademisi terjebak dalam ilusi kompetensi – merasa mampu, padahal hanya mengandalkan mesin.

Di sinilah Pagerwesi berbicara dengan sangat kuat. Benteng diri yang dimaksud bukan sekadar perlindungan dari kekuatan eksternal, tetapi juga pengendalian terhadap kelemahan internal: kemalasan berpikir, keinginan instan, dan godaan untuk mengambil jalan pintas. AI, dalam konteks ini, bukanlah musuh. Ia adalah alat. Namun tanpa “pager” yang kokoh, alat ini dapat dengan mudah menggerus integritas.

Mengasah pemikiran kritis menjadi bentuk nyata dari implementasi nilai Pagerwesi di era digital. Dalam Sarasamuscaya, disebutkan bahwa manusia yang bijaksana adalah mereka yang mampu mempertimbangkan setiap tindakan dengan akal dan nurani.

Beberapa studi, seperti Education Sciences (2023), Teaching English with Technology (2024), dan Journal of Education and Learning (2025) menekankan bahwa pengguna AI harus mampu bertanya ketika hasil dari mesin ini diberikan: Apakah informasi ini benar? Apakah ini hasil refleksi saya atau sekadar salinan? Apakah penggunaan ini etis? Apakah yang ‘hilang/bisa dikritisi’ dari hasil (output) mesin ini?

Lebih jauh lagi, etika dalam pemanfaatan AI menjadi krusial. AI tidak memiliki moralitas; manusialah yang memberinya arah. Tanpa landasan etika, AI bisa menjadi alat reproduksi hoaks, ujaran kebencian, bahkan eksploitasi intelektual. Oleh karena itu, semangat Pagerwesi ini sesuai dengan tulisan di jurnal Contemporary Educational Technology (2025) yang mengajak kita untuk meninjau kembali pemanfaatannya agar tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijaksana secara moral.

Pagerwesi juga mengingatkan bahwa kekuatan sejati terletak pada keseimbangan antara pengetahuan (widya) dan kebajikan (dharma). Dalam konteks AI, ini berarti kita tidak boleh hanya mengejar efisiensi dan kecepatan, tetapi juga kejujuran, tanggung jawab, dan kemanusiaan. AI seharusnya memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya secara membabi buta.

Pada akhirnya, Pagerwesi di era AI adalah panggilan untuk membangun benteng baru – benteng kesadaran digital. Sebuah kesadaran yang mampu menyaring informasi, menolak kemudahan yang menyesatkan, dan menggunakan teknologi sebagai sarana untuk berkembang, bukan sebagai jalan pintas menuju kemunduran intelektual.

Jika dahulu benteng itu dibangun melalui tapa, brata, dan yoga, maka hari ini benteng itu juga dibangun melalui literasi digital, pemikiran kritis, dan integritas dalam menggunakan teknologi. Di sinilah spiritualitas dan modernitas bertemu – mengajarkan bahwa kemajuan sejati bukan hanya tentang apa yang bisa kita lakukan dengan teknologi, tetapi tentang bagaimana kita tetap menjadi manusia yang utuh di tengahnya. Jadi, jangan hanya copy paste dari Gusti Putu Tergantung ‘Prompt’ (GPT), tapi gunakan literasi AI sebaik-baiknya agar terhindar dari ilusi kompetensi. (*)

Made Hery Santosa, Ph.D. | Pendidik dan Peneliti Undiksha

Editor : I Putu Mardika

Tautan Kolom Surat Kabar: https://baliexpress.jawapos.com/kolom/2604070018/gusti-putu-tergantung-prompt-gpt-ilusi-kompetensi-dan-makna-pagerwesi?page=all


Dari Saraswati ke Algoritma, Mau Kemana Arah Belajar Kita?

