Webinar Gratis: Belajar Online Itu Bukan Hanya Teknologi Saja

Saya dihubungi oleh Puspa, dulu mahasiswa saya, sekarang rekan pendidik, bahwa tempatnya bekerja paruh waktu bernama ASK Consulting mengadakan Webinar series. Tema kali ini adalah Distance Learning dan saya ditawari untuk berbagi bersama dua rekan lagi, Steven Sutantro dan Bli Andi Arsana. Kebetulan, keduanya saya kenal, baik sekali.

Sedikit cerita, saya bertemu Puspa ketika ia baru mulai kuliah semester 1. Sempat berinteraksi selama 1 semester, saya ijin melanjutkan studi saya di negeri Kangguru. Ketika saya kembali, ia sudah tamat dan bergerak dalam wadah komunitas pendidikan. Saya hubungi dan singkat cerita, kami berniat bergerak membantu anak-anak muda Bali khususnya untuk mencari beasiswa luar negeri dalam wadah Pejuang Beasiswa Bali. Ada beberapa yang membantu disini, ada Agus Adi, Donnie, Isma, Ari, Ari Setya, Gung Indira, Herpin, Irma, Dek Maja, Pegok, Hendranata, Eka, Heka, dan banyak lagi yang mungkin belum bisa saya sebutkan satu persatu. Cukup lama kami ada disana, dengan beragam aktivitas, dan banyak yang sudah studi, bahkan sudah kembali, menikah, sampai sudah punya anak. Tak terasa hehe…  Sampai kemudian karena kesibukan dan pilihan, saya memutuskan tidak bisa lagi terlibat langsung dan memilih membantu anak-anak muda pejuang beasiswa sejati secara langsung saja dalam upaya memperoleh beasiswa. Tiap tahun, selalu ada berita tentang kesuksesan ataupun kegagalan. Sebuah cerita normal dalam perjalanan pejuang beasiswa. Pembedanya sekali lagi, hanya pada seberapa sejati mereka ini.

Saya bertemu Steven awalnya melalui blog, sekitar 5 atau 6 tahun lalu. Lupa. Kami masih terpisah dua benua saat itu dan kami dipertemukan lewat tulisan-tulisan di blog karena sama-sama suka menulis. Kami lanjut berjejaring dan baru pertama kali bisa bertemu langsung di dekat sebuah stasiun Transjakarta sekitar 4 tahun lalu. Itupun sebentar sekali. Pertemuan sebentar lainnya adalah di sebuah acara bernama GESS di JCC, Jakarta. Ia dengan Google Education Indonesia, saya dan rekan lainnya dengan British Council. Sisanya, kami berinteraksi via sosial media.

Sahabat lainnya yang kembali bertemu adalah the one and only Bli Made Andi Arsana. Persahabatan kami cukup lama, satu dekade. Ternyata or ternyata.. Sebelumnya, saya hanya mendengar nama beliau saja, namun kemudian dipertemukan di sebuah kongres Persatuan Pemuda Australia Indonesia tahun 2010 di Victoria University, Melbourne. Sejak itu, saya banyak belajar dari beliau. Saling belajar melalui tulisan blog atau surat kabar dan sosial media. Ketika berkunjung ke Jogja, jika kami sama-sama ada waktu, kami coba sempatkan bertemu. Sebenarnya beliau yang lebih tepatnya, mengupayakan pertemuan. Kadang sangat sebentar, kadang malam-malam, karena kesibukan kami masing-masing. Hanya untuk bertukar cerita, tentang masa depan. Satu waktu, beliau pernah saya undang juga untuk berbagi di kegiatan komunitas Pendidikan, Bali Edukasi English Camp, untuk berbagi tentang beasiswa luar negeri. Lagi-lagi, di waktu yang mepet, beliau mau, gratis. Sikap yang patut ditiru. Role model sekali!

