Tangan Kecil untuk Kak Heka Menuju Swedia

Bersama Kak Heka di Bayon, Kamboja

Penulis: Made Hery Santosa

Saya bertemu Kak Heka, demikian saya memanggilnya, kalau tidak salah di salah satu kegiatan Bali Edukasi di medio 2015. Rasanya di kegiatan edukasi membantu adik-adik di Pitera, Tabanan. Saya tidak mengenal Kak Heka sebelumnya, namun seperti cerita-cerita sebelumnya, saya percaya kita akan dipertemukan selalu dengan yang senada. Ia hadir dengan tim dari Denpasar untuk belajar bersama.

Ada banyak cerita seru dalam mosaik-mosaik selanjutnya. Saya sangat ingat ketika kami lanjut berkegiatan di Angseri, dekat permandian air panas di dataran tinggi Tabanan, kalau Kak Heka semangat sekali membantu. Bersama banyak sahabat-sahabat lainnya, ia bekerja bersama untuk mengajar dan membuat semua pihak tersenyum. Bahkan, ini satu pengingat kuat bagi saya, ia bisa mendatangkan kolaborasi dengan kelompok-kelompok seni yang membantu membuat taman sekolah di Angseri. Kita paham bersama, masa anak-anak adalah lebih banyak bermain, sehingga keberadaan ruang bermain yang menumbuhkan dan membahagiakan sangat penting.

Ada dua kelompok pelukis yang datang, dan mereka menghasilkan kolaborasi nyata keren. Saya sangat ingat bahkan, ketika pengerjaan taman sekolah ini sampai harus menginap untuk lanjut besoknya, Kak Heka lah salah satu yang bersedia dan bertanggung jawab, ikut menginap dan menyelesaikan pembuatan taman sekolah ini. Tanpa pamrih, tanpa kepentingan. Sehingga akhirnya, projek literasi dan pengerjaan taman sekolah SD di Angseri tuntas dan indah. Selain itu, sahabat-sahabat lain sangat berandil besar. Ada yang membantu kegiatan belajarnya, ada yang membantu pengadaan buku, ada yang membantu perpustakaan sekolahnya. Kita paham pasti, perpustakaan di banyak tempat di Indonesia bisa tidak terawat bail bahkan tidak ada terpinggirkan oleh keperluan lain yang dianggap lebih penting.

Ketika ada presentasi ke Solo, Kak Heka mengaiukan rencana riset ke saya dan bersama-sama, kami merapikan dan mencoba menyampaikan hasil kegiatan literasi di forum ilmiah untuk kajian bahasa berbantuan teknologi. Menurut saya, ini momen penting mengingat ia bukanlah dari area pendidikan, namun sastra Inggris, sehingga ketika ada keinginan kuat belajar, disinilah proses tumbuh bisa terjadi. Tentu arah ke depannya masih bisa kemana saja seiring waktu. Ia bahkan harus berangkat sendiri dari Bali, karena di saat bersamaan saya terbang dari tempat yang berbeda setelah undangan lainnya. Bersyukur, saat itu ada dua rekan yang akan presentasi riset bertim dengan saya juga berangkat sehingga bisa bersama-sama paling tidak untuk di awal.

Momen keren dan memorable lainnya adalah ketika pergi ke Kamboja, untuk presentasi di CamTESOL, sebuah forum akademik di level Asia Tenggara. Seperti sebelumnya, persiapan kami lakukan bersama. Dan perlu saya sampaikan, ini datang semua inisiatif dari Kak Heka sendiri. Saya hanya membantu. Sampai akhirnya, keberangkatan. Sore, saya sudah sampai di bandara Ngurah Rai. Menyusul kemudian Kak Heka. Kami check in dan bersiap berangkat di malam hari menuju Kuala Lumpur untuk transit. Perjalanan cukup lancar dan seperti biasa, kami melihat-lihat beberapa pojok KLIA di malam hari. Sudah banyak yang tutup sih hehe. Kami istirahat di bandara saja dan pagi harinya bersiap menuju Pnom Penh. Ketika kami tiba, saya ajak menuju hotel dan bersiap ke beberapa tempat. Saat itu, saya juga sedang diundang sebagai salah satu speaker sehingga tetap harus mempersiapkan presentasi. Kegiatan berjalan lancar, beberapa tempat kami kunjungi, bersama Mr Black, supir Tuk Tuk kami yang lucu. Ada perjalanan melihat sungai Mekong yang luas itu, sambil menikmati jangkrik dan minuman penghangat. Ada juga perjalanan keren menembus malam dengan sleeper’s bus menuju Siem Riep dan menjelajah Angkor Wat.