Jumat, 3 Apr 2026

Dari Saraswati ke Algoritma, Mau Kemana Arah Belajar Kita?Made Hery Santosa, Ph.D Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah lanskap cara manusia belajar, bekerja, dan berkarya. Dalam hitungan detik, AI mampu menghasilkan tulisan, merangkum pengetahuan, bahkan menyusun gagasan kompleks.

Namun di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kita sedang membangun peradaban yang lebih cerdas, atau justru mempercepat praktik instan yang mengikis makna berpikir? Fenomena penyalahgunaan AI semakin terlihat dan nyata. Banyak yang menggunakan AI semata untuk menyelesaikan tuntutan, seperti tugas – bukan untuk memahami, apalagi mengkritisi. 

Menurut studi yang diterbitkan oleh jurnal Cognitive Research: Principles and Implications (2025) dan Trends in Cognitive Sciences (2016), proses berpikir yang seharusnya menjadi inti pembelajaran perlahan tergantikan oleh ketergantungan pada mesin – yang disebut sebagai “cognitive offloading” atau proses menggunakan alat lain (dalam hal ini AI) untuk berpikir dan menghasilkan produk pikir instan.

Jika ini terus menerus dilakukan, kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif berpotensi terkikis karena ketergantungan yang berlebihan pada teknologi – atau disebut sebagai “cognitive athrophy.” Di sinilah risiko besar muncul: menurunnya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan refleksi mendalam – tiga hal yang justru menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan masa depan.

Momentum Hari Raya Saraswati menghadirkan refleksi yang sangat kontekstual, khususnya di masyarakat Hindu di Bali. Di hari raya ini, umat Hindu di Bali memuja Dewi Saraswati sebagai Sakti dari Dewa Brahma, berperan sebagai Pencipta, dan berdampingan menjaga siklus alamiah kehidupan bersama Dewa Wisnu (pemelihara) bersama Dewi Sri dan Dewa Siwa (Pelebur) bersama Dewi Durga.

Menurut Lontar Sundarigama, Saraswati berasal dari dua kata, yaitu “saras” yang bermakna mengalir layaknya air dan “wati” yang bermakna memiliki. Dapat diartikan bahwa Saraswati adalah simbol penyadaran dan pencerahan yang mengalir dalam kehidupan tanpa mengenal usia, jenis kelamin dan perbedaan lainnya. Hari raya ini diperingati setiap 210 hari sekali pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung yang menandakan turunnya ilmu pengetahuan sebagai penuntun umat manusia ke jalan kebenaran.

Saraswati tidak hanya dimaknai sebagai hari suci turunnya ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai simbol kesadaran intelektual dan spiritual dalam mengelola pengetahuan tersebut. Ilmu bukan sekadar informasi yang dikonsumsi, melainkan proses pemaknaan yang melibatkan etika, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.

Saraswati bukan sekadar simbol, tetapi juga representasi dari kebijaksanaan, kesucian pikiran, dan penghormatan terhadap proses belajar itu sendiri. Ilmu pengetahuan dalam makna Saraswati bukanlah sesuatu yang instan dan mekanis, melainkan hasil dari kontemplasi, disiplin, dan pengabdian intelektual.

Nilai-nilai Saraswati mengajarkan bahwa literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, mengkritisi, dan menciptakan makna. Dalam konteks ini, penggunaan AI seharusnya tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai Saraswati, melainkan justru memperkuatnya. AI dapat menjadi “Saraswati Digital” jika digunakan dengan kesadaran literasi yang tinggi, yakni kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan mencipta secara bertanggung jawab. Sebaliknya, tanpa literasi yang kuat, AI hanya akan menjadi alat reproduksi informasi tanpa jiwa. 

Di sinilah pentingnya keterampilan abad ke-21 menjadi sangat relevan. Keterampilan seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi tidak dapat digantikan oleh AI. Justru, semakin canggih teknologi, semakin penting peran manusia dalam mengelola, menginterpretasi, dan memberi nilai pada informasi yang dihasilkan. Menurut penelitian dalam Australian Journal of Applied Linguistics (2026), AI dapat membantu mempercepat proses, tetapi tidak dapat menggantikan kedalaman pemikiran dan kepekaan konteks.