Kembali ke Webinar, saya pikir ini memang sangat diperlukan sekali dalam situasi penuh tantangan ini. Covid19 sudah banyak membuat kita harus melakukan pekerjaan kita semua dengan cara-cara non rutin. Sahabat para petugas kesehatan bertempur di garda terdepan. Para pedagang berusaha agar tetap menghasilkan. Para orang tua harus bekerja dari rumah sambil belajar bersama anak-anak mereka. Para guru dan rekan pendidik, secara tiba-tiba, dihadapkan pada tugas-tugas level Hercules (herculean tasks) agar pembelajaran terus bisa terjadi di segala keterbatasan dan tantangan. Semua pihak berjuang di areanya masing-masing sambil berusaha sehat dan berdoa situasi ini segera berlalu dan semuanya normal kembali. Karenanya, setelah mengenal lebih jauh semua pihak, saya putuskan untuk menerima tawaran ini di sela-sela mengajar, memonitor semua aktivitas di e-learning, membimbing skripsi dan tesis, dan lain-lainnya.

Saya memberi topik webinar kali ini dengan “Low Cost Technology: Revisiting Meaningful Learning in Distance Education.” Rasionalnya sederhana, beberapa kawan guru, dosen, mahasiswa, orang tua menyampaikan mereka tiba-tiba harus belajar online, bahkan dengan teknologi yang belum mereka terbiasa menggunakan, bisa lebih dari 5 platform e-learning online atau virtual/live/tele-conference, dan pekerjaan kok jadi tambah banyak kata mereka. Lebih banyak ‘e-tugasing’, begitu jerit murid dan mahasiswa. Tidak ada feedback, begitu kata lainnya. Kalau orang tua lain lagi ceritanya, sambil masak, saya harus temanin anak saya belajar. Kadang tempe saya jadi gosong hehe… Rekan guru dan dosen juga sama, harus menyiapkan banyak materi tambahan untuk live atau pre activity, memonitor lebih banyak individu, ada yang rajin ada yang alasannya kuota atau sinyal karena di desa. Intinya, semua pihak sedang dalam masa ‘sulit dan penuh tantangan.’

Topik yang saya tawarkan sederhana saja. Saya mencoba focus pada upaya berbagi dan membantu semua pihak agar kembali pada prioritas (1) belajar itu harus bermakna, (2) dengan alat/teknologi apapun yang relevan dan tepat guna, jika mungkin rendah/bebas biaya, dan (3) tak lupa menyisipkan keterampilan-keterampilan inti yang diperlukan di dunia, seperti kolaborasi, kreativitas, komunikasi, dan berpikir kritis. Caranya bagaimana? Secara sederhana, hal ini memerlukan persiapan matang, beragam aktivitas yang luwes, bermakna, dan memberikan ruang-ruang kreasi dan pikir bagi maha/siswa, guru, dan orang tua, ada tujuan pembelajaran yang menjadi panduan belajar dan mengukur efektivitas belajar, ada alur kegiatan yang runut dan/ atau berjenjang (scaffolded), ada media dan materi relevan dan menarik untuk dibahas yang terus saling menjembatani satu sama lain, ada proses, ada penilaian jelas dan transparan, ada produk untuk mengetahui pemahaman yang bisa dibuat berbeda-beda dalam upaya mengakomodasi keberagaman individu di kelas masing-masing.

Di webinar saya, saya memulai dengan:

