Kok Bisa Sih? Mahasiswa Indonesia dan Jepang Belajar Bahasa Inggris dan Budaya di Ruang Virtual

Ketika tawaran untuk menterjadikan kerja sama antar dua negara diajukan, saya langsung teringat masa-masa ketika mengajar banyak mahasiswa saya dari Jepang dulu di Melbourne. Mereka ada Aoi, Suzuka, dan banyak lainnya. Sudah lupa nama-namanya hehe, maklum sudah beberapa tahun lalu. Mereka adalah mahasiswa di Universitas yang harus belajar bahasa Inggris sebelum bisa bergabung ke kelas-kelas mereka, sesuai pilihan. Mereka belajar bersama teman-teman lainnya. Dalam 1 kelas, ada maksimal 18 orang saja, dari berbagai negara. Saya ingat, ada banyak mahasiswa saya dari Korea, Vietnam, Cina, India, Arab Saudi, Irak, Iran, Oman, Qatar, Peru, Cile, Indonesia, dan lainnya. Ada Jack (yang notabene orang Cina), Pearl (yang orang Vietnam), Dhuy, Jorge, Jenny, Mohhammed, Heeram, dan banyak lagi. Banyak kenangan baik dan keren bersama mereka ini.

Jauh sebelum ini, saya sempat belajar bahasa Jepang ketika masa SMA dan cukup lancar mengucapkan, berdialog, atau menulis Hiragana, Katakana, dan sedikit Kanji. Menantang sekali memang. Saya ingat pola huruf-huruf Jepang dengan hafalan model ‘jembatan keledai’, yaitu A, Ka, Sa, Ta, Na, Ha, Ma, Ya, Ra, Wan. Saya Cuma ingat beberapa kata dan kalimat saja, seperti ‘Tabemasu ka’ untuk menanyakan sudah makan atau belum, atau Watashi, Anata, Watashitachi, No, Ie, Hai, dan tentu saja Ai Suru/Ai Shimasu hehe…. Rasanya menyenangkan sekali. Meski memang ada momen-momen tatanan bahasa menjadi ‘kacau’ karena di saat bersamaan, juga belajar bahasa asing lainnya, seperti Inggris dan Arab Melayu. Ya, normal, seperti teori bahasa pada umumnya. Sebenarnya tidak masalah, input berbahasa memang sebaiknya sebanyak-banyaknya, dan nantinya kemampuan internal kognitif kita yang ‘menata’ semuanya. Istilahnya, ‘innate capacity’.

Kembali ke kerjasama dua negara ini. Dari apa yang disampaikan teman, ada satu kebutuhan bersama muncul, yaitu belajar bahasa Inggris. Karena akarnya sudah ketemu, maka sekarang tinggal merancang aktivitasnya. Bersama tim, kami merancang model siklus belajar berbasis proyek. Sesuatu yang sederhana saja, dilaksanakan dalam waktu 4 hari. Terdapat 100 peserta, masing-masing 50 orang dari Lembaga yang terlibat. Pemanfaatan teknologi beragam ada di dalamnya, pemberdayaan para mentor juga bisa terjadi untuk belajar menjadi fasilitator, bertukar budaya unik sambil belajar dengan medium bahasa Inggris dilakukan. Secara singkat, kegiatan ini bisa ditonton di video di bawah ini.

Sebelum, selama, dan sesudah kegiatan, puluhan kali komunikasi dan koordinasi dilakukan ke kedua belah pihak, dan semuanya dengan dukungan penuh dan positif pimpinan dan Lembaga masing-masing. Dokumen kerjasama pun juga ada sehingga bisa digunakan untuk membantu Lembaga. Kegiatan ini awalan, dengan ini, beberapa program lanjutan sudah, sedang, dan akan terjadi, meliputi pengiriman pelajar Indonesia ke Jepang dan Magang ke Jepang. Belajar bahasa Inggris bisa menyenangkan dengan balutan budaya unik, bahasa masing-masing, dan bantuan teknologi yang dirangkai dengan kerangka pedagogis runut dan bermakna.

Semoga inisiasi ini bisa berlanjut dan berkembang baik.

©mhsantosa (2022)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s