Lebih jauh, dalam dunia yang semakin terhubung secara global, keterampilan abad ke-21 juga mencakup literasi digital, literasi informasi, dan literasi budaya. Individu tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami implikasi sosial, etika, dan budaya dari penggunaannya. Dalam konteks lokal seperti Bali, ini berarti mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal, seperti yang tercermin dalam Saraswati, ke dalam praktik digital dan global.

Dengan demikian, AI tidak boleh diposisikan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk memperkuat kapasitas manusia agar mampu berkontribusi secara lebih luas. Hasil studi dari The Electronic Journal of Teaching English as a Second or Foreign Language (2026) menegaskan bahwa AI perlu diposisikan sebagai mitra intelektual, bukan pengganti akal budi manusia. Seorang penulis, misalnya, tidak cukup hanya produktif menghasilkan teks, tetapi juga harus mampu menghasilkan karya yang berdampak – yang mampu menginspirasi, mengedukasi, dan membuka ruang dialog, baik di tingkat lokal maupun global.

Produktivitas berkarya di era AI harus didefinisikan ulang. Bukan sekadar cepat dan banyak, tetapi juga mendalam, autentik, relevan, dan berdampak. Karya yang lahir dari proses berpikir kritis dan refleksi akan memiliki daya saing global, sekaligus tetap berakar pada identitas lokal. Nilai Saraswati bermakna luas, bahwa ilmu pengetahuan seharusnya memberi manfaat bagi kehidupan. Oleh karena itu, penggunaan AI perlu diarahkan untuk menghasilkan karya-karya yang tidak hanya produktif, tetapi juga berdampak: tulisan yang mencerahkan, penelitian yang solutif, serta kegiatan-kegiatan edukatif yang memberdayakan masyarakat. 

Dalam konteks ini, AI dapat menjadi katalis untuk mempercepat lahirnya inovasi, selama tetap dikendalikan oleh nilai-nilai etis dan kemanusiaan. Dalam semangat Saraswati, AI dapat digunakan untuk memperkaya ide, memperluas perspektif, dan mempercepat eksplorasi gagasan dari berbagai sudut pandang, dengan tetap bertanggung jawab untuk menyaring, mengolah, dan memberikan sentuhan reflektif yang autentik.

Akhirnya, momentum Saraswati mengingatkan kita bahwa kemajuan teknologi harus selalu diimbangi dengan kematangan literasi. AI adalah alat; manusialah yang menentukan arah penggunaannya. Jika digunakan dengan bijak, AI dapat menjadi sahabat dalam perjalanan intelektual kita. Namun jika disalahgunakan, ia berpotensi melemahkan fondasi berpikir yang justru adalah representasi kekuatan utama manusia.

Momentum Saraswati mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan selalu memiliki dimensi etis dan spiritual. Dalam era AI, dimensi inilah yang harus dijaga agar teknologi tidak hanya membuat kita lebih cepat, tetapi juga lebih bijaksana. Maka, di tengah derasnya arus AI, sudah saatnya kita kembali pada esensi: menghormati ilmu, merawat literasi, dan berkarya dengan kesadaran.

Seperti air yang mengalir dari sumber yang jernih, demikian pula karya yang lahir dari pikiran yang tercerahkan akan membawa manfaat yang luas. Dan di situlah, nilai sejati Saraswati menemukan relevansinya dalam dunia yang semakin cerdas namun tetap membutuhkan kebijaksanaan. (*)

Made Hery Santosa, Ph.D. | Pendidik dan Peneliti Undiksha

Editor: I Putu Mardika

Tautan Kolom Surat Kabar: https://baliexpress.jawapos.com/kolom/2604030013/dari-saraswati-ke-algoritma-mau-kemana-arah-belajar-kita?page=all


Aplikasi Ini Bisa Bikin Kamu Lancar Berbahasa Inggris di Depan Umum

08 Feb 2019

www.nusabali.com-aplikasi-ini-bisa-bikin-kamu-lancar-berbahasa-inggris-di-depan-umum

NusaBali.com – Ilustrasi – NET

Seiring perkembangan teknologi yang pesat, banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan diri akan literasi dalam dunia digital. Salah satunya adalah aplikasi Orai.