  1. Meminta peserta (yang ceritanya adalah maha/siswa saya) menonton video di bit.ly/askweb1 dan bit.ly/askweb2 sebelum kegiatan webinar. Topiknya adalah “Will Robots Replace Us?” Tujuan menonton sebelumnya ini agar memahami dan mengarahkan ke konteks belajar bermakna nanti. Videonya bisa buatan sendiri atau yang bukan sepanjang relevan. Jika hanya perlu satu video, video kedua disarankan dibagikan tautannya. Dalam konsep belajar, model ini bersifat ‘terbalik’ atau flipped (silakan baca konsep Flipped Classroom dan Flipped Learning untuk lebih lanjut).
  2. Pada saat webinar, saya memulai dengan menyampaikan bahwa ini adalah kegiatan berbagi dan siapa saja bisa menyampaikan ide atau pendapatnya nanti. Di setiap sesi saya sebelumnya, saya selalu sampaikan ini karena saya yakin pasti akan ada orang yang tahu sesuatu yang kita tidak tahu. Kedua, saya tekankan bahwa perlu terbuka menerima hal-hal baru nantinya. Analoginya seperti parasut yang hanya mau bekerja jika ia terbuka.
  3. Saya memulai dengan dua pertanyaan sederhana, ‘Apa yang berhasil’? dan ‘Apa yang tidak berhasil’? dalam kegiatan belajar online peserta sebelumnya. Beberapa peserta dengan antusias menyampaikan pengalaman dan pendapatnya. Secara teknis, saya meminta peserta sharing dan yang lain mendengarkan. Mute dan unmute. Spotlight dan cancel spotlight. Ini versi Zoom.
  4. Setelah itu, saya mengajak peserta mengingat kembali video di bit.ly/askweb2. Kemudian saya menyampaikan akan membagi ke dalam kelompok-kelompok. Idealnya, peserta menonton kembali dulu (via WhatsApp masing-masing atau LMS misalnya) sebelum masuk ke kelompoknya. Namun karena ini hanya modelling, sisanya saya persilakan teman-teman berkreasi. Ketika masuk ke dalam kelompok, mereka berdiskusi sesuai dengan peran atau posisi yang diambil dalam kelompoknya. Saya memberi dua laternatif pembagian kelompok. Alternatif 1 bentuknya posisi ‘Setuju’ atau Tidak ‘Setuju’ dan alternatif 2 adalah 4 kelompok peran (misalnya business people, citizen, inventors, dst.). Sekali lagi, karena ini modelling, semuanya disesuaikan dengan sikon masing-masing. They’ve got the idea.
  5. Dengan breakout rooms, saya bagi otomatis semuanya ke dalam kelompok-kelompok. Dari semua conference program/app yang saya tahu sejauh ini (Skype, WebEx, BigBlueButton, Jitsi, UMeetMe, Meet, Team Viewer, FreeConferenceCall, Team Link, OBS, YouTube Stream, Zoom, Microsoft Team), hanya Zoom yang memiliki ini. Mungkin akan ada.
  6. Saya masuk ke semua kelompok in dan out tanpa mereka bisa tahu kapan. Plusnya jelas, karena tidak tahu kapan tiba-tiba guru masuk monitor diskusi, maha/siswa diharapkan benar-benar belajar serius. Instruksi harus jelas, waktu juga harus cukup, dengan tagihan jelas konkrit.
  7. Karena hanya modelling, saya lakukan ini selama 10 menit. Di dalam kelompok, saya mendengar diskusi ata menjawab pertanyaan, atau sharing diskusi saja. Kendala biasanya muncul pada koneksi, beberapa peserta ada yang belum join, atau karena terlambat bisa kita assign belakangan. Kontrol penuh ada di guru (sebagai host). Karakter bisa masuk juga disini, missal tepat waktu. Keterampilan abad 21 bisa terlihat di belajar kerja sama dalam kelompok, belajar berkomunikasi, menyampaikan pendapat, dan mendengarkan orang lain sambil berpikir (bisa kreatif atau kritis, tergantung level tugas yang diberikan).
  8. Saya kemudian mengembalikan semua kelompok ke dalam ruangan teleconference utama. Disini, kita bisa meminta beberapa sharing hasil diskusi mereka. Jika waktu panjang atau project-nya panjang, bisa dilakukan beragam aktivitas secara bertahap jelas dengan tujuan membantu maha/siswa benar-benar paham pada konsep yang diajarkan.