Ada banyak momen keren lainnya yang bisa saya ingat terkait Kak Heka. Di Bedugul, saya sempat berbincang akan tawaran membantu salah satu bidang di Bali Edukasi, namun saya ingat ia mengatakan masih baru akan belajar. Dan itu hal positif karena seiring waktu setelah ngobrol tersebut, ia kemudian banyak terlibat dan menjadi pelopor seperti yang saya ceritakan di atas.

Di momen selanjutnya, Kak Heka juga hadir sering di Pejuang Beasiswa Bali, salah satu wadah lain untuk berbagi pada negeri. Disini, banyak sekali yang membantu dan mencoba mencari beasiswa luar negeri. Bagi sahabat yang masih belum punya informasi awal, banyak belajar disini untuk menyiapkan diri sejak dini. Bagi yang sudah lebih matang, pertemuan dengan banyak orang yang bertujuan positif sama memberi semangat dan motivasi positif berganda. Ada banyak sekali cerita tentang sukses dan gagal disini terkait yang melamar beasiswa. Ada yang sudah berkiprah lebih dengan jalannya masing-masing. Ada yang beiringan tumbuh bersama keluarga. Ada yang mencoba jalan lain meski tidak dengan beasiswa, atau ke luar negeri. Ada yang tak pernah berhenti mencoba, meski sering gagal. Kak Heka adalah salah satunya.

Sudah lumayan lama saya tidak bertemu Kak Heka. Rasanya terakhir bertemu makan siang di sebuah hotel ketika saya ada di sana, kira-kira 2 tahun lalu, mungkin lebih. Meski demikian, saya juga bangga melihat ia bergerak lanjut dengan wadah-wadahnya, seperti Kelasku, Educare, Global Sharpers dan lainnya dan profesinya sebagai pendidik di sebuah sekolah di Denpasar. Itu bagus menurut saya, dan membuat terharu, karena ia mampu meneruskan ide sendiri dengan jalannya sendiri dengan positif.

Suatu malam, ia chat saya. Saya yang kebetulan masih on langsung menjawab. Ia ingin nelpon dan karena sudah malam, kita sepakati besok paginya saja. Setelah beberapa kali mundur karena sama-sama occupied, saya menerima telponnya. Momen bangga sekaligus haru langsung menyeruak ke hati saya. Ia lolos beasiswa ke Swedia! Ini berita yang sangat membanggakan, paling tidak bagi saya pribadi. Sangat bahagia dan terharu rasanya. Berkali-kali percobaan, kegagalan tidak membuat Kak Heka menyerah. Ada momen kehilangan ibunda di sela berita ini. Ada juga momen menikah dengan Kak Wida, yang juga membantu di Bali Edukasi sebelumnya. Saya yakin ia meresapinya dengan sangat mendalam, sebuah proses kontemplasi menjadi utuh.

Tangan ini hanyalah tangan kecil. Saatnya Kak Heka bersama dengan orang-orang tercinta, merangkul mimpi-mimpi, tak lupa dengan Ibu Pertiwi. Ini hanya awal, tentu perjalanan masih sangat panjang dan berliku. Semoga dilancarkan dan sukses ya! Terima kasih sudah menjadi pejuang beasiswa sejati dan mohon melanjutkan menumbuhkan tunas-tunas negeri.

Tulisan ini dibuat di Taman Ayodya, 9 Mei 2021. Hari ini, 24 Agustus 2021, Kak Heka sedang terbang menuju Eropa. Selamat Kak sekali lagi, saya bangga dan terharu. All very best wishes.

@mhsantosa (2021)

2 thoughts on “Tangan Kecil untuk Kak Heka Menuju Swedia

  1. Gede Sutanya says:

    Luar biasa pak Herry. Saya dari dulu mimpi dapat beasiswa belajar ke luar negeri. Sampai sekarang belum kesampaian. Ternyata sekarang usia sudah mulai uzur.
    Ini sekarang hanya berharap semoga anak saya a.n Ayu Mirah Prihandani,. Anak asuh bapak dulu di kampus Undiksha bisa mendapat bea siswa.belajar ke luar negeri pak.
    Untuk itu mohon bimbingannya pak Herry.
    Terima kasih dan semoga tetap sehat dan bahagia sekelurga pak Herry.

    1. Made Hery Santosa says:

      Nggih suksma Pak Gede, sehat-sehat nggih. Semangat selalu, cita2 kita tetap bs dilanjutkan oleh anak atau yg lain yg memang ingin mencobanya šŸ˜ŠšŸ™

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s