DENPASAR, NusaBali.com

Revolusi Industri 4.0 mensyaratkan kita semua agar bisa mengikuti perubahan dan memanfaatkan perubahan dengan efektif. Agar menjadi driver bukan sekedar passenger, seperti Prof. Renald Khasali sampaikan. Agar juga mengisi diri dengan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dunia global, seperti berpikir kritis dan inovatif, berjejaring, memecahkan masalah, berkreasi, berkomunikasi, dan berkolaborasi dengan baik. Tidak hanya tentang nilai tinggi saja. Seiring perkembangan teknologi yang pesat, banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan diri akan literasi dalam dunia digital. Salah satunya adalah aplikasi Orai. 

Apa itu Orai?

Logo Orai – NET

Orai adalah sebuah aplikasi untuk membantu semua orang mengembangkan keterampilan berbicara, khususnya berbicara dalam bahasa Inggris. Dalam konteks siswa milenial yang jarang lepas dari telepon pintarnya, aplikasi ini bisa membantu mereka berlatih berbicara dan/ atau menjadi pembicara publik dalam bahasa Inggris yang lebih baik. Aplikasi Orai memberi kesempatan mereka berlatih berbicara berulang-ulang dengan umpan balik instan. Mereka akan diberitahu apakah mereka berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat. Apakah terlalu banyak jeda atau kata-kata ‘err’, ‘emm’, ‘what is it’, dan seterusnya. Selain itu, semua kekurangan ditampilkan dalam transkrip yang kita sampaikan secara lisan sebelumnya. Orai juga memberi informasi tambahan pada siswa, seperti semangat – apakah terlalu bersemangat atau terlalu monoton. Hal lain yang diberikan juga adalah kejelasan ucapan dan pelafalan serta ringkasan hasil bicara mereka.

Orai memberi beberapa fitur yang didesain mengasah keterampilan berbicara siswa, yaitu Lessons, Practice, Progress, dan Recordings. Masing-masing fitur utama memiliki konten yang menarik dan bisa dipelajari berulang-ulang untuk mengasah kemampuan berbicara ini. Di fitur ‘Lessons’, mereka yang ingin berlatih berbicara bisa belajar dan melatihkan kemampuan berbicaranya pada konten-konten yang diberikan. Masing-masing konten terdiri dari tiga tahapan konten yang harus diselesaikan sebelum bisa mempelajari konten pelajaran selanjutnya.

Konten pertama dalam fitur Lessons adalah Control Your Pace yaitu melatih murid-murid mengontrol kecepatan berbicara mereka. Konten selanjutnya adalah Fight Your Fillers untuk melatih mereka mengurangi kata-kata yang tak perlu, seperti ‘err’, ‘emm’ dan lainnya. Speak with Clarity adalah konten lanjutan yang menekankan pada latihan untuk menyampaikan ide bicara secara jelas, to the point. Konten berikutnya adalah Vary Your Energy yang melatih mereka untuk tahu kapan berbicara dengan energik dan kapan tidak. Konten selanjutnya fokus pada situasi Interview dimana murid-murid dilatih merespon sebaik-baiknya pada situasi wawancara. Terakhir, konten Power of the Pause memberi penekanan pada pentingnya melakukan jeda, namun pada saat yang tepat. Seluruh konten ini bisa dicek kemajuannya di aplikasi Orai tersebut. 

Bagaimana Integrasi Aplikasi Orai pada Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris?