  9. Aktivitas selanjutnya adalah semua dalam kelompok masing-masing mencari informasi tambahan mengenai topik. Ini bisa saat itu atau di waktu yang lebih panjang. Informasi yang dicari bersifat ada panduannya namun tetap memberi ruang untuk pertanyaan-pertanyaan lain untuk dicari, sepanjang relevan. Pemanfaatan sumber-sumber seperti Google, Buku Digital, wawancara dengan orang tua untuk melibatkan, dan lain-lain relevan sangat dianjurkan.
  10. Masih dalam kelompok yang sama, saya jelaskan aktivitas selanjutnya adalah sharing diskusi kelompok. Ini bisa dilakukan langsung saat itu atau di waktu lain. Bisa dengan Padlet, Google Doc, WhatsApp, LMS Group, dan lain-lain yang relevan dan sebisa mungkin mudah, murah, dan efektif bagi semua pihak.
  11. Setelah semua diskusi, kelompok kembali pada pekerjaan mereka masing-masing dan melihat masukan, komentar, pertanyaan, atau umpan balik kelompok lain. Dan meresponnya, bisa dengan merevisi atau diskusi lanjutan. Semua disesuaikan kondisi.
  12. Nomor 9, 10, dan 11 bisa ditukar posisinya, atau diulang sampai dirasa cukup, tergantung waktu, situasi, dan kondisi.
  13. Semua kelompok kemudian bisa membuat mind map, atau rangkuman, atau catatan mengenai hasil pencarian sumber-sumber, hasil diskusi, dan hasil revisi diskusi.
  14. Semua kemudian diminta mengerucutkan pada pembuatan 3 kemungkinan robot mengganti manusia dan 3 kemungkinan robot tidak bisa menggantikan manusia. Proses ini bisa tidak mudah karena ada proses berpikir analitis di dalamnya. Ini penting untuk menyiapkan mereka terampil abad 21.
  15. Kemudian kelompok diminta menuliskan kemungkinan-kemungkinan yang sudah diputuskan bersama. Proses berdiskusi dalam kelompok ini penting sekali. Ada upaya mengasah kolaborasi di dalamnya, kreativitas, berpikir kritis juga. Medianya bisa sesederhana WhatsApp dan difoto, atau Padlet, atau Google Doc, atau LMS. Sekali lagi, yang paling mudah, murah, dan efektif di konteks masing-masing.
  16. Ini bisa stop disini, hasil akhir belajarnya adalah mind map atau rangkuman. Jika ini dilanjutkan, aktivitas lainnya adalah membuat proyek. Tujuannya untuk mengetahui pemahaman terhadap proses belajar. Proyek-proyek yang saya sampaikan disini berkonsep pembelajaran diferensiasi (Differentiated Learning) untuk mengakomodasi keberagaman individu tadi. Jadi, bisa saja proyeknya berbentuk aktivitas mewarnai robot, menempel, atau teka-teki (untuk PAUD), atau membuat poster, cerita (digital), atau komik (digital) untuk level SD, SMP, SMA, atau membuat infografis atau news report, atau vlog untuk level SMA/SMK, mahasiswa, dan seterusnya. Semua disesuaikan level, konteks, dan sikon masing-masing.
  17. Jangan lupa, saya menyampaikan, dalam asesmen model seperti ini, alat/aplikasi yang bisa digunakan agar disampaikan juga, jika perlu didemokan. Demikian juga, lembar penilaian, cara penilaian, dan komponen-komponennya secra jelas disampaikan sejak awal sehingga maha/siswa dan orang tua paham aspek-aspek yang dinilai. Di konteks belajar yang katanya lebih mementingkan nilai dari kejujuran, berproses dalam belajar akan memberi kesempatan si yang belajar untuk menginternalisasi semua hal dan konsep terlebih dahulu sebelum menuju proses penilaian. Jadi bukan tidak berproses, dan langsung lompat ke nilai. Ingat, nilai 100 belum tentu berarti mengerti benar hehe…
  18. Semua aktivitas bisa direkam/monitor sebagai bagian proses belajar dan/ atau penilaian. Kita tahu ada yang sifatnya formatif (pendek) dan sumatif (jangka panjang).
  19. Ada beberapa konsep dan dimensi pembelajaran yang diintegrasikan disini, misalnya saja Flipped Learning/Classroom, Differentiated Instruction, Behaviorism, Cognitivism, Constructivism, Connectivism, TPACK, disruption, 21st-century skills, dan whole-person education.
  20. Webinar ini memberi penekanan pada aspek bukan pada teknologi tapi proses belajarnya yang mengintegrasikan semua konsep dan dimensi pembelajaran yang penting.

