

Sebagai pendidik, tugas saya salah satunya adalah membimbing, utamanya penelitian di beragam jenjang. Jika di S1 mahasiswa akan membuat skripsi, di S2 membuat Tesis, dan di S3 membuat disertasi. Sebenarnya di luar negeri, seperti Australia, ketiga karya itu disebut satu saja, yaitu Tesis, yang artinya ‘jawaban’ (dari pertanyaan-pertanyaan penelitian kita). Di Inggris bahkan level master nya menulis disertasi. Jadi ini hanyalah istilah, semuanya adalah kegiatan mirip, yaitu mengasah pola pikir kritis dan kreatif, dengan terus melatih kemampuan analitis dan deskripsi.
Seiring perjalanan pendek saya menjadi pendidik, sudah ratusan mahasiswa yang saya bimbing di beragam jenjang. Tiap semesternya selalu ada cerita. Kali ini saya ingin cerita dua orang, yaitu Sifa dan Rafli.
Sifa saya kenal pertama kali ketika mengajar di semester 4. Saat itu ia adalah Korti atau Koordinator Tingkat. Karena Korti, ia sering berkomunikasi dengan saya untuk hal-hal mata kuliah dan pembelajaran. Sampai singkat cerita ia menghubungi saya untuk saya bimbing skripsi. Saya sampaikan, iya dan sejak itu saya bimbing dengan beberapa kawan lainnya. Ia termasuk anak yang rajin dan pintar. Jadi tidak terlalu sulit untuk membimbingnya. Meski ada hal-hal yang perlu dipandu, ia dengan mudah mengikuti dan menterjadikannya. Ini yang penting. Mengikuti dan bahkan bisa mandiri. Tanpa lama, ia berhasil menyelesaikan risetnya dengan cepat dan lulus ujian. Ia juga mampu publikasi artikel dengan baik.
Satu mahasiswa lain adalah Rafli. Ia saya kenal juga ketika semester 4. Ia termasuk anak yang baik dan pintar. Aktif di kelas juga. Bersama 3 kawan lainnya, suatu saat, jauh sebelum saatnya skripsi, mereka sudah meminta saya membantu menjadi pembimbing mereka. Saya coba bantu mengarahkan topik terkini, seperti ChatGPT dan Artificial Intelligence dan menulis tentang ini. Rafli cukup serius bekerja dengan baik. Pelan namun pasti, ia berhasil menyelesaikan risetnya. Ia menunjukkan paham akan apa yang dilakukan dan berhasil juga mempublikasikan artikel dari risetnya ini.
Selain ini, hal penting lainnya adalah karakter dan sikap. Hal ini sering menjadi bahasan kami bahwa banyak generasi sekarang yang menarik sikapnya. Berbeda dengan anak-anak jaman dulu, kata beberapa kawan. Sifa dan Rafli, di lain pihak, mampu menunjukkan sikap baik ini. Saya selalu tekankan bahwa menulis skripsi itu adalah berproses, jadi biasakan ada proses, situasi belum sempurna, dan terus tumbuh dengan jalan-jalan berintegritas dan baik.
Saya bersyukur kemudian di Yudisium pertama dan kedua yang Fakultas Bahasa dan Seni lakukan – seiring mandat untuk Fakultas melaksanakan Yudisiumnya sendiri – Sifa dan Rafli adalah wisudawan terbaik saat itu. Yudisium Sifa terjadi tanggal 28 Agustus 2025 dan Rafli pada 4 Desember 2025 lalu. Saya tentunya bangga sekaligus terharu. Meski ‘kesuksesan’ tersebut bukan semata-mata dari interaksi kecil saat pembimbingan skripsi saja, pasti ada hal-hal lainnya selama perjalanan kuliah mereka. Saya berharap nilai-nilai yang kami pernah jalani bersama, terus diamalkan, dan ditularkan kepada yang memerlukan nanti, sehingga akan lebih banyak pribadi-pribadi yang bisa tumbuh berintegritas dan baik. Tak lupa, saya selalu berdoa untuk kesuksesan mereka dan semua anak-anak saya. Selalu.
(c)mhsantosa (2025)