Seperti telah disampaikan sebelumnya, Orai bisa digunakan untuk membantu kemampuan berbicara. Siswa di semua tingkatan membutuhkan pelatih untuk belajar berbicara di depan umum. Masalahnya adalah, dapatkah guru melatih siswa mereka satu per satu hingga mereka menjadi lebih baik? Itu akan tidak mudah. Karena fungsinya, Orai potensial diintegrasikan ke pembelajaran bahasa Inggris. Orai dapat membantu guru dalam melatih, menilai, memantau siswa dalam mengembangkan keterampilan berbicara mereka. Selain itu, Orai dapat digunakan untuk berlatih berbicara dalam berbagai materi. Siswa bisa berlatih mandiri atau berkolaborasi dengan teman-temannya dan belajar dari masukan yang diberikan. 

Guru bisa memberi topik-topik di awal pembelajaran untuk siswa latihkan presentasi. Selama persiapan, siswa diminta berlatih dengan menggunakan Orai dan mencatat semua masukan dari Orai. Diskusi bersama bisa dilakukan untuk memberi ruang siswa merefleksi dan berpikir kritis sambil mengatasi masalah yang ia hadapi. Di akhir persiapan, siswa diminta pendapatnya tentang Orai dan bagaimana peran Orai dalam keterampilan berbicara mereka. Alternatif lain pemanfaatan Orai bisa lintas sekolah bahkan lintas negara. Sehingga masukan bisa semakin kaya dan membantu siswa berjejaring meluaskan lingkup diskusinya. 

Yang penting dari aplikasi Orai adalah fitur Practice dimana yang ingin berlatih bisa secara berulang merekam dirinya ketika berbicara dan kemudian mendapatkan masukan langsung dari Orai. Ketika berlatih, murid-murid bisa memilih mode Give Me a Topic atau Free. Orai akan bisa memberi masukan jika rekaman latihan dilakukan selama minimal 15 detik. 

Apa Keuntungan dan Kerugian Menggunakan Aplikasi Orai pada Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris?

Kekuatan Orai adalah (1) Orai dapat diakses dimana saja dan kapan saja dengan koneksi Internet, (2) Orai sangat mudah digunakan, dan (3) Transkripnya sangat jelas dan sangat membantu. Adapun kelemahan Orai adalah (1) aplikasi ini memiliki kemampuan yang sangat terbatas, hanya dapat mengembangkan keterampilan berbicara dan (2) Orai adalah aplikasi berbayar. Jadi, jika dalam konteks pendidikan, dan siswa atau guru tidak memiliki anggaran, hanya bisa menggunakan uji coba gratis.

Untuk murid-murid Indonesia yang jarang lepas dari telepon pintarnya namun juga masih sangat perlu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, khususnya berbicara, aplikasi Orai tentunya menarik untuk dicoba. Aplikasi ini bisa diunduh di iOS dan Play Store dan dijalankan melalui telepon pintar masing-masing. Meski demikian, kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi saja. Kita harus mampu memanfaatkan teknologi seefektif mungkin. Jangan abaikan latihan bersama teman-teman karena interaksi dan masukan langsung dari manusia – bukan mesin – bisa sangat membantu. Untuk belajar Orai, bisa menontonnya di https://youtu.be/v2zRcV2kt2g. Selamat mencoba!

Penulis: Made Hery Santosa, Ph.D. adalah Staf Pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Ganesha.

Tautan Kolom Surat Kabar: https://www.nusabali.com/berita/46735/aplikasi-ini-bisa-bikin-kamu-lancar-berbahasa-inggris-di-depan-umum


Pendasbudi Bali Edukasi: Membangun Insan Cerdas Berkarakter Sejak Dini

15 Dec 2018

www.nusabali.com-pendasbudi-bali-edukasi-membangun-insan-cerdas-berkarakter-sejak-dini

NusaBali.com – Kegiatan Pendasbudi Bali Edukasi – Dok. Bali Edukasi

Menariknya, terdapat dua mahasiswa relawan pertukaran pelajar dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan satu tenaga relawan dari universitas swasta di Jakarta yang penuh semangat berbagi dan membantu.

