


Beberapa hari lalu, sahabat saya dari Vietnam DM. Nama belakangnya Nguyen. Yang tau, pasti tau, Nguyen ini banyak sekali hehe. Sedikit cerita flashback, kami bertemu dalam program micro scholarship dari Regional English Language Office (RELO) dari Kedutaan Amerika Serikat dari negara kami masing-masing tahun 2017. Biasanya, hanya 1 atau 2 orang perwakilan tiap negara yang dikirim. Saat itu, hanya saya sendirian mewakili Indonesia sehingga bertemu teman-teman akan sangat penting. Kegiatan ini banyak memberi manfaat, bertemu banyak pihak level global ga kaleng-kaleng, termasuk Google, Cengage, dan pakar-pakar di bidang saya.
Ga pernah kebayang juga bisa bertemu dengan orang-orang dari misalnya Perbatasan Gaza, Nikaragua, dan lainnya. Mungkin, jika tidak menerima beasiswa ini, saya ga akan punya pengalaman berjejaring seperti ini. Lebih ke belakang lagi, ini menuntaskan janji saya sebelumnya yang mengunjungi negeri Paman Sam setelah saya mengambil keputusan mengembalikan beasiswa Fulbright – beasiswa prestisius dunia yang perjalanannya lumayan berdarah-darah, menyisakan satu orang saja dari Bali, dan penuh cerita bolak balik Jakarta – karena saya mengambil tawaran lain di Australia.
Kembali ke sini, ia menanyakan apakah sitasi tersebut benar publikasi saya. Setelah beberapa saat karena ada agenda, saya buka pesannya dan langsung bilang bahwa itu bukan karya saya. Dan menanyakan darimana dapat ini dan menyarankan double check karena ini halusinasi AI. Ia mengiyakan dan kemudian percakapan kami berlanjut.
Dari sini, saya melihat ternyata sangat penting melakukan yang namanya cross check, berpikir lebih kritis dan bertanya dalam beberapa ‘layer’. Sesuai prinsip asesmen, yang beberapa kali saya tuliskan di kolom surat kabar atau yang baru terbit dari laporan Pearson terbaru. Meski kita tau kapasitas seseorang, kita tidak wajib serta merta percaya (atau Trust). Hal ini memerlukan upaya-upaya menggali lebih dalam tentang kebenaran, mengamati, mengalami, dan seterusnya sesuatu yang lebih komprehensif agar kita bisa lebih paham dan tepat mengambil langkah dan kesimpulan.
Di jaman AI ini, mesin-mesin pintar ini tidak lagi mengumpulkan data dan informasi seperti era Google, namun mereka bisa menciptakan informasi baru dari data dan algoritma yang ada. Ada bias, ada ketidakakuratan, ada informasi bercampur, dan seterusnya. Perlu kritis, bertanya beberapa tahapan, dan ‘melonggarkan’ rasa trust. Jika tidak, bisa fatal.
Trust itu seperti gelas kaca, jika sudah pecah, ia tidak akan sama seperti semula lagi.
(c) mhsantosa (2026)