Lebih lengkapnya, bisa ditonton di video ini di https://youtu.be/gVfXbi0fKXw.

Webinar ini sangat positif dan saya sangat apresiasi. Temanya sangat relevan dan diperlukan. Topiknya urgen dan merangkum banyak hal dalam konteks belajar sesungguhnya. Dari feedback yang masuk ke saya, banyak hal positif disampaikan, seperti kesadaran akan pentingnya pedagogi, bukan teknologi semata, pentingnya integrasi banyak dimensi belajar, dan secara teknis, belajar menghandle teleconference (yang bisa jadi tidak mudah dan berpotensi kacau jika tidak terampil hal teknis), pembagian kelompok kecil, strategi mengajar dan belajar, aplikasi-aplikasi keren dan unik, dan aktivitas diskusi yang berbagi mencerahkan yang kiranya bisa diterapkan di konteks masing-masing nanti.

Banyak hal-hal yang mesti diperbaiki juga yang saya rasakan sama dan setujui dari masukan peserta. Waktu yang terbatas, instruksi, koneksi, dan ceramah yang masih dirasakan agak banyak menjadi refleksi penting bagi saya pribadi untuk bisa tumbuh lebih baik lagi nantinya. Besar kemudian harapan peserta ada kegiatan lanjutan pada teknis dan aplikasi tertentu, praktek lebih banyak, asesmen, dan mencoba berlatih dan presentasikan hasil.

Saya pikir ini hal baik dan ide lanjutan yang baik. Banyak sekali juga yang menghubungi saya sebelum dan sesudah kegiatan tentang keinginan bisa join (karena kuota sebelumnya full langsung dalam beberapa jam saja!) atau permintaan melakukan webinar lagi. Ini sudah saya pikirkan juga. Ada beberapa pertanyaan dan ide-ide baru muncul yang masih saya pikirkan cara melakukannya. Jujur saja, kita semua terbatas oleh ruang, waktu, dan pekerjaan hehe. Sabar ya.. *wink

Webinar ini gratis. Ada banyak hal didalamnya. Beberapa rekan peserta sudah mulai coba-coba dan tag saya di sosial media. Itu saja sudah bikin bahagia. Saya tentu akan melanjutkan dari sisi risetnya dan produknya. Ini selalu bisa dilakukan. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih atas dukungan ASK Consulting, kepada Oliver, Bu Haifa, Pak Dewa, dan tentu saja, Puspa. Salam semangat dan sehat semuanya!

Sekali lagi, belajar bermakna itu bukan hanya teknologi saja, bukan kasi tugas saja, bukan bingung dan tersesat, bukan rebahan saja. Bukan hanya mengejar nilai dan ranking saya namun sulit berperan di arena global yang lebih besar karena lebih mengasah keterampilah menghafal daripada menganalisis, evaluasi, dan mencipta. Tapi teknologi tepat untuk belajar bermakna saya yakini bisa membangunkan grup rebahan dari tidur panjangnya! 🙂

@mhsantosa (2020)

2 thoughts on “Webinar Gratis: Belajar Online Itu Bukan Hanya Teknologi Saja

    1. Made Hery Santosa says:

      Thanks Pasek. Yes, please. Tell me your stories later. I’d be happy to work on something with you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s