BULELENG, NusaBali.com

Berangkat dari tujuan memberikan pendidikan kepada anak-anak dan menyelipkan pendidikan karakter, Bali Edukasi – sebuah komunitas edukasi – secara konsisten berbagi dan membantu adik-adik dan guru-guru di pelosok Bali. Karakter merupakan hal terpenting dari diri seseorang dalam berilmu. Kalimat seperti, “Menjadi pintar bisa jadi mudah, tapi menjadi pintar yang berkarakter perlu waktu,” menunjukkan betapa pentingnya karakter dalam diri seseorang, yang mana pintar saja belum cukup untuk bisa menjadi pribadi-pribadi yang madani (berbudi luhur), yang bisa berperan di lingkup global dan lokal, yang memiliki perspektif global tanpa melupakan kearifan lokal. 

Program Pendidikan untuk Generasi Cerdas Berbudi (Pendasbudi) merupakan salah satu kegiatan dari Bali Edukasi di tahun 2018. Fokus dari kegiatan Pendasbudi adalah membangun karakter siswa sejak dini karena pintar saja tidak cukup dan harus diimbangi dengan karakter yang berbudi luhur. Menanamkan pendidikan karakter bukanlah sesuatu hal yang mudah dan bisa instan. Hal ini perlu konsistensi, dedikasi, serta waktu yang cukup agar kelak program Pendasbudi dapat tertanam dan terlaksana dengan baik. Untuk itu, sekolah pertama yang menjadi sasaran kegiatan Pendasbudi 2018 adalah SDN 2 Bengkala yang terletak di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Sekolah ini terletak di sebuah komunitas tulibisu (kolok) terbesar di dunia. Sekolah ini unik karena merupakan sekolah inklusi (gabungan dengan anak berkebutuhan khusus, yaitu tulibisu). 

Kegiatan ini dilaksanakan selama enam bulan (satu semester) dengan satu kali pertemuan setiap bulannya, dengan tujuan adanya penerapan pengembangan generasi yang cerdas dan berbudi secara bertahap dan berproses. Konsep yang mendasari Pendasbudi 1 – 6 ini berakar dari 5 karakter pada Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Penanaman karakter disampaikan melalui aktivitas-aktivitas belajar pada Pendasbudi dengan konsep bermain dan belajar. Sehingga, tanpa sadar anak-anak dibuat terbiasa untuk bekerja dalam tim, menumbuhkan sikap nasionalisme, gotong-royong, integritas, religius, dan mandiri sejak dini.

Foto: Salah Satu Kegiatan Pendasbudi di SDN 2 Bengkala – Dok. Bali Edukasi

Adapun aktivitas-aktivitas yang telah diberikan oleh tim Bali Edukasi merupakan kombinasi kegiatan dalam ruangan dan luar ruangan. Di kegiatan dalam ruangan, tim Bali Edukasi mengkhususkan pada aktivitas-aktivitas belajar untuk membangun perilaku mandiri, suka bergotong-royong, dan kreatif. Siswa-siswi SDN 2 Bengkala diajak untuk mendongeng, yang mana isi cerita bervariasi mulai dari cerita lokal, seperti Bawang lan Kesuna, Indonesia, seperti Malin Kundang, sampai cerita dengan konteks global, seperti Cinderella. Mereka bersama kakak-kakak Bali Edukasi juga beraktivitas menciptakan benda-benda bernilai seni dengan barang bekas, seperti tempat pensil dan pohon literasi. Kegiatan ini diajarkan dengan tujuan, siswa-siswi dapat berpikir secara mandiri, bekerja bersama, berkreasi, dan mampu memecahkan masalah melalui pesan dalam cerita dongeng anak maupun dalam kegiatan kreatif membuat kerajinan. 

Untuk kegiatan luar ruangan, siswa-siswi diajak untuk terlibat aktif dalam permainan tradisional Bali seperti, Megoak-Goakan dan Meng Ngejuk Bikul. Permainan ini melatih kesigapan, kesetiakawanan, dan integritas untuk sikap sportif untuk para siswa dan tentunya diharapkan dapat menumbuhkan rasa kerja sama dan etos kerja keras dalam diri siswa-siswi. Di samping itu, para guru SDN 2 Bengkala diupayakan terlibat dalam aktivitas Pendasbudi, sehingga akan lebih mengenal siswa-siswinya lebih dekat. Diharapkan, agar para guru dapat mengajak siswa-siswinya belajar dengan aktivitas-aktivitas yang lebih berfokus pada siswa, dengan cara-cara menyenangkan dan dilakukan secara berkesinambungan. Sehingga, tujuan menumbuhkan sumber daya manusia yang unggul bisa tercapai.

Kegiatan ini dirancang oleh tim Bali Edukasi secara bersama-sama agar selain membantu adik-adik di pelosok, kakak-kakak mentornya juga menumbuhkan dirinya menjadi pribadi-pribadi yang cerdas dan berkarakter. Jadi, sebagai wadah, Bali Edukasi bisa membantu banyak pihak terkait mencapai tujuannya tersebut. Pendasbudi ini dilaksanakan oleh 10 tim Bali Edukasi dan 10 tenaga sukarelawan. Menariknya, terdapat dua mahasiswa relawan pertukaran pelajar dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan satu tenaga relawan dari universitas swasta di Jakarta yang penuh semangat berbagi dan membantu. Dengan kolaborasi nyata ini, seluruh tim Pendasbudi Bali Edukasi mencoba berbagi pada siswa-siswi dan guru-guru di SDN 2 Bengkala perihal pembelajaran karakter yang penuh dengan keceriaan.

Dalam jangka panjang Pendasbudi diharapkan dapat berkelanjutan di sekolah-sekolah lainnya di banyak tempat di lingkup yang lebih luas. Bali Edukasi berupaya untuk selalu berinovasi untuk kegiatan berkarakter seperti Pendasbudi ini agar selalu bermanfaat bagi lebih banyak pihak. Untuk lebih meningkatkan dan mendorong kegiatan-kegiatan serupa lebih baik lagi, Bali Edukasi tidak saja akan terjun kembali membantu adik-adik pelajar namun juga tim Bali Edukasi akan merancang dan mengembangkan beragam media ajar seperti, buku bacaan anak, Virtual Reality (VR) berbasis media pelajaran untuk anak-anak, animasi, dan bacaan anak berbasis elektronik. Hal nyata dan komitmen tim Bali Edukasi inilah yang senantiasa siap membantu menyalakan peradaban negeri. 

Bali Edukasi selalu terbuka menerima siapapun yang ingin belajar dan berbagi. Informasi mengenai Bali Edukasi bisa diperoleh dari lamannya di http://www.baliedukasi.org dan media sosial, yaitu Facebook (Bali Edukasi), Facebook Page (Bali Edukasi), Twitter (@BaliEdukasi), YouTube (BaliEdukasi), dan Instagram (@baliedukasi). Semoga semakin banyak tumbuh perpanjangan tangan-tangan kebaikan negeri yang mampu berkiprah di level global dan lokal, yang tidak hanya pintar namun juga selalu memegang teguh integritas, arif, dan menunduk ke bumi. *

Bali Edukasi, Bersama Menyalakan Peradaban.

Penulis: Made Agus Mandala Putra | Ni Made Wahyu Suganti Cahyani | Made Hery Santosa

Tulisan Kolom Surat Kabar: https://www.nusabali.com/berita/43531/pendasbudi-bali-edukasi-membangun-insan-cerdas-berkarakter-sejak-dini


Terima kasih sudah berkenan membaca :)